Kim Jong Un, Trump dan Krisis Nuklir Korut

0
222

Nusantara.News – Korea Utara terus membuat gaduh dan jadi sorotan pemberitaan media-media internasional dalam beberapa hari ke belakang. Mulai kasus pembunuhan Kim Jong Nam, kakak tiri presiden Korut Kim Jong Un di Malaysia yang berbuntut “perang” diplomasi antara Korut-Malaysia, uji coba rudal balistik ke laut Jepang, hingga dugaan pengembangan senjata nuklir yang membuat panas tetangganya, Jepang dan Korsel. Presiden AS, Donald Trump pun tak tinggal diam sebab kedua negara, Korsel dan Jepang, adalah sekutu AS di Asia.

Tiga belas Februari pagi, pria gemuk paruh baya tampak di bandara Kuala Lumpur, Malaysia tengah bersiap naik ke pesawat dengan tujuan Macau. Kim Jong Nam namanya, anak tertua almarhum diktator Korea Utara Kim Jong Il. Dia pernah disebut-sebut sebagai calon pengganti tahta penguasa Korut, namun namanya meredup setelah dianggap menjatuhkan martabat keluarga pasca-peristiwa penangkapannya di Jepang saat hendak mengunjungi Tokyo Disneyland dengan paspor palsu. Dengan izin sang ayahnya, Nam kemudian memilih tinggal di Macau, bekas koloni Portugis yang kini menjadi pusat perjudian Cina.

Kim Jong Nam adalah saudara tiri Kim Jong Un, penguasa Korut saat ini. Tapi kemungkinan besar keduanya tidak pernah bertemu, karena masing-masing dibesarkan dalam rumah terpisah. Ibu dari Jong Nam adalah seorang aktris Korea yang menjadi selingkuhan Jong Il.

Hidup Jong Nam berakhir di tangan dua perempuan asal Vietnam dan Indonesia setelah dia dibunuh menggunakan racun VX yang mematikan. Racun yang telah dilarang penggunaannya oleh PBB karena merupakan racun pembunuh massal.

Diduga, pembunuhan yang sangat terencana ini merupakan perintah dari sang adik yang tak lain penguasa diktator Korut saat ini. Sejumlah pejabat dari negara-negara yang selama ini menjadi seteru Korut seperti AS dan Korsel terkejut dengan kejadian itu, karena pembunuhan dilakukan begitu terbuka, di tempat umum, dan disorot sejumlah kamera CCTV dari berbagai sudut. Seolah peristiwa pembunuhan sengaja ditunjukkan kepada dunia, dan ada pesan tersirat yang ingin disampaikan Jong Un, sang penguasa diktator itu.

Tapi pembunuhan yang dramatis itu rupanya baru awal, sebab dua minggu kemudian intelijen Korsel, dalam sebuah biefing dengan parlemen negara itu, mengungkap bahwa Kim Jong Un menangkap Menteri Keamanan Negara, Kim Won-hong dengan dituduh menyebar berita bohong. Kim Won-hong dipecat, sedangkan lima deputinya dieksekusi dengan senjata anti-pesawat. Hukuman yang juga pernah dilakukan Jong Un sebelum-sebelumnya.

Mantan presiden AS, Barack Obama pernah memperingatkan Donald Trump, presiden AS baru, bahwa Korut bakal menjadi masalah bagi kebijakan luar negeri AS.

Selama masa Obama, Korut telah melakukan serangkaian uji coba rahasia senjata nuklir yang sukses dan terbukti terus meningkatkan jangkauan rudal balistiknya. Tujuannya jelas, yakni menempatkan hulu ledak nuklir pada rudal balistik antar-benua yang mampu mencapai Amerika Serikat.

Sekarang Trump baru tersadar dengan peringatan Obama, dan menurut seorang pejabat Gedung Putih, Trump sudah meminta briefing secara pribadi dengan komunitas intelijen AS yang berada di Korut.

Data tawar nuklir

Hanya sehari sebelum pembunuhan Kim Jong Nam, saat Trump sedang makan malam dengan PM Jepang Shinzo Abe di kediaman pribadinya di Florida, sejumlah rudal balistik diluncurkan Korut ke Laut Jepang. Sesaat setelah itu, PM Jepang menggelar konferensi pers, mengutuk apa yang dilakukan Pyongyang dan Trump berjanji mem-back up Jepang, sekutunya itu.

Senin (6/3) lalu, Korut kembali meluncurkan empat rudal balistik, tiga di antaranya jatuh di perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di Laut Jepang. Uji coba rudal terbaru, dan tentu saja soal pembunuhan Kim Jong Nam yang dipertontonkan secara terbuka, sangat menjengkelkan bagi Trump, juga bagi sekutu-sekutu AS seperti Kosel dan Jepang, bahkan konon bagi Cina.

Sikap Pyongyang tentu telah membuat gusar sejumlah negara. Betapa tidak, meskipun sanksi-sanksi telah dijatuhkan ke Korea, toh tetap saja rezim Korut tampaknya telah membuat kemajuan berarti dalam sistem persenjataannya.

Komunitas intelijen di Washington dan Seoul meyakini Korut, setidaknya dalam empat tahun lagi, sudah bisa menempatkan hulu ledak nuklirnya pada sistem pengiriman jarak jauh.

Richard Haass, Presiden Dewan Hubungan Luar Negeri AS, sebagaimana dilansir News Week (7/3) pernah menerbitkan sebuah artikel menjelaskan soal skenario Pyongyang akan menuju krisis nuklir pada tahun 2020, kecuali jika ada sejumlah perubahan situasi.

Namun apa pun, cepat atau lambat krisis nuklir di Korut pasti akan tiba. Karena Kim Jong Un, sebagaimana ayahnya, Kim Jong Il meyakini bahwa senjata nuklir adalah jaminan utama dalam memelihara kekuasaan diktatornya, serta alat tawar dengan negara lain.

Otoritas Korut pada Selasa (7/3) tegas mengatakan bahwa rudal yang ditembakkan ke Laut Jepang pada Senin merupakan latihan untuk menyerang pangkalan AS di Jepang.

Kantor berita resmi Korut KCNA mengatakan, Kim Jong Un lah yang memberi perintah kepada militernya untuk memulai latihan itu.

“Empat rudal balistik yang diluncurkan secara bersamaan itu sangat akurat. Mereka terlihat seperti korps terbang berakrobatik dalam sebuah formasi yang kompak,” kata KCNA mengutip Jong Un.

KCNA juga mengatakan, peluncuran rudal menunjukkan kesiapan Korut untuk ‘memusnahkan’ pasukan musuh dengan ‘serangan nuklir tanpa ampun’.

Dalam foto-foto yang dirilis media setempat, Kim Jong Un dan sejumlah orang tampak sedang menyaksikan rudal itu naik ke udara. Mereka semua bergembira, bertepuk tangan, lalu berjabatan tangan satu sama lain.

Aksi penembakan rudal merupakan reaksi atas latihan militer gabungan yang dilakukan Korsel dengan AS di Semenanjung Korea, sehari sebelumnya.

Presiden AS Donald Trump bersama dengan PM Jepang dan Presiden Korsel mengecam langkah yang dilakukan Kim Jong Un. Menurut Trump penembakan rudal tersebut melanggar enam resolusi yang telah dikeluarkan DK PBB. Di bawah resolusi PBB, Pyongyang dilarang menggunakan atau menggelar latihan penggunaan teknologi rudal balistik. Tapi, apa peduli Kim Jong Un dengan resolusi-resolusi yang dianggapnya tidak menguntungkan negaranya itu.

Cina sebagai negara yang selama ini mendukung Korut dan diandalkan oleh Amerika sebagai pengendali Jong Un menghimbau kedua negara (AS dan Korut) agar sama-sama ‘menginjak rem’, menghentikan keteganngan yang melaju kencang agar tidak benar-benar terjadi tabrakan. Cina tampaknya khawatir jika perang terbuka benar-benar terjadi, karena Cina mau tidak mau akan terlibat.

Menlu Cina Wang Yi mengatakan, “Penangguhan demi penangguhan dapat membantu kita keluar dari dilema keamanan dan menghantarkan para pihak untuk kembali ke meja perundingan.”

Namun begitu, Cina juga, meskipun secara diam-diam, tengah membangun kekuatan militer di Kawasan untuk melindungi eksistensinya di Laut Cina Selatan dan Timur. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here