Kinerja Perdagangan RI Makin Tekor Dengan China

0
369
Defisit transaksi perdagangan Indonesia dengan negara mitra dagang di dunia pada 2018 teracatat defisit sebesar US$8,57 miliar. Sementara khusus defisit perdagangan Indonesia dengan China mencapai US$18,41 miliar. Itu artinya surpllus perdagangan yang diperoleh Indonesia dengan mitra dagang di dunia tergerus oleh defisit perdagangan Indonesia dengan China.

Nusantara.news, Jakarta – Kehadiran unicorn dalam perekonomian kita patut dibanggakan sekaligus dirisaukan. Mengapa tidak, 4 dari 7 unicorn yang ada di ASEAN ada di Indonesia, artinya unicorn itu telah menggerakkan ekonomi, tapi unicorn diduga menjadi penyebab transaksi dagang Indonesia dengan China khususnya, menjadi pemicu defisit dagang Indonesia.

Bagaimana proses ini bisa terjadi? Apakah nasib kerjasama perdagangan Indonesia-China harus terus-terusan merugikan negeri kita? Bahkan pada 2018 defisit transaksi perdagangan kita terhadap China sebagai penyumbang terbesar. Bagaimana ini bisa terjadi?

Pemerintah memang masih memiliki pekerjaan rumah yang belum selesai, yakni defisit pada neraca perdagangan. Bahkan belakangan ini defisit itu semakin membengkak.

Guru besar ilmu ekonomi sekaligus peneliti senior INDEF Didik J Rachbini menilai data defisit neraca dagang yang pada 2018 mencapai US$8,57 miliar merupakan bukti bahwa perdagangan RI sangat lemah. Apalagi BPS menyeebut defisit itu terparah sejak 1975.

“Kita baru mendengar dari lembaga pemerintah sendiri BPS bahwa defisit neraca berjalan merupakan yang terbesar sepanjang sejarah. Ini apa artinya, sektor luar negeri kita lemah, kedodoran, kehilangan strategi ekonomi dan dagang,” ujarnya dalam seminar online Jurnalis Ekonomi dan Peneliti INDEF beberapa waktu lalu.

Data Kementerian Perdagangan sejak 2013 hingga 2018 menunjukkan bahwa kinerja transaksi perdagangan Indonesia dengan China terus memburuk. Puncaknya pada 2018 merupakan yang terburuk dalam 73 tahun terakhir.

Didik menilai bengkaknya defisit neraca dagang RI belakangan ini salah satunya berkaitan dengan China. Tekor neraca dagang RI menurutnya juga terkait dengan dinamika dan perananan China di kancah global.

“Salah satu yang paling utama adalah defisit perdagangan dengan Cina tekor besar, menganga defisit yang melemahkan perekonomian kita,” ujarnya.

Menurut Didik, hal itu membuktikan bahwa Indonssia menjadi pihak yang kalah dan dirugikan. Seharusnya pemerintah mengambil langkah yang tepat.

“Ini adalah faktor penting di mana dalam satu aspek perdagangan Indonesia berada pada pihak yang kalah, dirugikan, terdesak. Tetapi pemerintah tidak terlihat mempunyai strategi diplomasi dagang setidaknya untuk menguranginya,” ucapnya.

Kepala BPS Ketjuk Suharyanto memaparkan jika melihat ke belakang maka realisasi defisit neraca perdagangan tahun 2018 memang paling terbesar semenjak 1945. Hanya saja, BPS tidak mencatat secara rinci realisasi neraca dagang di saat Indonesia merdeka.

Suharyanto mendata, pada defisit di 2012 mengalami defisit US$1,7 miliar, 2013 defisit US$4,08 miliar, 2014 defisit US$1,89 miliar, 1975defisit US$391 juta. 1945 defisit, tapi kita angkanya terputus di 1945.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Yunita Rusanti mengatakan, defisit yang terjadi pada masa silam tidak sebesar yang terjadi di tahun 2018.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total perdagangan Indonesia-China melonjak 23,47% dari US$58,85 miliar pada 2017 menjadi US$72,66 miliar. Total ekspor Indonesia ke China pada periode yang sama naik 17,52% dari US$23,08 miliar menjadi US$27,13 miliar.

Sementara impor Indonesia ke China pada periode tersebut naik 27,32% dari US$35,77 miliar menjadi US$45,54 miliar. Dengan demikian defisit transaksi perdagangan Indonesia terhadap China pada 2018 melonjak darastis 45,15% dari US$12,68 miliar menjadi US$18,41 miliar.

Inilah rekor terburuk transaksi perdagangan Indonesia dengan China sepanjang sejarah Indonesia dan itu dimasa Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Bayangkan, kondisi defisit perdagangan indonesia dengan seluruh mitra dagang hanya US$8,57 miliar, khusus defisit perdagangan Indonesai terhadap china mencapai US$18,41 miliar.

Artinya ada subsidi surplus perdagangan Indonesia dengan negara-negara sahabat lainnya. Ketika seluruh surplus perdagangan itu dinetting, nilainya tetap defisit sebesar US$8,57 miliar. Sementara khusus defisit perdagangan Indonesia terhadap China 2,15 kali lebih besar terhadap defisit perdangan Indonesia dengan mitra dagang seluruh dunia.

Pada Januari 2019 kinerja defisit transaksi perdagangan Indonesia dengan China kembali terefleksi nyaris sama. Kalau defisit perdagangan Indonesia terhadap seluruh negara mitra dagang di dunia hanya US$1,16 miliar, khusus defisit perdagangan Indonesia dengan China sudah mencapai US$2,43 miliar. Jumlah itu 2,09 kali dibandingkan defisit Indonesia terhadap seluruh mitra dagang.

Tentu saja angka-angka defisit itu akan bertambah besar ke depannya seiring makin intensifnya Pemerintah Jokowi bermitra dagang dengan China. Sementara belum terlihat upaya untuk memperbaiki defisit perdagangan dengan China, yang ada justru para menteri terkait sibuk melakukan impor pangan, kebutuhan infrastruktur dan lainnya.

Padahal kinerja selisih aset internasional dengan kewajiban Indonesia (Net International Investment Position–NIIP) Indonesia pada 2018 saat ini sangat memprihatinkan. Harusnya ketika kinerja transaksi dagang negatif, kinerja NIIP sebagai tulang punggung pengganti, namun hal itu tak terjadi.

NIIP Indonesia pada 2018, berdasarkan data Bank Indonesia, dalam posisi defisit US$297 miliar. Jumlah itu di bawah Filipina yang minus US$34,4 miliar dan Malaysia minus US$18,5 miliar.

Bahkan di bawah Timor Leste yang sudah positif US$17,5 miliar, Korea Selatan positif US$340 miliar dan Singapura positif US$836 miliar. Apalagi jika ingin dibandingkan Jepang sebagai pemilik NIIP positif US$2.932 miliar dan China US$1.692 miliar.

Dari sini terlihat jelas, Indonesia gagal dibidang transaksi perdagangan, sekaligus gagal dibidang investasi. Itu sebabnya ke depan kita harus memastikan seorang pemimpin negara yang mampu mengelola menteri di bidang ekonomi, sehingga bisa membalikkan keadaan dimana posisi defisit perdagangan diubah menjadi surplus perdagangan.

Bahkan diharapkan bisa membalikkan keadaan NIIP yang negatif menjadi positi posifit, sehingga pergaulan investasi dan perdagangan Indonesia di dunia internasional benar-benar disegani.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here