Kinerja Pertamina 2018 Anjlog Gegara Proyek BBM Satu Harga

0
338
Pada 2018 PT Pertamina (Persero) diperkirakan akan mencatat kinerja keuangan terburuk akibat rugi selisih kurs, kenaikan harga minyak dunia dan penetapan harga BBM satu harga.

Nusantara.news, Jakarta – Tahun 2018 merupakan tahun terburuk buat PT Pertamina. Berbagai tekanan seperti depresiasi rupiah, kenaikan harga minyak, dan terutama pembebanan tugas satu harga dari pemerintah diduga bakal menekan kinerja keuangan Pertamina babak belur. Seberapa parahkah?

Akhir Februari 2019 adalah waktu yang mendebarkan buat manajemen Pertamina dan Kementerian BUMN. Karena Pertamina selesai sudah menjalani audit keuangan, sekaligus terbit laporan keuangan yang dinanti-nanti itu.

Masalahnya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, dimana Pertamina mampu mencatat kinerja keuangan yang bersinar. Seperti pada 2016, Pertamina mampu mencatat laba bersih hingga Rp42 triliun (US$3,15 miliar), angka itu melompat 122% jika dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencatatkan laba bersih Rp19 triliun.

Penyebab lompatan laba bersih karena Pertamina berhasil melakukan efisiensi besar-besaran, restrukturisasi bisnis dan mendongkrak pendapatan. Masa keemasan Pertamina itu saat dipimpin oleh Dwi Soetjipto.

Pada 2017, laba bersih Pertamina turun lagi menjadi Rp36,4 triliun (US$2,4 miliar) atau turun 23% dibandingkan tahun 2018. Penyebabnya adalah nilai tukar rupiah yang mulai melemah, demikian pula harga minyak dunia mulai merangkak naik. Akibatnya Pertamina yang saat itu dipimpin Elia Massa Manik sedikit terhuyung-huyung.

Pada 2018, kinerja keuangan Pertamina, di bawah kepemimpinan Nicke Widyawati, tampaknya babak belur. Pada kuartal I 2018 Pertamina sudah membukukan rugi Rp5 triliun, penyebabnya karena tekanan kurs rupiah yang mencapai Rp15.260 per dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia yang menyentuh level US$80 per barel. Padahal dalam asumsi APBN 2018 rupiah ditetapkan Rp13.400 per dolar, sementara asumsi harga minyak di level US$48 per barel.

Namun kerugian itu bertambah parah karena Presiden Jokowi meminta tidak ada kenaikan harga minyak bersubsidi sejak 2018 hingga 2019. Ditambah lagi beban satu harga BBM nasional, sehingga menambah beban berat kinerja keuangan Pertamina.

Pada kuartal III 2018, kinerja Pertamina mulai positif ditandai dengan membukukan laba bersih sebesar Rp5 triliun. Itupun menunjukkan angka penurunan yang tajam 81% jika dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun 2017.

Lantas berapakan laba bersih pada 2018? Ada yang pesimis mengatakan secara kumulatif laba bersih Pertamina hingga Desember 2018 hanya Rp900 miliar, tapi ada juga yang optimis laba bersih bisa menembus Rp10 triliun.

Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengungkapkan kinerja keuangan Pertamina akan diumumkan paling lambat akhir Februari 2019

“Ya, nanti akan diumumkan, sekarang kan sedang diaudit, dan audit memerlukan waktu,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Fajar menuturkan, dalam audit laporan kinerja, memang yang paling cepat adalah di industri perbankan, dan juga perusahaan-perusahaan publik. Namun, sesuai dengan aturan Menteri Keuangan dan Menteri BUMN, audit paling lambat harus selesai di akhir Februari.

Yang jelas, menurutnya, jumlah BUMN yang merugi juga semakin sedikit, kecuali yang sudah rugi dari awalnya, seperti yang sudah tidak beroperasi dan sebagainya.

“Tapi kalau yang tadinya rugi, sudah baik kok, seperti Krakatau Steel, Balai Pustaka, Primisima dan lainnya. Garuda Indonesia nanti kita tunggu deh. Kalau Pertamina dan PLN juga baik-baik saja kok. Akhir Februari sudah harus keluar, harus diumumin,” demikain Fajar.

Lepas dari penjelasan Fajar, mantan Staf Khusus Kementerian BUMN Muhammad Said Didu memperkirakan Pertamina akan menderita kerugian hingga Rp40 triliun jika harus menanggung rugi selisih kurs, kenaikan harga minyak dunia dan penetapan satu harga BBM secara nasional.

Harusnya jika manajemen Pertamina mampu mengatasi keadaan krisis, terutama penugasan pemerintah yang tidak berlebihan, laba bersih Pertamina bisa lebih baik dari tahun 2016 atau setidaknya tahun 2017.

Hal itu kata Said Didu, menggambarkan bagaimana penugasan harga BBM saat ini sangat membebani keuangan Pertamina. Bagaimana tidak, saat ini Pertamina harus menanggung selisih harga BBM antara harga keekonomian dengan harga yang diterapkan saat ini.

Said mencontohkan, harga BBM jenis premium yang ditahan di angka Rp6.500 per liter sementara harga asli tanpa subsidi Rp8.500 per liter. Artinya Pertamina nombok Rp2.000 per liter.

Begitupun Said menjelaskan untuk solar, pemerintah hanya memberikan subsidi Rp500 untuk solar. Saat ini harga solar di pasaran dunia Rp8.350 per liter sementara pemerintah menekan harga Rp 5.150/ liter. Artinya selisih kekurangan dari solar dan premium ditanggung Pertamina.

Apapun, nasi telah menjadi bubur. Rakyat Indonesia harus siap-siap melihat kenyataan anjlognya laba bersih Pertamina di tahun 2018. Menurut rumors yang berkembang laba Pertamina pada 2018 anjlog Rp16,4 triliun di kisaran Rp20 triliunan. Benarkah?

Lain halnya jika pemerintah memiliki sense of crisis, efisiensi dilanjutkan, restrukturisasi dimaksimalkan, mungkin akan lain ceritanya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here