Kiai Ridhwan Abdullah, Arek Suroboyo Pencipta Lambang NU (1)

0
496

Nusantara.news, Surabaya – Dikutip dari laman http://ppal-itqon.blogspot.com, kreatifitas, kecerdasan dan buah karya Ridhwan Abdullah, Arek Suroboyo anak sulung dari enam bersaudara hasil perkawinan Kiai Abdullah dan Nyai Marfu’ah (asal Cirebon), membuahkan karya menakjubkan, desain karyanya menjadi Lambang Nahdlatul Ulama (NU), dan dipakai sampai sekarang.

Karya besar Lambang NU, dikerjakan selama satu setengah bulan bersama Kiai Wahab Chasbullah dan Mas Alwi. Kiai Wahab Chasbullah menorehkan ide dan gagasan cemerlangnya. Sedang Mas Alwi yang mengusulkan nama NU.

Untuk mengetahui arti lambang NU tersebut, dalam Muktamar NU ke-2 dibentuk majelis khusus, dengan pimpinan sidang Kiai Raden Adnan dari Solo. Saat itu, pimpinan sidang meminta Kiai Ridhwan Abdullah menjelaskan arti lambang NU.

Kemudian, secara rinci Kiai Ridhwan Abdullah menjelaskan semua isi yang terdapat dalam lambang NU. Dijelaskan olehnya:

“Lambang tali adalah lambang agama. Tali yang melingkari bumi melambangkan Ukhuwah Islamiyah kaum muslimin seluruh dunia. Untaian tali yang berjumlah 99 melambangkan Asmaul Husna. Bintang besar yang berada di tengah bagian atas melambangkan Nabi Besar Muhammad SAW. Empat bintang kecil samping kiri dan kanan melambangkan Khulafaur Rasyidin, dan empat bintang di bagian bawah melambangkan madzhabul arba’ah (empat madzhab). Sedangkan jumlah semua bintang yang berjumlah sembilan melambangkan Wali Songo.”

Setelah mendengarkan penjelasan Kiai Ridhwan Abdullah, seluruh peserta majelis khusus sepakat menerima lambang tersebut. Kemudian, di Muktamar ke-2 Nahdhatul Ulama diputuskan secara resmi menjadi lambang NU.

Setelah upacara penutupan Muktamar, Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Ridhwan Abdullah dan menanyakan asal mula pembuatan lambang NU yang diciptakannya. Kiai Ridhwan Abdullah menyebut bahwa yang memberi tugas beliau adalah Kiai Wahab Chasbullah.

Kiai Ridhwan Abdullah juga menjelaskan, sebelum menggambar lambang NU, dirinya lebih dulu melakukan Shalat Istikharah, meminta petunjuk kepada Allah SWT. Hasilnya, Kiai Ridhwan Abdullah bermimpi melihat sebuah gambar di langit biru yang jernih. Bentuknya persis dengan gambar lambang NU yang kita kenal sekarang sekarang ini.

Setelah mendengar penjelasan Kiai Ridhwan Abdullah, Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari merasa puas. Kemudian beliau mengangkat kedua tangan sambil berdoa. Setelah memanjatkan doa beliau berkata: “Mudah–mudahan Allah mengabulkan harapan yang dimaksud di lambang Nahdhatul Ulama.”

Dikisahkan, Ridhwan yang kemudian dikenal sebagai Kiai Ridhwan Abdullah lahir dan dibesarkan di kampung Carikan Gang I, Praban, Kelurahan Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya Utara pada tahun 1884.

Kala itu, Ridhwan kecil menempuh pendidikan (setingkat sekolah dasar) di sebuah sekolah Belanda. Di sekolah itu dia mulai belajar teknik dasar menggambar dan melukis, selain mata pelajaran lainnya. Dia tergolong murid yang pintar, sampai-sampai ada seorang Belanda yang ingin mengambilnya sebagai anak.

Belum sampai tamat, orangtuanya mengirimnya ke Pesantren Buntet di Cirebon, Jawa Barat untuk mendalami agama Islam. Setelah lulus, beliau kemudian kembali mondok di sejumlah pesantren, di antaranya di pesantren yang diasuh Syeikh Kholil di Bangkalan, Madura. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here