Kisah Penulis dan Seniman Paris 1940-an yang Mengubah Dunia

0
386
Albert Camus yang karya-karya novel dan dramanya banyak diterjemahkan ke bahasa Indonesia lahir dari komunitas intelektual Paris 1940 - 1950 yang pemikirannya banyak mengubah dunia

Nusantara.news, Jakarta – Di sejumlah negara – mungkin termasuk Indonesia – seniman dan budayawan dianggap makhluk aneh dan tidak berguna. Tapi siapa menyangka perubahan cara berpikir dengan gagasan yang mengedepankan kepentingan bersama disemaikan oleh para sastrawan, penyair, musisi, perupa, wartawan dan intelektual Paris?

Semua itu tergambar dalam buku baru Agnes Poirer berjudul “Left Bank” berkisah tentang Kota Paris yang menjadi pusat kehidupan intelektual dan artistik dekade 1940-an. Karena memang banyak intelektual berlatar belakang seniman muda – tinggal bersama di Paris. Di antara nama-nama itu yang dikenal di Indonesia dengan karya literasinya – antara lain – Albert Camus, Jean-Paul Sartre dan Samuel Beckett.

Di luar nama yang karya-karya literasinya sudah banyak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia – bahkan diterbitkan berulang kali – sebagaimana ketiga sastrawan di atas, tercatat pula nama-nama Norman Mailer, Saul Bellow, Simone de Beauvoir, Alberto Giacometti, Juliette Gréco, Miles Davis, Boris Vian, Alexander Calder, James Baldwin, Jannet Flanner, Arthur Koestler, Richard Wright dan Irwin Shaw.

Didengar Dunia

“Left Bank” adalah potret generasi yang tumpang tindih. Mereka lahir antara 1905 – 1930 yang hidup, dicintai, diperangi, dimainkan dan berkembang di Paris antara tahun 1940 dan 1950. Namun output intelektual dan artistiknya masih terekam jejaknya, bahkan berpengaruh kuat terhadap bagaimana kita berpikir, hidup, dan bahkan berpakaian hari ini.

Kegembiraan warga Paris tumpah di jalanan saat dibebaskan sekutu dari pendudukan Nazi Jerman

Setelah kengerian Perang II yang pernah mereka alami – Paris adalah tempat di mana suara paling orisinal di dunia saat ini mencoba menemukan alternatif independen dan orisinal bagi model “Kapitalis” dan “Komunis” untuk kehidupan, seni dan politik – sebuah “Jalan Ketiga”. Paling belakangan teori “the Third Way” (Jalan Ketiga) dicetuskan oleh Anthony Giddens sebagai kritik terhadap Teori Pembangunan.

Ketika itu para remaja – lelaki dan perempuan – filsuf, pelukis, fotografer, penyair, editor, penerbit dan dramawan – besar dan mengalami langsung Perang Dunia II – tidak selalu memiliki pandangan politik atau budaya yang sama. Namun mereka memiliki tiga kesamaan : pengalaman perang, sikat mereka dengan kematian, dan kegembiraan yang luar biasa saat pembebasan Paris.

Mereka pun berjanji pada diri mereka untuk merebut kembali dunia yang tersisa dalam reruntuhan. Buku Left Bank ini berkisah tentang sinergi perubahan hidup mereka dan menjelajahi interaksi di berbagai bidang seni, sastra, teater, antropologi, filsafat, politik, dan bioskop di Paris paska Perang Dunia II.

Setelah empat tahun diduduki Nazi yang tiada hari tanpa penyiksaan, galeri, jalan-jalan, klub jazz, bistro dan banyak surat kabar harian dipenuhi oleh wacana perdebatan dan lahirnya manifesto-manifesto yang pengaruhnya masih bisa kita rasakan hingga hari ini.

ALbert Camus, Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir adalah editor Majalh Combat yang memiliki pengaruh luas paska Perang Dunia II

Di antara majalah paling berpengaruh adalah “Combat”. Editor majalah ini antara lain Albert Camus, Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir. Selanjutnya lahir pula sejumlah majalah berbahasa Inggris yang terbit di Paris, yang polemik dan perdebatannya menjadi perbincangan dunia.  Karena di Paris ketika itu memang penuh dengan dinamika pemikiran yang pada akhirnya mampu menggerakkan peradaban.

Ketika editor dan seniman berteriak di Boulevard Saint Germain – seruan mereka bergema hingga ke Manhattan, Aljazair, Moskow, Hanoi dan Praha. Para intelektual, seniman dan penulis ini didengar dan “suaranya” diikuti oleh para pengambil keputusan di Eropa dan tempat-tempat lain di dunia – justru karena mereka berasal dari Paris.

Filsafat Eksistensialisme

Bersama-sama di Paris, kelompok intelektual dan seniman ini membuat penanda baru. Mereka mendirikan “new journalism” yang diakui secara resmi pada satu dekade kemudian. Tapi yang hadir di kamar hotel berasap di Left Bank adalah mengaburkan batas antara sastra dan reportase.

Penyair dan dramawan secara perlahan mengubur Surealisme dan menemukan Teater Absurd. Waiting for Godot (Samuel Beckett), The Just Assassin (Albert Camus), dan “Pintu Tertutup” (Jean-Paul Sartre) adalah naskah drama absurd yang lahir dari permenungan Filsafat Eksistensialisme yang lahir di Paris.

Di dunia seni rupa muncul lukisan-lukisan dari perupa pemula yang melampaui Realisme Sosial, mendorong abstraksi geometrik sampai batasnya – dan mendorong “Aksi Lukisan”. Para filsuf memaklumatkan aliran baru Eksistensialisme dan tidak alergi dengan partai politik. Bahkan penulis Amerika yang karyanya disensor di negaranya, Henry Miller, menerbitkan karyanya yang pertama di Paris.

Musisi jazz hitam seperti Miles Davis – tampil di Paris bersama aktris Jeanne Moreau

Para musisi jazz berkulit hitam Amerika yang menjadi korban segregrasi di negaranya, melarikan diri ke Paris, menemukan habitatnya di pub-pub dan klub-klub jazz di Paris. Jazz New Orleans mendapatkan apresiasi yang luar biasa justru setelah lahirnya bebop. Padahal jazz New Orleans lahir lebih dulu ketimbang bebop.

Yang sulit dimengerti, para padri dari Gereja Katolik yang semula sangat memusuhi Marxisme menjadi tergerak bereksperimen dengan Marxisme. Lahirnya “teologi pembebasan” mungkin tidak terlepas dari gairah intelektual Kota Paris 1940-an yang banyak melahirkan filsuf, sastrawan, pelukis dan bahkan perancang busana terkenal seperti Christian Dior yang mempublikasikan rancangannya di “New Look”.

Setelah 1944 semuanya bersifat politis – tidak ada jalan keluar bagi warga dunia – dan Left Bank sadar dengan persoalan ini. Mereka melakukan apa yang mereka bisa – termasuk mengkritisi kebijakan Amerika dan pandangan Partai Komunis.

Paris adalah – bagi mereka – tempat perlindungan dan jembatan untuk berpikir dengan cara yang berbeda. Mereka membuka kemungkinan jalan ketiga – dengan berani merangkul idealisme Perserikatan Bangsa-Bangsa dan melahirkan gagasan utopia yang kelak disebut “Uni Eropa”.

Ketidakberdayaan Intelektual

Namun ada gagasan-gagasan radikal yang lahir dari Paris – termasuk di antaranya menolak institusi pernikahan. Mereka juga kampanye hak-hak aborsi yang akhirnya disahkan 30 tahun kemudian. Termasuk mengkonsumsi obat terlarang, rokok dan alkohol dengan penuh gairah. Tapi umumnya mereka – dengan beberapa kekecualian – adalah pekerja keras bahkan ada yang disebut kecanduan kerja.

Perempuan mengambil peran sentral saat ini: Brigitte Bardot dan Simone de Beauvoir adalah salah satu wajah feminisme baru

Gerakan feminisme juga berkembang pesat di Paris. Francoise Giroud di usianya ke-29 tahun mendirikan Majalah Perempuan “Elle”. Dan 29 tahun kemudian Francoise Giroud menjadi menteri pemerintahan.

Penulis dan dramawan perempuan juga banyak lahir di Paris era 1940-an. Mereka terus berjuang agar perempuan mengambil peran sentral. Tema yang kerap mereka paparkan, sebagai perempuan anda harus tampil utuh sebagai individu, bukan hanya sebagai pendamping pria yang hebat.

Kala itu mulai banyak perempuan yang menolak menjadi “istri” atau “gundik”. Seperti halnya dalam “politik” mereka pun berusaha menemukan “sex jalan ketiga”. Kala itu sudah muncul idiom-idiom baru tentang sex yang menisbikan arti kesetiaan, hampir semua biseksual dan muncul istilah Perempuan Don Juan.

Koresponden New Yorker Paris Janet Flanner yang menuliskan semua artikelnya dengan nama samaran Genêt – seorang lesbian – bertanya kepada ibu kandungnya yang liberal dalam sebuah surat yang ditulisnya tahun 1948 : “Mengapa tidak ada hubungan seks ketiga, seks yang tidak didominasi oleh otot atau kecenderungan untuk berkembang biak?”

Dengan kata lain, Left Bank mengungkap semuanya – lelaki maupun perempuan – seniman dan pemikir –  menerapkan kode dan standar baru yang sebagian berhasil mempengaruhi dunia dan sekaligus meninggalkan sejumlah kegagalan.

Tony Judt dalam karya akademisnya “Past Imperfect : Intelektual Perancis 1944-1956″ mengkritisi Intelektual Paris memiliki kekuatan yang diberikan kepadanya oleh keadaan dan kejeniusan mereka sendiri namun gagal dalam pandangannya untuk mengubah dunia.

“Kontras ini, kegagalan intelektual Perancis untuk memenuhi harapan yang diinvestasikan oleh pengagum mereka, bersama dengan pengaruh yang diberikan oleh kehidupan intelektual Perancis di negara-negara Barat lainnya, memiliki dampak yang menentukan pada sejarah kehidupan Eropa paska perang,” ulasnya.

Tony Judt yang lahir dari tradisi pemikiran Perancis, mengaku tidak akan pernah memaafkan Sartre dan rekan-rekannya karena membiarkan orang-orang sezaman “turun” saat mereka sangat membutuhkannya. Baginya Left Bank hanya berbicara tentang ketidak-percayaan intelektual paska perang di Paris tentang kemewahan politik, seni, moral dan seksual.[] Sumber : BBC News, Wikipedia dan lainnya

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here