Kini AS Pertanyakan Alasan Negara-negara Teluk Isolasi Qatar, Ada Apa?

0
103
Kapal militer terlihat saat latihan Angkatan Laut pasukan AS dan Qatar di Teluk Arab, Qatar, 16 Juni 2017. Foto: REUTERS

Nusantara.news Amerika Serikat kerap menggunakan standar ganda dalam menyikapi sejumlah konflik. Dalam krisis Qatar misalnya, jika sebelumnya Presiden AS Donald Trump mendukung penuh Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, kini Departemen Luar Negeri AS mempersoalkan keputusan Saudi dan negara-negara Teluk terhadap Qatar, dan menyebutnya sebagai membingungkan. Ada apa?

Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan teguran ke Arab Saudi dan sekutu-sekutunya di Teluk dengan mengatakan bahwa mereka telah gagal memberikan alasan pembenaran atas embargo yang mereka lakukan terhadap Qatar awal bulan ini.

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson semakin ragu, tentang tindakan Arab Saudi dan para sekutunya terhadap Qatar.

“Sekarang sudah lebih dari dua minggu sejak embargo dimulai, kami bingung karena negara-negara Teluk itu belum melapor ke Qatar, rincian tentang klaim yang mereka inginkan terhadap Qatar,” kata Heather Nauert, juru bicara departemen luar negeri AS, sebagaimana dikutip The Guardian.

“Semakin banyak waktu berlalu, keraguan muncul semakin kuat mengenai tindakan yang diambil oleh Arab Saudi dan UEA,” tambahnya.

“Pada titik ini, kita ditinggalkan dengan satu pertanyaan sederhana: apakah tindakan itu benar-benar mengenai kekhawatiran mereka terkait dugaan dukungan Qatar atas terorisme? Atau apakah tentang keluhan-keluhan mereka yang panjang antara di antara negara-negara GCC (Gulf Cooperation Council)?” kata Nauert.

Sikap terbaru dari departemen luar negeri AS tentu saja malah menimbulkan pertanyaan. Apakah AS benar-benar tidak tahu apa yang terjadi di Teluk, mengingat sebelumnya Presiden AS berkunjung ke Riyadh Arab Saudi, atau pura-pura tidak tahu karena mereka tahu setelah dihitung-hitung, masuk ke dalam pusaran konflik Teluk tidak menguntungkan bagi AS. Nada pernyataan terbaru dari departemen luar negeri AS sangat berbeda dengan pernyataan presidennya beberapa waktu lalu yang mendukung isolasi Qatar oleh negara-negara Teluk.

Apakah ada kaitannya dengan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson yang mantan eksekutif ExxonMobil dan punya hubungan baik dengan Qatar, sehingga pernyataannya lebih cenderung membela emirat kecil itu?

Publik AS sendiri mengkritik kebijakan ini yang terkesan tidak sinkron antara presiden, menteri luar negeri dan menteri pertahanan. Ditengarai, dukungan AS terhadap embargo Qatar karena tuduhan mendanai terorisme tidak sepenuh hati. Kementerian pertahanan juga menerapkan kebijakan yang tampaknya berseberangan dengan presiden, misalnya dengan menandatangani pembelian 36 pesawat tempur F-15 senilai USD 12 miliar dengan Qatar serta melakukan latihan gabungan dengan Angkatan Laut Qatar di saat krisis diplomatik dengan Arab Saudi dan negara-negara Teluk masih berlangsung.

Trump dipuji oleh Arab Saudi saat dia menjadikan Riyadh sebagai tujuan perjalanan pertamanya ke luar negeri, pada tanggal 20 Mei lalu. Riyadh kemudian mengumumkan embargonya terhadap Qatar kurang dati tiga minggu setelah kedatangan Trump. Kemudian Trump membuat pernyataan berulang-ulang untuk mendukung langkah tersebut, bahwa Riyadh harus menghukum Doha karena dukungannya terhadap kelompok teroris.

Dalam sebuah tweet pada tanggal 6 Juni, Trump bahkan tampaknya mengklaim memiliki andil atas blokade tersebut, dengan menyebut bahwa isolasi Qatar menunjukkan bahwa perjalanannya ke Riyadh terbayar “lunas”.

Dalam sambutannya pada hari Selasa, Nauert membantah bahwa Menteri Rex Tillerson, mengambil posisi yang bertentangan dengan sikap awal Presiden Trump.

“Saya tidak berpikir begitu. Saya pikir presiden dan menteri keduanya ingin melihat masalah ini terselesaikan. Mereka menginginkan hasil, dan mari kita lihat ini terselesaikan dengan cepat,” kata Nauert diplomatis.

Nauert mengatakan, Tillerson telah menghabiskan waktu dua minggu ini sejak embargo Qatar untuk berbicara dengan para tokoh dan perwakilan negara yang terlibat lewat telepon, namun tidak melihat adanya keberlanjutan dalam mediasi.

“Presiden telah menawari menteri Tillerson beberapa minggu yang lalu untuk melakukan itu. Namun pada titik ini, kita tidak berpikir itu perlu. Kami percaya melalui pembicaraan dengan menteri, dengan berbicara dengan negara-negara yang terlibat dan mendengar apa yang mereka katakan, mereka tampaknya dapat menyelesaikan semuanya dengan cara mereka sendiri,” kata Nauert.

Belum ada perkembangan ke arah penyelesaian

Sementara AS sudah tidak merasa perlu memediasi krisis Teluk, situasi di kawasan tersebut justru semakin memanas. Situsi terakhir Arab Saudi melarang ribuan hewan ternak seperti unta dan domba mencari makan di padang rumput wilayah Arab Saudi. Hal yang selama pemutusan hubungan diplomatik sejak awal bulan lalu tidak dilarang. Para peternak Qatar memang mengandalkan padang rumput di kawasan Arab Saudi karena minimnya padang rumput di Qatar. Ini akan menimbulkan masalah baru bagi para peternak Qatar.

Jika tidak ada negara yang mengambil inisiatif serius memediasi krisis Qatar, bukan tidak mungkin krisis diplomatik ini akan mengarah kepada konflik bersenjata, lebih-lebih Qatar bukan negara yang bisa disepelekan dalam kemampuannya membeli senjata. Dan jika konflik bersenjata sempat terjadi di Qatar, dapat dipastikan akan berimplikasi pada krisis ekonomi global.

Sebagaimana diketahui, selama enam tahun terakhir, ada dua hal di dunia Arab, yaitu dunia kekerasan dan dunia kemewahan dan globalisasi. Suriah, Irak, Libya dan, pada tingkat lebih rendah, Mesir, telah dilanda konflik. Tapi Qatar, Abu Dhabi dan Dubai menjadi negara makmur dan sebagai pusat global untuk pariwisata, liburan, bisnis dan keuangan. Negara-negara metropolis di kawasan Teluk ini tampak tak tersentuh kekerasan seperti di wilayah Timur Tengah lainnya.

Dunia mungkin tidak terlalu peduli dengan konflik yang terjadi di Suriah, Irak, Yaman, Libya, hingga negara-negara itu hancur sekalipun, kenapa? Negara-negara tersebut tidak memainkan peran dalam perekonomian dunia.

Tapi bagaimana jika konflik terjadi di Qatar dan Uni Emirat Arab? Meskipun negara kecil, Qatar dan UEA memainkan peran luar biasa dalam ekonomi global. Qatar adalah eksportir gas alam cair terbesar di dunia. Qatar Investment Authority memegang saham besar di perusahaan-perusahaan penting di Barat  seperti Volkswagen dan Barclays, dan juga menginvestasikan petrobillion-nya di perusahaan-perusahaan kelas dunia, termasuk gedung tertinggi di Shard, London, dan toserba Harrods. Qatar juga akan menjadi tuan rumah sepak bola Piala Dunia pada 2022.

Dubai di Uni Emirat Arab telah dengan cerdik memanfaatkan kedekatannya dengan Eropa, Asia Selatan, Afrika dan Rusia untuk mengubah dirinya menjadi “taman bermain” di Timur Tengah. Bangunan tertinggi di dunia, Burj al-Khalifa berdiri di pusat kota Dubai dan maskapai penerbangan Emirates adalah salah satu yang terbesar di dunia. Otoritas Investasi Abu Dhabi mengendalikan aset lebih dari USD 800 miliar, yang menjadikannya sebagai dana investasi terbesar kedua di dunia, dan salah satu pemilik properti terbesar di dunia.

Satu lagi Arab Saudi, negara terbesar dan terkuat di kawasan ini, yang statusnya sebagai produsen minyak terbesar di dunia telah lama menjadi pemain penting bagi ekonomi global. Sulit dipercaya, jika para penguasa Teluk ini mempertaruhkan keistimewaan mereka masing-masing dengan terjun ke dalam konflik. Dan amat disayangkan juga, jika Dunia hanya berdiam diri, tidak mencoba sekuat tenaga untuk mencegah konflik benar-benar terjadi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here