Kisah Heroik Kertanegara Melawan Kubilai Khan

0
370
Ilustrasi Pasukan Cina Mongol, menyerang Jawa Nusantara (Foto: Tindacheu

Nusantara.news, Kota Malang – Raja Kertanegara, merupakan sosok raja dari kerajaan Singhasari yang dikenal heroik dalam menentang kedatangan pasukan Cina Mongol yang terkenal dipimpin oleh Kubilai Khan.

Banyak sekali sikap-sikap positif dan sifat kepemimpinan yang dapat diambil untuk terjun dalam dunia politik pemerintahan, hingga saat ini. Raja Kertanegara terkenal sebagai raja yang berwibawa di kerajaan Singhasari, bahkan dalam panggung sejarah dunia. Ia merupakan raja terakhir Kerajaan Singhasari yang dijatuhkan atas pemberontakan dari pemimpin salah satu daerah kekuasaanya yakni Jayakatwang, dari Kerajaan Kediri.

Sosok kharismatik Raja Kertanegara dikenal atas penolakannya untuk tunduk kepada Imperium Cina Mongol, yang memiliki misi menguasai dunia, dipimpin oleh kepala pasukan Kubhlai Khan.

Pandangan politik luar negeri Kertanegara dalam wawasan cakramandala berbenturan dengan pandangan politik Kubhlai Khan. Di satu pihak Kubhlai Khan berkeinginan untuk menguasai dunia (daratan Asia). Sementara itu, Kertanegara juga mempunyai ambisi untuk menakhlukan raja-raja Jawa dan penjuru Nusantara. Karena kawasan Nusantara juga merupakan kawasan Asia, maka bertemulah perbenturan wilayah kekuasaan antara Kubhlai Khan dan Raja Kertanegara.

Baca: Kertanegara, Politik Kekuasaan Kerajaan Singhasari

Setelah Kubhlai Khan menguasai hampir seluruh daratan Asia, Ia melihat Jawa berada dalam kekuasaan Kertanegara. Oleh karena itu, Kubhlai Khan mengutus Meng Ki ke Kerajaan Singhasari dan menyuruh Raja Kertanegara mengakui kekuasaan wilayah Imperium Cina Mongol dibawah pasukan Kubhlai Khan.

Namun, hal itu tidak digubris oleh Raja Kertanegara saat itu, bahkan Meng Ki dilukai wajahnya sebagai bukti balasan penolakan atas perintah kaisar Kubhlai Khan tersebut. Melihat hal itu, Kubhlai Khan naik pitam.

Dengan segera Kubhlai Khan mempersiapkan 20.000 tentara tar-tar di bawah pimpinan Shi Pi, Ike Mese dan Kau Hsing lengkap dengan membawa segala perlengkapan perang dan bahan makanan untuk menaklukan kekuasaan Kerajaan Singhasari yang dipimpin oleh Raja Kertanegara.

Raja Kertanegara pun sudah insting, dan mengetahui resiko atas perbuatannya kepada Meng Ki. Oleh karena itu, Raja Kertanegara juga mempersiapkan diri dan melatih para prajurit untuk menghalau kemungkinan terjadinya serangan Kubhlai Khan.

Setelah lama menunggu kedatangan serangan tentara tar-tar, Kertanegara tidak sabar lagi, Ia memerintahkan semua prajuritnya untuk menyerang ke Tiongkok, dan Semenanjung Melayu. Sebagian beberapa orang penting, pasukan terbaik dan terhebat Kerjaan Singhasari diberangkatkan untuk menaklukan kekuasaan Imperium Cina Mongol.

Baca: Kertanegara, Raja yang Menentang Mongol Demi Kedaulatan

Namun, kebijakan Raja Kertanagara berbuntut naas kaena separuh kekuatan kerajaan sedang perang. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Jayakatwang, Kerajaan Kediri untuk  memberontak dan membebaskan diri dari kekangan Kerajaan Singhasari.

Beberapa pejabat penting Kerajaan Singhasari telah ditugaskan menyerang ke Tiongkok, mengakibatkan lemahnya kekuatan di istana kerajaan, sehingga dengan mudah Jayakatwang menguasai Singhasari dan Kertanegara tewas di tangan Jayakatwang.

Namun, salah satu menantunya bernama Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri dan mendirikan Kerajaan Majapahit. Kedatangan tentara tar-tar Cina Mongol untuk menaklukak Kerajaan Singhasari sudah terlambat, Kerajaan Singhasari saat itu sudah dikuasai oleh Kerajaan Kediri. Namun, kedatangan tentara tar-tar Cina Mongol itu dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk menaklukkan Kerajaan Kediri terkait ambisinya untuk membalaskan dendam leluhurnya dan menguasai kembali tanah Jawa.

Dari sekilas kisah Raja Kertanagara dalam menjalankan pemerintah kerajaan terlihat sikap tegas dalam kepemimpinannya. Mengetahui resiko dan tanggung jawab yang terjadi. Hal itu perlu dilastarikan untuk masa kini dan yang akan datang.

Penolakan Kertanegara atas permintaan kaisar Kubhlai Khan untuk mengakui kekuasannya, sudah sepantasnya dilakukan. Dari situ semangat Nasionalisme Raja Kertanegara dalam membentengi Negeri Singhasari patut ditiru kini. Semangat Nasionalisme harus ditumbuhkan kepada bangsa Indonesia sebagai warisan Raja-Raja di Nusantara, yakni Negara Indonesia.

Gagah dan beraninya seorang pemimpin seperti Kertanegara menolak pengakuan kekuasaan dari Kaisar Agung  Imperium Cina Mongol yang dikenal memiliki puluhan ribu tentara dan wilayah kekuasaan yang luas dengan cara kasar yakni melukai wajah Meng Ki. Sikap heroik tidak bergantung pada negara lain dari Raja Kertanegara patut dicontoh, yang kemudian ditelurkan dari gagasan Founding Father’s of Indonesia, Ir Soekarno dengan gagasan Berdikari ‘Berdiri diatas Kaki Sendiri’ Menolak tunduk kekuasan negara lain.

Astabrata sifat Kepemimpinan Raja Kertanegara

Berkiblat dari kepemimpinan Raja Kertanegara, pada hakekatnya pemimpin yang bijaksana harus mengutamakan kepentingan jagat atau negara di atas kepentingan pribadi. Dalam Kakawin Ramayana hal tersebut dijelaskan sebagai sikap ‘Astabrata’

Ilustrasi Raja Kertanegara, Raja dari Kerajaan Singhasari (Foto: Pendidikan 60 Menit)

Sikap ‘Astabrata’ dijelaskan sebagai delapan perbuatan baik yang tentu didasari pada istilah  ‘Asta’ berarti delapan jumlah dan‘brata’ mempunyai arti perbuatan. Maka ungkapan ‘Astabrata’ bisa diartikan sebagai delapan sifat perbuatan mulai, berikut penjelasannya:

  1. Dewa Indra, bratanya adalah sifat dan watak Angkasa (langit): Langit mempunyai keleluasaan yang tidak terbatas, sehingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keleluasaan batin dan kemampuan mengendalikan diri yang kuat, hingga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam. Indra yang diberikan oleh sang kuasa digunakan dengan bijak dan baik, guna memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat.
  2. Dewa Surya, bratanya ialah sifat dan watak Matahari. Matahari merupakan sumber segala kehidupan yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang. Seorang pemimpin mampu mendorong dan menumbuhkan daya hidup rakyatnya untuk membangun negara dengan memberikan bekal lahir dan batin untuk dapat berkarya. Matahari yang memiliki pancaran kehidupan dan energi harus menjadi tauladan bagi seorang pemimpin yang memberikan semangat, energi, dan kehidupan bagi masyarakat.
  3. Dewa Anila / Bayu (Dewa Angin), bratanya ialah sifat dan watak Maruta (angin). Angin selalu berada di segala tempat tanpa membedakan dataran tinggi atau rendah, daerah kota maupun pedesaan. Seorang pemimpin hendaklah selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya, hingga secara langsung mengetahui keadaan dan keinginan rakyatnya. Mampu membaur dan berada didalam sisi rakyatnya, seperti udara yang selalu mengitari manusia.
  4. Dewa Kuwera, bratanya ialah sifat dan watak Bintang (kartika). Bintang senantiasa mempunyai tempat yang tetap di langit, hingga dapat menjadi pedoman arah (kompas). Seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan rakyat kebanyakan, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan meyesatkan. Pemberi arah gerak kehidupan bagi masyarakat dalam simbol bintan ini harus dimiliki oleh soerang pemimpin.
  5. Dewa Baruna, bratanya ialah sifat dan watak Samudra (laut/air). Laut betapapun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yang rata dan sejuk, menyegarkan. Seorang pemimpin hendaknya menempatkan semua rakyatnya pada derajat dan martabat yang sama di hatinya. Dengan demikian Ia dapat berlaku adil, bijaksana, dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya. Air yang selalu mengalir dan memberi kehidupan sudah menjadi keharusan bagi seorang pemimpin untuk selalu menlong dan mengalir dalam segala kehidupan rakyatnya.
  6. Dewa Agni / Brama, bratanya ialah sifat dan watak Dahana atau Api. Api mempunyai kemampuan untuk membakar habis dan menghancurkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan hukum dan kebenaran secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu. Keberanian dan Ketegasan dalam simbol api harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
  7. Dewa Yama, bratanya ialah sifat dan watak Bumi (tanah). Bumi mempunyai sifat murah hati selalu meberi hasil siapapun yang mengolah dan memeliharanya dengan tekun. Seorang pemimpin seharusnya berwatak murah hati, suka memberi dan beramal, senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya. Bumi sebagai topangan kehidupan masyarakat, seorang pemimin harus mampu menopang dengan kuat masyarakatnya.
  8. Dewa Candra, bratanya ialah sifat dan watak Candra (Bulan). Keberadaan bulan senantiasa menerangi kegelapan, memberi dorongan dan mampu membangkitkan semangat rakyat, ketika rakyat sedang menderita kesulitan. Bulan cahaya dalam kesunyian malam, ditengah kelesuan dan keterbelengguan masyarakat seorang pemimpin harus menjadi semangat dan cahaya dalam kondisi tersebut.

Dari sekilas pemaparan salah satu kisah dari Raja Kertanegara dalam menjalankan pemerintahan kerajaan dapat diambil beberapa sifat yang dapat dicontoh dalam kehidupan, berbagsa dan bernegara. Tidak hanya menjadi seorang masyarakat biasan namun juga menjadi seorang pemimpin pemerintahan.

Sifat wawasan yang luas, pemberi semangat dalam kehidupan, selalu ada di sekitar rakyat, penentu arah gerak masyarakat, mengalir disetiap kehidupan masyaraat, keberanian dan ketegasan, menjadi penopang dan kuat serta memberika cahaya semangat dalam kesunyian. Beberapa sifat Raja Kertanegara dipadukan dalam Kakawain Ramayana.

Sementara itu pandangan politik pemerintahan negara, Raja Kertanegara memiliki sifat ketegasan, tanggung jawab, kuat dan berdikari serta semangat juang Nasionalisme yang tinggi. Hal tersebut yang dapat dipraktikan saat ini. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here