Kiai Ridhwan Abdullah, Arek Suroboyo Pencipta Lambang NU (2 Habis)

0
184

Nusantara.news, Surabaya – Ini kisah unik yang pernah dialami Ridhwan Abdullah. Saat masih anak-anak dan aktif di pondok pesantren asuhan Syeikh Kholil di Bangkalan Ridhwan kecil, pernah oleh gurunya, Syeikh Kholil diteriaki maling. Saat meneriakan tangan sang ustadz menunjuk ke arah Ridhwan, “Ada maling,  ada maling,” teriak Syeikh Kholil ditujukan kepada Ridhwan.

Sontak dia lari pontang panting, ketakutan menghindari amukan para santri yang saat itu membawa berbagai alat pukul yang merangsek menghampirinya. Beruntung, saat itu Ridhwan berhasil lolos, terhindar dari diamuk para santri.

Sampai di rumah diceritakanlah apa yang dialami, kepada orang tuanya. Mendengar itu, ayahnya pergi ke Bangkalan untuk klarifikasi ke pengasuh pondok. Namun, alangkah terkejutnya Kiai Abdullah ayah Ridhwan, karena sebelum berucap sesuatu, Syeikh Kholil sudah lebih dulu membuka kata.

“Anakmu itu nakalan, wong sudah pinter, sudah banyak menguasai ilmuku, kok masih betah di sini, kalau tidak pakai cara itu, dia tidak akan mau pulang,” ujar Syeikh Kholil kepada Kiai Abdullah.

Sejak itu, Ridhwan yang mulai beranjak remaja, melanjutkan belajar ke Tanah Suci, Mekkah. Tahun pertama selama tiga tahun, periode 1901 hingga 1904, tahun kedua mulai 1911 hingga 1912. Kemudian tahun 1912, Ridhwan kembali pulang dan menetap di Surabaya.

Kiai Ridhwan Abdullah dikenal sebagai Kiai yang dermawan. Setiap anak yang berangkat mondok dan sowan ke rumah beliau, selain diberi nasihat juga diberi uang, padahal beliau sendiri tidak tergolong orang kaya.

Di kalangan ulama, Kiai Ridhwan Abdullah juga dikenal sebagai ulama yang memiliki ilmu pengetahuan agama dan pengalaman yang luas. Pergaulannya tidak terbatas di kalangan pondok pesantren. Pengembaraan intelektualnya mengantarkan dirinya bertemu dengan tokoh-tokoh nasionalis seperti Bung Karno, Dr. Sutomo, dan H.O.S Tjokroaminoto. Mereka kerap berdiskusi , apalagi tempat tinggalnya tidak berjauhan dengan rumah H.O.S Tjokroaminoto, di Bubutan Gang IV/20, tempat mondok Bung Karno saat bersekolah di HBS Surabaya.

Karyanya cukup menonjol di bidang seni lukis dan seni kaligrafi. Salah satu karyanya adalah bangunan Masjid Kemayoran Surabaya.

Perjuangan Kiai Ridhwan Abdullah

Kiai Ridhwan Abdullah tidak memiliki pondok pesantren. Tetapi beliau dikenal sebagai guru agama dan muballigh yang tidak kenal lelah. Beliau diberi gelar ‘Kiai Keliling’, karena kerap berkeliling mengajar dan berdakwah dari satu tempat ke tempat lainnya, sertadari satu surau ke surau yang lain. Kegiatan itu biasanya dilakukan pada malam hari. Wilayah yang rutin menjadi tempatnya mengajar adalah kampung Kawatan, Tembok dan Sawahan.

Sebelum Nahdhatul Ulama berdiri, Kiai Ridhwan Abdullah mengajar di Madrasah Nahdhatul Wathan (lembaga pendidikan yang didirikan oleh Kiai Wahab Chasbullah) tahun 1916. Kegiatan lainnya, aktif dalam kelompok diskusi Tashwirul Afkar (1918), dua lembaga yang menjadi embrio lahirnya organisasi Nahdhatul Ulama. Saat NU diresmikan, dirinya aktif di NU Cabang Surabaya dan menjadi wakil NU Surabaya dalam Muktamar NU ke-13 di Menes, Pandeglang, 15 Juni 1938.

Kiai Ridhwan Abdullah tidak bisa dipisahkan dari sejarah tumbuh dan berkembangnya Jam’iyah Nahdhatul Ulama. Di susunan pengurus NU periode pertama, Kiai Ridhwan Abdullah masuk menjadi anggota A’wan Syuriyah. Selain menjadi anggota Pengurus Besar NU, beliau juga masih menjabat sebagai pengurus Syuriyah NU Cabang Surabaya.

Saat perjuangan Kemerdekaan RI Kiai Ridhwan Abdullah ikut bergabung dalam Barisan Sabilillah. Pengorbanan beliau tidak sedikit. Seorang puteranya yang menjadi tentara PETA (Pembela Tanah Air) gugur di medan perang. Pada tahun 1948, beliau juga ikut berperang mempertahankan Kemerdekaan RI. Saat itu pasukannya sempat terpukul mundur sampai ke Jombang.

Jasa lainnya yakni mengusulkan agar para Syuhada yang gugur dalam pertempuran 10 Nopember 1945 dimakamkan di depan Taman Hiburan Rakyat (THR), yang kini menjadi Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa.

Kiai Ridhwan Abdullah meninggal dunia di tahun 1962, dimakamkan di Pemakaman Islam Tembok, Surabaya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here