Kiprah Warga Keturunan Asia Kuasai DPR California

0
269
Rob Bonta (kanan) warga keturunan Filipina yang menjadi anggota DPR California

Nusantara.news, Los Angeles – Warga negara Amerika Serikat (AS) keturunan Asia di California sedang membangun kekuatan politik yang terus bertumbuh. Semakin banyak kandidat Asia-Amerika yang mencalonkan diri untuk jabatan terpilih di semua tingkatan, khususnya di negara bagian California.

Kebangkitan politik itu dimulai ketika Rob Bonta – warga keturunan Filipina – memenangkan kursi legislatif negara bagian California pada tahun 2012. Rob ingin menunjukkan seseorang yang memahami komunitas Asia bisa memenangkan pemilihan umum di sana.

Di tahun pertama menang pemilu, Rob merancang Undang-Undang yang mewajibkan sekolah mengajarkan peran Filipina-Amerika dalam sejarah California – termasuk dalam gerakan buruh tani. Perjuangan Rob tidak sia-sia. Di tahun berikutnya RUU – atau istilah Amerika “bill” – itu ditanda-tangani oleh Gubernur setempat menjadi UU.

“Saya terinspirasi dengan kisah-kisah perjuangan warga keturunan Filipina, pengalaman pribadi keluarga saya sendiri dalam gerakan ini, dan adalah yang ingin saya bagikan secara lebih luas kepada komunitas Filipina-Amerika yang lebih luas, komunitas Asia-Amerika yang lebih luas, dan komunitas California yang warga negaranya beragam latar belakang budaya dan keturunan,” beber Rob.

Antusiasisme Meningkat

Peran serta warga negara keturunan Asia dan Kepulauan Pasifik – secara demografis dikelompokkan dalam Asian-Americans and Pacific Islanders (AAPI) – yang mencalonkan diri dalam jabatan publik cenderung meningkat – terutama di California yang memiliki komunitas pemilih AAPI hampir 15 %.

Suasana Pemilu di California

Pada tahun 1980 saja tercatat sekitar 160 warga keturunan AAPI yang terpilih menjadi pejabat publik di berbagai tingkat pemerintahan – termasuk Kongres, Legislatif negara bagian, kabupaten, kota dan dewan-dewan sekolah – papar Pat-te Lien, seorang profesor yang khusus mendalami politik Asia-Amerika di Universitas California, Saint Barbara.  Ketika Bonta terpilih di Majelis Negara Bagian California setidaknya ada 343 warga AAPI yang terpilih. Pada 2016 lalu diperkirakan sudah meningkat sekitar 463 orang.

California adalah negara bagian yang banyak memilih warga AAPI di parlemennya. Tercatat 16 di antara 120 anggota parlemen negara bagian berasal dari AAPI, ungkap Catherine Nou – kepala konsultan politik di California Asian and Pacific Islanders Legislative Caucus. Itu belum termasuk di beberapa kota dan kabupaten yang memiliki dewan pengawas dan dewan kota yang dipilih lewat pemilihan umum.

Pengaruh meningkatnya peran serta warga Asia dan Kepulauan Pasifik juga terlihat pada surat suara pemilihan umum di California tahun ini.

Pemilih California setiaknya akan memilih satu lusin orang keturunan Asia-Amerika bersaing menjadi pejabat publik dalam pemilihan utama di bulan Juni nanti, termasuk Bendahara Negara John Chiang yang mencalonkan diri menjadi Gubernur California, pengendali negara Betty Yee yang ingin mempertahankan jabatannya, dan anggota Dewan Penyetaraan California Fiona Ma yang mencalonkan diri menjadi Bendahara Negara.

Banyaknya jumlah kandidat AAPI dalam pencalonan pejabat publik mendorong sebuah lembaga non-profit Caucus Asian-American United for Self Enpowerment (CAUSE) yang berbasis di Long Angeles untuk mengatur penyelenggaraan debat calon gubernur yang berfokus kepada AAPI dalam sejarah negara bagian yang dijadwalkan terselenggara pada 27 April nanti. Selain menguji kompetensi calon gubernur acara ini juga bertujuan memperbesar partisipasi pemilih warga AAPI.

“Saya pikir untuk kami – 2018 benar-benar merasa seperti kesempatan untuk memanfaatkan komunitas Asia datang ke bilik suara dan menggunakan hak pilihnya,” ujar Kim Yamasaki – direktur eksekutif CAUSE.

“Kami melihat lebih banyak AAPI yang berjuang dalam pemilihan,” ujar Christine Chen – direktur eksekutif APIAVote – lembaga non profit yang bertujuan meningkatkan partisipasi sipil di antara AAPI. “Ini bukan hanya dewan sekolah atau dewan kota atau berbagai komisi, melainkan juga banyak yang mencalonkan menjadi anggota legislatif negara bagian.”

James Lai, seorang profesor studi etnis di Santa Clara University yang mendalami persoalan partisipasi politik, mencatat alasan utama peningkatan partisipasi berakar di pinggiran kota yang berfungsi sebagai “inkubator politik” di mana para kandidat bisa mendapatkan pengalaman awal dalam pemilu. Satu di antara pejabat terpilih yang ditetaskan dari inkubator politik itu adalah Judy Chu asal Partai Republik yang menjadi anggota DPR mewakili daerah pemilihan negara bagian California.

“Dia mulai berkarir di Dewan Kota Monterey Park yang kemudian terpilih di Majelis Negara sebelum akhirnya terpilih menjadi anggota DPR dari distrik Monterey Park,” tutur Lai. “Jadi dia membangunnya seperti itu. Dan saya pikir itu adalah model yang bagus tentang apa yang akan kita lihat di California di masa depan.”

Setelah kandidat berhasil keluar dari inkubator ini dan terpilih menjadi pejabat, itu memungkinkan mereka melakukan kaderisasi di antara staf yang kelak menggantikannya saat dia membidik jabatan yang lebih tinggi, papar Lei.

Membangun Kebangkitan  

Di luar pemerintahan, organisasi seperti CAUSE dan Yayasan Kepemimpinan Masyarakat Kepulauan Pasifik Asia adalah berfungsi semacam incubator yang senantiasa memberikan latihan kepemimpinan kepada warga AAPI yang berminat terjun ke politik.

Fiona Ma mencalonkan diri menjadi Bendahara Negara Bagian California

Annie Lam – direktur eksekutif Liga California Kota Kaukus Asia-Kepulauan Pasifik dan pendiri API Mobilize – menjangkau pelajar sekolah menengah di kawasan yang memiliki populasi AAPI yang besar. Belakangan ini lembaganya meluncurkan program pelatihan kepemimpinan staf legislatif AAPI dan keterampilan manajemen.

“Kami semua memiliki program pelatihan untuk membantu mambangun calon-calon pemimpin. Dan itu masuk dalam infrastruktur kami,” kata Lam, “AAPI yang terpilih, lalau mereka menyewa staf AAPI, kemudian kami melatih mereka sehingga memiliki bekal kompetensi ketika naik ke tangga legislatif.”

Pada 2040 jumlah pemilih terdaftar di antara populasi Asia-Amerika diperkirakan mencapai 12,2 juta – ungkap hasil studi A-2015 oleh Pusat Studi Ketidaksejajaran UCLA dan Institut Asia Pasifik Amerika untuk Studi Kongres. Namun pertumbuhan yang cepat itu bukan berarti ada pertumbuhan proposional dalam lingkup politik, ujar Lai.

“Anda sudah melihat tren dalam komunitas Asia-Amerika, adalah angka partisipasi pemilih yang rendah,” ungkap Lai, “Apa yang perlu kita lakukan adalah fokus pada alasan kesenjangan itu ada.”

Tingkat partisipasi pemilih beradasarkan demografi etnis sebagaimana dikutip dari Pew Research Center, hanya 49,3% warga Asia yang pergi ke bilik suara pada Pemilu 2016, kurang dari pemilih kulit putih yang mencapai 65%, kulit hitam yang mencapai 59,6% namun masih sedikit di atas pemilih Hispanik yang hanya 47,6%. Alasan kesenjangan tingkat partisipasi pemilih itu, ulas Lai, adalah persoalan bahasa dan persoalan sistemik.

Namun beberapa pendukung yang optimis menyebutkan adalanya peningkatan keterlibatan Civil Society di antara pemilih AAPI di California – terutama dalam beberapa tahun terakhir.

“Saya pikir semakin banyak orang yang berpandangan jika mereka tidak menggunakan hak pilih mereka tidak akan memiliki suara dalam masalah ini,” ucap Mary Anne Foo – direktur eksekutif Orange Country Asian and Pacific Islander Community Alliance – menambahkan: “Banyak masalah ini mempengaruhi kehidupan mereka sehari-hari, mulai dari perawatan kesehatan, perumahan hingga pajak untuk pengembangan usaha kecil, akses ke pendidikan tinggi hingga persoalan mengatasi kemiskinan, mereka melihat pentingnya memiliki suara itu.”

Selain menyuarakan lewat pemilu di bilik suara, warga Asia Kepulauan Pasifik juga melakukan gerakan advokasi terhadap warga yang dilindungi program Deferred Action for Child Arrivals (Dreamers) – atau warga yang datang ke Amerika ikut orang tuanya ketika masih bocah yang di bawah UU Reformasi Imigrasi di bawah Trump terancam terusir dari AS.

“Saya pikir mereka benar-benar bersemangat,” kata Foo. “Saya pikir saya bisa melihat ebih banyak orang muda yang mencalonkan diri untuk terpilih menjadi pejabat publik lewat pemilihan.”

Ketika California menuju masa depan, Bonta yang keluarganya berasal dari Filipina berharap kekuatan politik AAPI di negara bagian California akan terus tumbuh dan menguat. Di antara 16 anggota Legislatif California asal AAPI ada 12 anggota Kaukus Legislatif California Asia dan Pasifik yang dipimpin oleh Bonta.

“Kami memiliki momentum yang bergerak ke arah yang benar,” kata Bonta. “Dan saat kami terus menampilkan bakat AAPI kami di dunia politik. Itu akan mengarah pada perubahan sikap dan perubahan budaya yang akan membuka lebih banyak pintu dan memberikan lebih banyak peluang untuk AAPI untuk melangkah dan memimpin, dan dalam proses memperkuat pemberdayaan politik AAPI kami.”

Terus, bagaimana dengan warga keturunan Indonesia yang ada di California? Mungkin komunitasnya tidak terlalu besar dibanding warga keturunan Filipiina, Fiji, Jepang, dan lainnya yang memang sudah beberapa generasi tinggal di California. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here