Kiai Mahfudz Termas, Pewaris Terakhir Hadist Bukhori (2)

0
238
Potret ulama Nusantara yang bersanad dengan ulama besar di Mekkah, termasuk memiliki periwayatan dengan Kiai Mahfudz.

Nusantara.news, Jawa Timur – Sebagai isnad (mata rantai) yang sah dalam transisi intelektual Hadist Shahih Bukhori, Kiai Mahfudz memberikan ijazahnya kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Ijazah tersebut berasal langsung dari Imam Bukhori sendiri yang ditulis sekitar 1000 tahun yang lalu dan diserahkan secara berantai melalui 23 generasi ulama yang telah menguasai Shahih Bukhori. Dan, Kiai Mahfudz termasuk generasi ke-23 sekaligus pewaris terakhir Shahih Bukhori.

Adapun ulama ke 24 yang berhak menyampaikan Shahih Bukhori yang memenuhi kelayakan dipercayakan kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Kepada para santrinya, Kiai Hasyim Asy’ari kerap memberikan saran untuk menemui langsung Kiai Mahfudz di Mekkah bila ingin belajar hadist. Sebab Kiai Mahfudz adalah seorang guru Hadist yang telah mendunia. Para pakar dan pengajar di Universitas Al-Azhar Cairo menganggapnya sebagai salah satu syarh terbaik dalam nadzam ilmu atsar.

Tidak bisa dipungkiri Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) tersebut memang memiliki kedekatan cukup unik dengan Kiai Mafudz. Sebagai guru dan murid, Kiai Mahfudz lantas mewariskan kitab pribadinya sebagai kenang-kenangan kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Di antara pemberian Kiai Mahfudz kepada Kiai Hasyim Asy’ari yaitu berupa kitab berjudul Hasyiyah al-Futuhat al-Ilahiyah ‘ala al-Jalalayn.

Pada halaman akhir kitab itu terdapat goresan tangan indah dan ungkapan doa Kiai Mahfudz saat menghatamkan kitab tafsir tersebut di bawah bimbingan gurunya, Sayyid Abi Bakar Syatha Makkah. Kitab tersebut ditemukan di antara koleksi kitab milik Kiai Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng Jombang.

Kiai Mahfudz boleh dibilang penulis produktif. Dia mengarang sejumlah kitab tentang berbagai disiplin keislaman. Seluruhnya ditulis dalam bahasa Arab. Dalam menulis, konon Kiai Mahfudz ibarat sungai yang airnya terus mengalir tanpa henti. Gua Hira menjadi tempatnya mencari inspirasi.

Beliau biasa menghabiskan waktunya di gua tempat Nabi SAW menerima wahyu-Nya yang pertama itu. Kecepatan Mahfudz dalam menulis kitab, juga boleh dibilang istimewa. Kabarnya, kitab Manhaj Dhawi al-Nazhar beliau selesaikan dalam 4 bulan 14 hari. Kiai Mahfudz mengatakan bahwa kitab ini ditulis ketika berada di Mina dan Arafat.

Kiai Mahfuz termasuk salah seorang ulama nusantara yang banyak menghasilkan karangan dalam bahasa Arab seperti halnya ulama-ulama nusantara lainnya yang bermukim di Mekkah, seperti Syeikh Nawawi al-Bantani, Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau dan Syeikh Abdul Hamid Kudus.

Pioner Ilmu Sanad

Kecerdasan Kiai Mahfudz juga nampak pada bidang fikih dengan tulisan berupa kitab Muhibbah dzi al-Fadl sebanyak 4 jilid besar. Kitab ini berisikan syarh dari kitab yang dikarang oleh Ibnu Hajr al-Haitami.

Dalam bidang ushul fiqh beliau mengarang kitab Nail al-Ma’mul bi Hasyiah Ghayah al-Wushul fii ‘Ilmi Ushul, dan kitab Is’af al-Matholi’bi Syarh Budur al-Lami’ Nadham Jam’ al-Jawami’. Beliau juga menuliskan kitab Fikih yang fokus dalam hal faraid, karena beliau menganggap faroid sangat penting bagi keadilan sosial umat islam, kitab yang belaiu tulis adalah  kitab Hasiyah Takmilah al-Manhaj al-Kowin ila al-Faraid.

Dalam bidang tasawuf, tarekat Syadilliyah menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam diskursus religious intelektual para ulama Jawa. Dalam bidang tasawuf Kiai Mahfudz mengarang kitab Bughyah al-Adzkiya’i fii al-Bahts an Karomah al-Auliya’ dan kitab Inayah al-Muftakir fiimaa Yata’alaq bi Sayyidina al-Hadhar, begitupun dengan perkembangan thoriqoh Syadiliyah di Nusantara yang tidak lepas dari peran Kiai Mahfudz.

Kiai Mahfudz juga mendalami bidang sejarah, beliau menuliskan kitab Tahayu’ah al-Fikr bi Syarh al-Fiah AsairFath al-Khabir bi Syarh Miftah as-Sair, dan kitab Tsikhoyah al-Mardiyyah fil Asma al-Kutb al-Fiqhiyah asy-Syafi’iyah.

Syaikh Mahfudz tidak hanya dikenal sebagai guru hadist yang memberi ijazah hadist dan ilmu hadist, tetapi juga dikenal dengan Maha Guru Qiro’ah Sab’ah, khususnya dari Qiro’at al-Imam al-Asyim. Silsilah sanad dan ijazahnya dapat ditemui pada para huffadz dan Qurro’ di Jawa.

Misalnya, pada mata rantai sanad yang ada di Pondok Pesantren Putri Tahfidz Al-Quran Al-Aziziah, Beringin, Semarang. Dalam mata rantai sanad tersebut, Ibu Nyai Azizah menerima ijazah dari Kiai Tirmidzi Taslim Semarang, dari Kiai Muhammad bin Syaikh Mahfudz At-Tarmasi dari Syaikh MahfudzAt-Tarmasi, yang bersambung sampai Imam Asyim dari Abdurrohman dari Utsman bin ‘Affan dari Ubai bin Ka’ab dari Rasulullah SAW.

Saat ini sanad ijazah membaca al-Qur’an riwayat Imam Asyim baik pembacaan dengan melihat (bin-nadhar), maupun hafalan (bil-ghaib) yang ada di berbagai pesantren di Jawa, mayoritas melalui dua sanad. Yang pertama, dari Kiai Mahfudz at-Tarmasi yang bersambung kepada Imam Asyim. Yang kedua, dari Syaikh Arwani Kudus, dari Syaikh Muhammad Munawir dari Syaikh Yusuf adh-Dhimyathi bersambung kepada Imam Asyim.

Hasil pemikiran beliau yang ditulis, terdapat kurang lebih 20 kitab dari berbagai disiplin ilmu, dari beberapa kitab yang ia tuliskan terdapat beberapa bagain. Seperti halnya, as-Siqoyah Al-Mardiyah fi Asma Al-Kutb Al-Fiqhiyah Asy-Syafi’iyah dalam 3 bagian, al-Minhah Al-Khoiriyyah fi ‘Arbain Haditsan min Ahadits Khoir Al-Bariyah dalam 2 bagian, Al-kil’ah al Fiqriyah bi Syarh Al-Minhah Al-Khoiriyyah 13 bagian, Al-Is’af Al-Matoli bi Syarh Al-Lami’ Nadhom Jam’ AlJawami’2 jilid, Tahayu’ah Al-Fikr bi Syarh Al-Fiah As-Sair 14 bagian, dan lainnya.

Salah satu kitab karangan Kiai Mahfudz yang disimpan di Pondok Tremas, Pacitan, Jawa Timur.

Di samping menjaga tradisi para salaf dalam mencari ilmu, memperoleh ilmu dengan cara mengambil dari guru yang memiliki sanad sampai ke penulis kitab, bisa meminimalkan kesalahan pemahaman mengenai isi kitab tersebut.

Sedangkan Kiai Mahfudz mencatat sanad yang beliau miliki, juga dalam rangka meneladani para ulama sebelumnya. Sebagaimana juga Imam An Nawawi menjelaskan bahwa hendaknya pengajar ilmu dan para pencarinya memahami sanad, dinilai buruk bagi mereka yang jahil terhadapnya, karena para guru manusia dalam ilmu merupakan bapak-bapak mereka dalam dien, yang menyambungkan antara dia dan Rabb Al Alamin.

Sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar secara marfu, “Ilmu adalah dien dan shalat adalah dien. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil ilmu dan bagaimana kalian melaksanakan shalat tersebut. Sesungguhnya kalian ditanya pada hari kiamat.” (Riwayat Ad Dailami)

Dalam tradisi para ulama, buku yang ditulis seorang ulama untuk menjelaskan para guru dan periwayatan dari mereka, disebut sebagai tsabat, dengan bentuk plural atsbat. Yang kemungkinan berasal dari kata at tsabt, yang bermakna hujjah.

Dengan demikian kitab tersebut merupakan hujjah bagi penulisnya, karena disebutkan di dalamnya para guru dan sanadnya. Hal ini berlaku bagi ahlu al masyriq, yakni mereka yang hidup di belahan bumi bagian timur. Sedangkan kalangan ahlu al maghrib (penduduk dunia bagian barat) menyebutnya sebagai fahras.

 Neo Ibnu Hajar ala Islam Nusantara

Sayang, banyak karangan Kiai Mahfudz yang belum dimanuskripkan ulang, dicetak dan ada pula yang dinyatakan hilang. Menurut informasi, karangan Kiai Mahfudz seluruhnya mencapai sekitar 43 buah. Hanya saja, yang telah diterbitkan baru sekitar 20 buah kitab.

Banyaknya tulisan beliau yang belum berhasil dituliskan, dicetak bahkan hilang merupakan hal yang memprihatinkan. Sebab hasil pemikiran beliau adalah ilmu yang belum mudah didapatkan. Beberapa manuskrip kitab Kiai Mahfudz ada yang sampai di Tremas karena dengan sengaja dititipkan oleh Kiai Mahfudz melalui jamaah haji yang hendak pulang ke Indonesia.

Salah satu penyebab hilangnya manuskrip kitab-kitab Kiai Mahfudz adalah maraknya gerakan komunis PKI pada akhir tahun 1940-an. Hanya beberapa kitab Kiai Mahfudz yang berhasil di selamatkan oleh keturunannya di Perguruan Islam Pondok Termas.

Pada tahun 1965 manuskrip-manuskrip kitab Kiai Mahfudz hilang pada saat terjadi banjir besar. Manuskrip yang berhasil diselamatkan kemudian dikirimkan oleh Kiai Luqman Harits Dimyathi (cucu Syaikh Dimyathi) kepada Kiai Hariri (cucu Kiai Mahfudz) di Demak, Jawa Tengah.

Keberhasilan Kiai Mahfudz menjadi ulama besar yang disegani tidak lepas dari peran para guru yang membimbingnya di berbagai macam aspek. Bimbingan yang diterima dari sang guru tidak hanya dalam ranah intelektual saja, kecerdasan emosional, dan spiritualnya pun menjadi bagian dari bimbingan yang setiap hari beliau terima di masa belajarnya.

Bila melihat disiplin ilmunya, boleh dibilang Kiai Mahfudz memiliki semacam keterkaitan batin dengan Ibnu Hajar al-Haitami. Keterkaitan tersebut hampir menyerupai keterikatan antara Jalaluddin al-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahalli walaupun mereka berdua hidup di tempat dan di waktu yang berbeda. Ya, Kiai Mahfudz merupakan neo Ibnu Hajar al-Haitami ala Islam Nusantara.

Jika mengkaji beberapa karya Kiai Mahfudz yang mempunyai hubungan erat dengan Ibnu Hajar al-Haitami, maka karya yang tepat untuk dijadikan fokus utama adalah Mauhibah dzi al-fadhl Hasyiah Ala Syarhi Mukhtashar Bafadhal yang tidak lain Syarah yang diulas oleh Ibnu Hajar, lalu diulas lagi secara luas dan lebih detail oleh Kiai Mahfudz Termas, tentunya dalam konteks kenusantaraan.

Masyarakat Indonesia yang dalam pandangan fiqih mengikuti madzhab Syafii, menjadikan semua rujukan masalah keagamaan bersandar pada Kutub al-Syafiiyah.

Tidak semua kitab fiqih Syafii tersebut berhasil menjadi jawaban permasalahan sosial yang terjadi di Indonesia. Artinya adalah paradigma fiqih yang ada pada saat itu masih dalam konteks Timur Tengah sentris, dan tidak mengglobal sampai pada Asia Tenggara, terlebih Indonesia. Berangkat dari fenomena tersebut Kiai Mahfudz mencoba memperluas lagi ulasan Ibnu hajar al-Haitami dalam konteks kenusantaraan dan keindonesiaan.

Adapun kitab Mauhibah dzi al-fadhl Hasyiah Ala Syarhi Mukhtashar Bafadhal yang ditulis Kiai Mahfudz, menurut kalangan ulama, merupakan salah satu ulasan tentang fiqih Imam Syafii yang paling detail, luas dan komprehensif. Dengan kata lain, nuansa fiqih di dalamnya tidak an sich terhadap teks-teks, namun disesuaikan dengan dinamika sosial yang ada pada masyarakat Indonesia. Hal ini juga diamini oleh sang pentahqiq, yaitu Dr. Muhammad Abdurrahman al-Ahdal dalam muqaddimahnya di kitab tersebut.

Kitab setebal 6 jilid ini bukan hanya mengulas berbagai macam problematika umat berdasar ruang lingkup fiqih, namun juga mengulas hal-hal penting dan yang dibutuhkan dalam mengurai istilah kontemporer dalam konteks kebahasaan.

Dengan merujuk kepada beberapa kamus besar seperti Muktar al-Shihhah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar Abdul Qadir al-Razi, Tahdzib al-Lughah karya Syekh Abu Mansur Muhammad bin Ahmad al-Azhari, dan al-Qamus al-Muhith karya Syekh Muhammad bin Ya’qub al-Fairuzzabadi, menjadikan kitab Hasyiah Tirmisi ini kaya akan defenisi istilah, sehingga pembahasannya pun tidak keluar dari konteks yang telah digariskan pada awal bab dari masing-masing bab.

Kitab Hasyiyatuttamsi karangan Kiai Mahfudz At Tarmasi.

Yang menarik pada kitab ini adalah kemampuan Kiai Mahfudz dalam mengambil istinbat secara kontekstual dari berbagai pendapat para ulama sebelumnya setelah melakukan uji pendapat dan perbandingan di antara pendapat para mujtahid fatwa semisal Ibnu Hajar al-Haitami yang dalam hal ini lebih kontekstual daripada Imam Syihabuddin al-Ramli yang dalam banyak pandangannya selalu tekstual dan terkesan kaku.

Kemampuan Kiai Mahfudz dalam mengurai hadits dalam konteks fiqih dan kemudian mengambil istinbat dari pendapat ulama, menjadikan kitab ini sehaluan dalam konteks dinamika sosial dan jauh dari kesan kaku dan konservatif pada nash.

Soal fiqih, memang berkaitan erat dengan dinamika sosial suatu masyarakat pada bangsa dan negara manapun. Nilai-nilai luhur Islam yang ajarannya menembus ruang dan waktu menjadikannya selalu relevan dalam setiap problematika yang ada, baik masa lalu, sekarang dan masa mendatang. Dan Kiai Mahfudz salah seorang ulama Nusantara yang secara khusus membahas problematika sosial kenusaantaraan dengan menawarkan fiqih dinamis yang tidak menabrak budaya, kaya akan khazanah keilmuan juga mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi.

Setelah bermukim dan mengajar ilmu di Mekkah selama 40 tahun, Kiai Mahfudz wafat di Mekkah pada hari Rabu, tanggal 1 Rojab 1338 H, bertepatan dengan 20 Maret 1920 M. Sejak beliau berangkat ke Mekkah, beliau memang berharap agar hidupnya berakhir di sana. Beliau dimakamkan di Ma`la, Mekkah, berdampingan dengan makam Sayidah Khadijah, Istri Nabi Muhammad SAW. Lokasi tersebut berada dalam pemakaman keluarga gurunya, Sayyid Abi Bakar Muhammad Shato.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here