Kilang BBM, Untungkan Siapa?

0
103

Nusantara.news, Jakarta – Kilang Tuban di tahun 2023 kapasitasnya diperkirakan akan mencapai 400 ribu barrel per hari atau naik sekitar 30% dari kapasitas awal. Pada saat itu kapasitas kilang nasional diperkirakan sudah mencapai 2,2 juta barrel per hari. Pertanyaanya adalah, apakah ini akan menguntungkan rakyat Indonesia atau asing?

Berkah dari kunjungan Raja Salman Bin Abdul Aziz salah satunya adalah kepastian pendanaan proyek RDMP kilang Cilacap di Jawa Tengah yang diperoleh dari Saudi Aramco. Sementara kilang Tuban, yang menggandeng rosneft perusahaan migas dari Rusia, saat ini proses AMDAL-nya belum selesai. Padahal, bulan Juli pembangunan akan dimulai.

Sementara itu di Tuban tercatat lahan seluas 337 hektare lahan yang digarap petani yang belum selesai tali asihnya kepada 1.130 petani penggarapnya, yang besarnya mencapai Rp6,74 miliar. Mereka pun belum tahu, ke mana akan bekerja jika akhirnya lahan yang mereka garap dibebaskan.

Di sisi lain PT. Pertamina (Persero) siap untuk menggarap kilang Tuban senilai US$14 miliar. Bukan hanya itu, kilang Bontang pun juga siap untuk direalisasikan. Kedua proyek tersebut  membuka begitu banyak lapangan pekerjaan.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Rachmad Hardadi mengatakan, dengan selesainya pembangunan Kilang Tuban pada 2021 mendatang dan Kilang Bontang pada 2023, setidaknya ada 250 insinyur yang harus direkrut setiap tahunnya.

“Sebanyak 40 persen tenaga kerja yang dibutuhkan berasal dari lulusan sarjana teknik, sedangkan 60 persen sisanya dari D3 dan strata SMA/SMK untuk operator dan teknisi,” ujar Rachmad, mengutip ANTARA, Rabu (1/3).

Selain itu, lanjutnya, pekerjaan fisik selama tiga tahun pembangunan akan melibatkan hingga 45.000 pekerja kontrak di lapangan. Bahkan, ia memprediksi efek ganda dari dua kilang baru ini lima sampai enam kali lipat.

Menurut dia, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) akan sangat diperhatikan, mengingat kedua proyek kilang strategis ini merupakan penugasan dari pemerintah kepada Pertamina. “Dengan adanya proyek strategis, industri dalam negeri bisa berkontribusi dan berinteraksi, sehingga benar-benar menggairahkan ekonomi Indonesia. Dari 45 ribu pekerja itu, ada multiplier effect lima sampai enam kali lipat,” katanya.

Bahkan, PT Pertamina sudah memiliki rencana untuk meningkatkan kapasitas kilang Tuban, dari angka awal 300 ribu barel per hari menjadi 400 ribu barel per hari selama 6 tahun ke depan.

Rencana ini, menurut Rachmad Hardadi, sebagai antisipasi apabila permintaan Bahan Bakar Minyak (BBM) domestik melonjak di kemudian hari. Terlebih, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan akan tetap tinggi jelas akan berdampak pada kenaikan permintaan konsumsi BBM .

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,02 persen tahun lalu merupakan salah satu yang terbaik di Asia. Kalau momentumnya terus seperti ini, kami juga melihat potensi penyerapan pasar ke depannya.

Saya optimistis, kilang Tuban itu kapasitasnya bergeser bukan 300 ribu barel per hari, minimum 350 ribu barel per hari dan bisa saja bergerak ke angka 400 ribu barel per hari,” ujarnya. Dengan penambahan kapasitas, tentu saja perusahaan harus mengeluarkan tambahan investasi. Namun, menurutnya, tambahan angka investasi tersebut terbilang tidak signifikan.

“Dari sisi investasi, sebetulnya tidak terlalu banyak perubahan mengingat peralatan yang digunakan itu ada range operasinya. Layaknya mobil, mau dijalankan di angka 80 km per jam atau 60 km per jam kan tidak terpengaruh pada harga mobil itu sendiri,” terangnya.

Sayangnya, Alumni ITB ini, masih belum tahu tambahan nilai investasi yang dibutuhkan. Sebab, lelang teknologinya belum selesai. Jika lelang telah selesai dilaksanakan, maka nilai investasi secara pasti akan terlihat.

“Tentu harus dilihat, kalau sudah ketahuan memakai teknologi A, konfigurasinya bisa terbentuk. Kami membuat infrastruktur ini tentu harus fleksibel. Kapan bisa dinaikkan dan kapan bisa ditahan pada suatu kapasitas tertentu. Tapi bagi kami, angka kapasitas 300 ribu barel per hari itu sudah firm,” kata Rachmad.

Dari enam proyek kilang yang akan dikerjakan Pertamina, yakni empat pengembangan kilang lama serta pembangunan dua kilang baru, akan menambah kapasitas kilang minyak dalam negeri sebanyak satu juta barel per hari (bph), sehingga total kapasitas menjadi 2,2 juta bph pada 2023.

Dengan demikian, Indonesia diharapkan terbebas dari impor pada 2023 setelah pembangunan Kilang Bontang selesai. Itupun dengan syarat tidak ada masalah politik yang berarti.

Ini menunjukkan bahwa kampanye Energi Baru, Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE) yang selama ini didengungkan tidak konsisten. Sebab, energi fosil yang murah namun merusak lingkungan ternyata masih menjadi andalan.

Seharusnya, ketergantungan energi fosil, baik dari dalam maupun impor, sudah seharusnya disubstitusi dengan EBTKE. Dengan begitu, tidak akan banyak kilang baru yang akan dibangun .

Tentu bukan rahasia lagi, siapa saja yang sebenarnya menguasai energi fosil dan memperoleh keuntungan berlipat ganda dari bisnis ini. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here