Kiai Mahfudz Termas, Pewaris Terakhir Hadist Bukhori (1)

1
270
Kiai Mahfudz Termas.

Nusantara.news, Jawa Timur – Islam Nusantara sudah ada sejak abad ke-16 Masehi. Dipelopori oleh Syekh Yusuf al-Makasari, kemudian dikuatkan oleh Syekh Khatib al-Mingkabawi (Minangkabau) dan Syekh Khatib al-Sambasi (Sambas) menjadikan kiprah ulama Nusantara di Mekkah semakin menjulang tinggi di bidang ilmu pengetahuan dan pemikiran Islam.

Salah satu ulama nusantara paling berpengaruh dan memiliki reputasi di dunia Islam adalah Kiai Mahfudz Termas atau dikenal Syekh Mahfudz Al-Tarmasi (Termas). Nama aslinya Muhammad Mahfudz. Dilahirkan di Desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Kresidenan Madiun (Provinsi Jawa Timur), pada 12 Jumadil Awal 1285 H bertepatan 31 Agustus 1868.

Ayahnya Kiai Abdullah, pengasuh pondok pesantren Tremas yang didirikan oleh kakeknya, Kiai Abdul Manan (nama kecilnya R. Bagus Darto/ R. Bagus Sudarot) tahun 1830, setelah menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantren Gebang Tinatar Tegalsari Ponorogo asuhan Kiai Hasan Besari.

Kiai Abdul Manan putra R. Demang Dipomenggolo yang diambil menantu pamannya Demang Tremas Raden Ngabei Honggowijoyo dan mereka keturunan Kethok Jenggot, punggawa kesultanan Surakarta yang ditugaskan membuka lahan (babat alas) Pacitan sehingga menjadi perkampungan yang semakin ramai.

Pada saat umur 6 tahun, Kiai Mahfudz sempat dibawa ayahnya ke Mekkah tahun 1264H /1848M. Di Mekkah, sang ayah memperkenalkan beberapa kitab penting kepadanya. Kiai Mahfudz menganggap Kiai Abdullah lebih dari sekedar seorang ayah dan guru. Dia menyebut sebagai murobbi waruhi (pendidikku dan jiwaku). Dalam usia yang masih belia, Kiai Mahfudz dengan mudah menghafal al-Qur’an. Tidak hanya itu, berkat ketekunannya dalam belajar, dalam masa yang relatif singkat, dasar-dasar ilmu agama ia pelajari dari beberapa guru sekitar tempat tinggalnya dapat dikuasainya dengan baik.

Adapun yang dipelajari dari ayahnya adalah ilmu tauhid, ilmu Al Quran, dan Fikih. Dari ayahnya beliau mengkaji kitab Syarah al Ghayah li Ibni Qasim al Ghuzza, al Manhaj al Qawim, Fath al Mu’in, Fath al Wahab, Syarh Syarqawi ‘ala al Hikam dan sebagian Tafsir al Jalalain.

Dalam Kitab Muhibah zil Fadhli jilid ke-4 yang merupakan salah satu karya Kiai Mahfudz, dikatakan bahwa semasa mudanya dia sangat haus akan ilmu. Setelah belajar dari sang ayah, beliau lantas memilih merantau ke Semarang untuk belajar kepada Kiai Muhammad Saleh bin Umar as-Samaranji, salah seorang ulama besar di Jawa pada abad ke-19 yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai Saleh Darat (1820-1190 M). Menurut data sejarah, saat belajar ke Kiai Saleh Darat, Kiai Mahfudz satu halaqah bersama salah seorang pahlawan nasional, yakni R.A Kartini dan beberapa tokoh lainnya.

Setelah beberapa tahun, Kiai Mahfuz meneruskan pengembaraan ilmunya ke Mekah. Di sinilah kemudian beliau memantapkan pengembaraan intelektualnya dengan berguru kepada beberapa ulama terkemuka, seperti Al Allamah As Sayyid Abi Bakr bin Muhammad Syatha Al Makki, yang merupakan pijakan Kiai Mahfudz dalam periwayatan hadits. Beliau juga memperoleh ilmu qira’at 14 dari Al Allamah Syeikh Muhammad As Syarbini Ad Dimyathi. Maka, dimulailah ideologi Kiai Mahfudz. Karena bila dilihat dari corak pemikirannya tentang fiqih, maka Syeikh Muhammad As Syarbini Ad Dimyathi merupakan ulama fiqih syafii yang sangat disegani. Karya-karya besarnya banyak dikaji di beberapa pesantren dan perguruan tinggi Islam di Indonesia. Adapun karya yang dimaksud adalah I’anatut Thalibin Syarah Fathul Mu’in.

Rupanya rasa dahaga Kiai Mahfudz akan ilmu pengetahuan tidak hanya dalam wilayah fiqih saja. Dari sekian banyak karya-karya yang telah ditelurkan dalam bentuk kitab dan buku, kesemuanya bervariasi dan terdiri dari berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan. Salah satu ilmu yang beliau tekuni adalah ilmu hadis. Hal itulah yang kemudian melatarbelakangi kesungguhan Kiai Mahfudz dalam menghimpun beberapa transmisi sanad atau mata rantai keilmuan.

Ya, Kiai Mahfudz boleh dibilang merupakan pewaris terakhir dari pertalian penerima (isnad) hadits dari 23 generasi (secara berturut-turut) penerima Hadist Shahih Bukhori. Urutan isnad-nya sebagai berikut: Imam al Bukhori (Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah (194-256 H/810-870 M), Imam Al-Hafidz Al-Hujja’, Imam Muhammad bin Yusuf bin Matar al-Farbasi, Imam Abdullah bin Ahmad, Syeikh Abdul Hasan Abdurahman bin Mudhofar Ad-Daud, Imam Al-Hambali, Imam Al-Hasan bin Al Mubaraq Az-Zubaidi, Syeikh Ahmad bin Thalib Al-Hajar, Syeikh Ibrahim bin Muhammad, Syeikh Ahmad bin Hajar Al-Asqolani, Syeikh Islam Zakaria Al-Ashari Al-Hafidz, Syeikh Muhammad bin Ahmad al Ghaisi, Syeikh Salim bin Muhammad As-Sauhari, Syeikh Muhammad bin Alauddin Al-Babili, Syeikh Abdullah bin Salam Al-Bashri, Syeikh Salim bin Abdullah bin Salim al Bashri, Syeikh Muhammad Ad-Dafri, Syeikh isa bin Muhammad Al-Barawi, Syeikh Muhammad bin Ali Asy-Sarwani, Syeikh Usman bin Hasan Ad-Dimyathi, Syeikh Ahmad bin Zaini, Syeikh Abu Bakar bin Muhammad Syatho’ ad-Dimyathi, dan terakhir Syeikh Mahfudz bin Abdullah At-Termasi atau Kiai Mahfudz.

Sanad ulama Nusantara melalui Kiai Mahfudz sebagai generasi ke-23 penerima Shahih Bukhori.

Kiai Mahfudz memang memiliki karya khusus yang mencatat semua sanad dari setiap ilmu yang beliau pelajari. Kumpulan sanad tersebut terdapat dalam karyanya yang berjudul Kifayah al Mustafid. Wajar jika dia sangat termashur. Karena menguasai disiplin ilmu itulah, sehingga Syeikh Yasin bin Isa Al Fadani Al-makki (1917-1991) memberinya gelar kehormatan Kiai Mahfudz sebagai alamah (seorang alim) muhaddist (ahli hadist), musaid (mata rantai sanad hadist), faqih (ahli fiqih), dan muqri (ahli qira’ati) serta mursyid thariqat syadizliyah. Tidak hanya itu, dia juga dikenal sebagai ulama mullaif ( pengarang kitab) yang produktif untuk disiplin ilmu keislamaan monumental dan bermutu tinggi.

Gurunya Ulama Nusantara

Ketika sedang asyik mendalami ilmu-ilmu keislamaan di Tanah Suci, ayahandanya yang sudah uzur sempat memanggilnya untuk pulang bersama Kiai Dimyathi, adiknya dan rekan belajarnya Kiai Kholil Bangkalan. Namun beliau malah menyuruh adiknya pulang kampung untuk meneruskan kepemimpinan di pesantren Tremas dan minta izin ayahnya untuk melanjutkan tugas belajarnya di Mekkah.

Kiai Mahfudz semakin bertambah ilmunya. Dalam menuntut ilmu, beliau benar-benar bermujahadah dengan terjaga di malam hari, hingga terlihat kelebihan beliau dalam hadits dan ilmu-ilmunya, juga menguasai fiqih dan ushulnya, serta ilmu qira’at. Sehingga para gurunya memberikan izin untuk mengajar. Kiai Mahfudz mengajar di Bab As Shafa Masjid Al Haram dan di rumah tempat beliau tinggal. Kiai Mahfudz mulai mengajar di Masjid al Haram sejak tahun 1890 M.

Selain keilmuannya yang diakui dunia, beliau juga menjadi kebanggaan bangsa. Dengan kualitas keilmuan yang berkaliber Internasional dan menjadi guru besar serta pengajar tetap di Masjid al Haram, ada satu hal yang dianggap sebagai kemajuan dari perkembangan Islam di Nusantara, yakni adanya parameter yang menjadi konfrensi para ulama yaitu para pelajar di Mekkah baru dianggap berhasil menyempurnakan keilmuannya, apabila ia telah memperoleh tarbiah dari para ulama-ulama masyhur tersebut.

Sedang metode belajar yang digunankan dalam proses kegiatan keilmuan di Masjid al Haram adalah metode halaqah, yaitu murid-murid duduk mengelilingi guru atau orang yang berilmu. Metode halaqah telah ditetapkan sebagai metode belajar yang utama dalam proses keilmuan di Masjid al Haram.

Kegiatan halaqah diselenggarakan setiap hari setelah shalat Subuh, Ashar, Maghrib dan Isya. Selama siang kegiatan keilmuan berpindah ke madrasah sekitar Masjid al Haram. Dalam hal ini Kiai Mahfudz mengajarkan perbandingan hadist dan ulum al hadist, yang merupakan bidangnya.

Ada pula beberapa macam-macam metode yang digunakan dalam proses keilmuan. Pertama, guru membaca kemudian menjelaskan. Kedua, guru membaca kemudian murid menjelaskan. Ketiga, murid membaca di hadapan guru lalu sang guru memberikan koreksi terhadap bacaan murid. Dalam ketiga metode tersebut juga dilakukan tanya jawab antara guru dan murid.

Kiai Mahfudz memang memiliki ciri khas tersendiri dalam mengkaji ilmu yang diajarkannya. Beliau sering kali menggunakan bahasa Arab yang fuskha (fasih) sebagai pengantar dan diselingi dengan bahasa Jawa. Hal ini tidak lepas banyaknya santri atau murid yang mengkaji kitab bersama Kiai Mahfudz adalah orang Jawa, meskipun banyak juga santri atau murid berasal dari luar Jawa, bahkan luar negeri seperti India, Thailand, Syiria, Malaysia.

Kiai Mahfudz dikenal sebagai guru yang menarik dan memiliki pengikut sekitar 4.000 orang dari berbagai penjuru dunia. Angka tersebut didasarkan pada rentang waktu di mana beliau mengajar di Masjidil Haram, yang berjalan secara efektif sejak awal tahun 1890M hingga abad XX.

Kiai Mahfudz merupakan ulama yang tingkat keilmuannya diakui oleh dunia Islam. Bukti diakuinya adalah dengan banyaknya murid atau santri yang berdatangan untuk belajar kepada beliau. Murid atau santrinya tidak hanya berasal dari tanah air Indonesia saja, tetapi juga luar negeri. Hal ini dikarenakan minat belajar dari para pemuda Asia tenggara untuk belajar di Haramain cukup tinggi.

Menjadi kebanggaan mukmin al-Jawi sebagai imam dan guru, beliau diakui sebagai gurunya para ulama nusantara saat mereka belajar di tanah suci. Jaringan transmisi ilmu pengetahuan berskala dunia ini telah menaikkan reputasi Kiai Mahfudz.

Kemasyhurannya menjadi mitos yang mengakar kuat dalam masyarakat. Lebih penting lagi, para ulama dan pemimpin pesantren berpengaruh memperoleh manfaat besar dari ajaran-ajarannya.

Dari beliau lahirlah ulama-ulama hebat, baik yang berasal dari tanah Jawa maupun Arab. Mereka adalah Kiai Raden Dahlan As Samarani (Semarang), Kiai Muhammad Dimyathi At Tarmusi (Termas), Kiai Khalil Al Lasimi (Lasem), Kiai Muhammad Hasyim bin Asy’ari Al Jumbani (Jombang), Kiai Muhammad Faqih bin Abdi Al Jabbar Al Maskumbani (Maskumambang), Kiai Baidhawi, Kiai Abdu Al Muhaimin putra Abdul Aziz Al Lasimi, Kiai Nawawi Al Fasuruwani (Pasuruan), Kiai Abbas Buntet As Syirbuni (Cirebon), Kiai Abdul Muhith bin Ya’kub As Sidarjawi As Surabawi (Sidoarjo-Surabaya).

Kemudian ada As Syeikh Muhammad Al Baqir bin Nur Al Jukjawi (Jogja), Kiai Ma’shum bin Ahmad Al Lasimi (Lasem), Kiai Shiddiq bin Abdillah Al Lasimi (Lasem), Kiai Abdul Wahhab bin Hasbullah Al Jumbani (Jombang).

Sedangkan para ulama Arab yang mengambil periwayatan dari Kiai Mahfudz adalah Al Muhaddits Syeikh Habibullah As Syanqithi, Muhaddits Al Harmain As Syeikh Hamdan, Syeikh Ahmad Al Mukhalilati, Syeikh Umar bin Abi Bakr Ba Junaid Al Makki, Syeikh Muhammad Abdul Baqi Al Ayubi Al Laknawi. bersambung  

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here