Kisah Raden Saleh dan Lukisan Penangkapan Diponegoro yang Mendunia

0
574
Raden Saleh pelukis Indonesia yang terkenal hingga Eropa.

Nusantara.news, Surabaya – Seniman lukis yang satu ini berbeda dengan lainnya. Raden Saleh Sjarif Boestaman namanya. Lebih dikenal Raden Saleh. Dia merupakan satu-satunya pelukis asal Indonesia yang berhasil menembus Benua Eropa dengan karya-karyanya. Bahkan, lukisan-lukisannya dipajang di museum-museum terkenal di dunia.

Dia termasuk pelopor seni lukis modern Hindia Belanda (Indonesia). Pada masa hidupnya, karya lukisannya merupakan perpaduan romantisisme yang pada saat itu sedang populer di Eropa.

Raden Saleh hidup di era kolonial Belanda. Dia keturunan priyayi Jawa. Tapi, dia juga berdarah campuran Arab. Lahir pada tahun 1807. Ayahnya bernama Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin Jahja, seorang keturunan Arab sedangkan ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen.

Sejak usia 10 tahun, Raden Saleh sudah dirawat oleh pamannya yang saat itu menjabat sebagai Bupati di Semarang. Bakatnya dalam menggambar mulai menonjol saat bersekolah di Volks-School. Ia dikenal ramah dan mudah bergaul sehingga memudahkannya untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga elite Hindia Belanda.

Adalah Prof. Caspar Reinwardt, yang merupakan pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menganggap Raden Saleh pantas mendapatkan ikatan dinas di departemennya. Dia pun kemudian dikenalkan dengan seorang pelukis keturunan Belgia, A.A.J Payen yang sengaja didatangkan dari Belanda. Kedatangan Payen ke Hindia Belanda untuk membuat sebuah lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Melihat bakat yang dimiliki oleh Raden Saleh, Payen lantas tertarik untuk memberikan bimbingan.

Baca juga: Gerilya Pak Dirman Ditiru Vietnam dan Che Guevara

Selama membimbing Raden Saleh, Payen mengenalkannya pada seni lukis Barat. Bahkan Payen mengajaknya belajar ke Belanda. Usulannya tersebut didukung oleh Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen yang memerintah pada jangka waktu tahun 1819-1826. Pada tahun 1829, bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal Hendrik Merkus d Kock, Capellen membiayai Raden Saleh untuk belajar ke Belanda.

Keberangkatan Raden Saleh ke Belanda tidak hanya untuk belajar seni lukis, namun juga mempunyai misi lain yang tertulis dalam sebuah surat. Dalam surat tersebut seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat­ istiadat dan kebiasaan orang Jawa, Bahasa Jawa, dan Bahasa Melayu.

Dua tahun pertamanya di Belanda digunakan Raden Saleh untuk belajar bahasa Belanda. Ia dibimbing oleh Cornelis Kruseman dan Andries Schelfhout. Karya-karya mereka memenuhi selera dan mutu rasa seni orang Belanda saat itu. Dalam seni lukis potret ia belajar dari Cronelis Kruseman sedangkan ia belajar tema pemandangan dari Andries Schelfhout.

Raden Saleh semakin yakin untuk menjadikan seni lukis sebagai jalur hidupnya. Ia mulai dikenal dan mempunyai kesempatan untuk mengikuti pameran di Den Haag dan Amsterdam. Saat melihat karya lukisan Raden, masyarakat Belanda awalnya menyangka bahwa lukisan tersebut dilukis seorang pelukis dari Hindia Belanda yang menguasai teknik seni lukis Barat. Tapi mereka kaget, ternyata lukisan dibuat oleh orang Pribumi dari Hindia Belanda. Masyarakat Belanda makin kagum dengan kehebatan Raden Saleh.

Setelah masa belajarnya di Belanda rampung, Saleh mengajukan permohonan agar dapat tinggal lebih lama untuk belajar wis, land, meet en wektuigkunde (ilmu pasti, ukur tanah, dan pesawat).

Pada masa pemerintahan Raja Williem II tahun 1792-1849, dia dikirim ke luar negeri untuk menambah ilmu di Dresden, Jerman. Selama lima tahun dia di Jerman mendapat status tamu kehormatan Kerjaan Herman, dan diteruskan ke Weimar, Jerman tahun 1843. Ia kembali ke Belanda pada tahun 1844 kemudian ia menjadi pelukis istana di Kerajaan Belanda.

Pada tahun 1844, Raden Saleh tinggal dan berkarya di Perancis. Di Eropa sejak awal abad 19 inilah aliran romantisisme Raden Saleh mulai berkembang. Ciri-ciri lukisan romantisisme muncul dalam karya lukisan-lukisannya. Wawasan seninya pun makin berkembang seiring dengan kekagumannya pada karya tokoh romantisisme Ferdinand Victor 1872, Eugene Delacroix (1798-­1863), pelukis Perancis legendaris.

Raden Saleh bahkan sempat menjadi saksi mata revolusi Prancis pada Februari 1848 di Paris. Mau tak mau revolusi tersebut mempengaruhi dirinya. Dari Perancis, ia bersama pelukis Perancis kenamaan, Horace Vernet, memutuskan untuk terjun ke dunia pelukisan hewan yang dipertemukan dengan sifat agresif manusia. Di kawasan inilah lahir ilham untuk melukis kehidupan satwa di padang pasir.

Baca juga: Kiai Subchi, Ulama Pencetus Senjata Bambu Runcing

Karya-karya lukisan Raden Saleh menyindir sifat nafsu dari manusia yang terus mengganggu kehidupan makhluk lain seperti: berburu banteng, rusa, singa, dan sebagainya. Dalam membuat sebuah karya, ia tidak segan-segan mengembara ke berbagai tempat agar dapat menghayati unsur-unsur dramatisnya.

Dari perburuannya ke tempat-tempat satwa liar itu, dia berhasil membuahkan sejumlah lukisan perkelahian satwa buas dalam bentuk pigura­pigura besar. Negeri lain yang ia kunjungi: Austria dan Italia. Pengembaraan di Eropa berakhir tahun 1851 ketika ia pulang ke Hindia Belanda bersama istrinya, wanita Belanda yang kaya raya.

Sebuah Karya Fenomenal

Raden Saleh terkenal dengan lukisan-lukisan yang indah dan banyak menceritakan tentang kehidupan manusia. Salah satu lukisan fenomenalnya adalah lukisan tentang penangkapan Pangeran Diponegoro oleh pemerintah kolonial Belanda tahun 1857. Dari karya ini, nama Raden Saleh mendunia.

Hebatnya, Raden Saleh bahkan mendapat pengakuan dari Ratu Elizabeth II yang mengoleksi lukisan-lukisannya, bahkan beberapa lukisan tersebut dipajang di museum seni yang terkenal di dunia.

Mendapat didikan ala Barat, Raden Saleh menjadi sosok yang menjunjung tinggi idealisme kebebasan dan kemerdekaan. Sangat wajar jika dia menentang segala bentuk penindasan. Pemikirannya tersebut digambarkan dalam sebuah lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh pemerintah kolonial Belanda yang menggambarkan peristiwa pengkhianatan pihak Belanda kepada Pangeran Diponegoro yang mengakhiri Perang Jawa pada tahun 1830. Lukisan tersebut selesai dibuat pada tahun 1857.

Baca juga: Pengikut Diponegoro Berserakan di Matraman, Pohon Sawo Penandanya

Sekilas karyanya tersebut serupa dengan lukisan milik Nicollas Pieneman pada tahun 1835. Namun Raden Saleh memberi tafsiran berbeda pada lukisannya. Pada karya Pieneman lebih menekankan peristiwa menyerahnya Pangeran Diponegoro. Di latar belakang, Jenderal De Kock berdiri berkacak pinggang . Pada lukisan Raden Saleh, Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya datang dengan niat baik, namun perundingan gagal akhirnya Diponegoro ditangkap oleh Jenderal De Kock.

Lukisan Nicollas Pieneman tentang Penyerahan Pangeran Diponegoro.

Raden Saleh melukis penanggapan Pangeran Diponegoro setelah melihat lukisan Pieneman. Ya, seakan tidak setuju dengan gambaran Pieneman, Raden Saleh kemudian memberikan sejumlah perubahan signifikan pada lukisan versinya.

Jika Pieneman disebutkan menggambarkan peristiwa tersebut dari sebelah kanan, maka Saleh dari kiri. Jika Pieneman menggambarkan Diponegoro dengan wajah lesu dan pasrah, Saleh menggambarkan Diponegoro dengan raut tegas dan menahan amarah. Pieneman memberi judul lukisannya Penyerahan Diri Diponegoro, Saleh memberi judul Penangkapan Diponegoro.

Setelah selesai dilukis, Raden Saleh mempersembahkan lukisannya kepada Raja Willem III di Den Haag. Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro baru pulang ke Indonesia pada tahun 1978. Kepulangan lukisan tersebut merupakan perwujudan janji kebudayaan antara Indonesia-­Belanda pada tahun 1969, tentang kategori pengembalian kebudayaan milik Indonesia yang diambil, dipinjam, dan dipindahtangan ke Belanda pada masa lampau.

Lukisan Penangkapan Diponegoro tidak termasuk ketiga kategori tersebut, karena sejak awal Saleh memberikannya kepada Raja Belanda dan tidak pernah dimiliki Indonesia. Lukisan tersebut akhirnya diberikan sebagai hadiah dari Istana Kerajaan Belanda dan sekarang dipajang di Istana Negara, Jakarta.

Setelah kembali tinggal di Hindia Belanda, Raden Saleh ditunjuk untuk menjadi sebagai konservator pada Lembaga “Kumpulan Koleksi Benda-benda Seni”. Walaupun menjalani profesi sebagai konservator, ia masih tetap menghasilkan karya berupa lukisan potret keluarga keraton dan pemandangan.

Kode Rahasia di Lukisan Pangeran Diponegoro

Setelah beberapa dekade, lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro menjadi sangat legendaris dan termashur dibanding lukisan aslinya milik Pieneman. Pasalnya, lukisan tersebut benar-benar mampu menggugah emosi setiap orang yang melihatnya. Ada ketegangan yang dapat dirasakan dari lukisan tersebut.

Lukisan yang harganya mencapai Rp100 miliar tersebut memiliki cerita menarik di balik pembuatannya. Menurut kurator lukisan Mikke Susanto, ada banyak kode yang terdapat dalam lukisan Raden Saleh. Kode-kode tersebut di antaranya adalah gambar beberapa sosok masyarakat yang berwajah sama sedang menyaksikan penangkapan Pangeran Diponegoro dengan menunjukkan kumis dan blangkon di kepala mereka. Bahkan keris Diponegoro pun tidak ada. Ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena itu Pangeran dan pengikutnya datang dengan niat baik.

Baca juga: Ktut Tantri, Teman Bule Bung Tomo dalam Pertempuran 10 November

Menurut Mikke, wajah-wajah itu tak lain adalah wajah Raden Saleh sendiri sebagai simbol bahwa Raden Saleh adalah pendukung Pangeran Diponegoro, sebuah makna yang terlihat sebagai sosok perlawanan. Selain itu, Raden Saleh juga dikenal gemar melukis detail. Mengenai detail pada lukisan ini, Raden Saleh melukis cincin batu akik salah satu pengikut Pangeran Diponegoro. Bukan hanya itu, dia juga detail melukis motif-motif bordir pada pakaian yang dikenakan pengikut maupun jenderal-jenderal Belanda.

Lukisan Raden Saleh tentang Penangkapan Pangeran Diponegoro.

Meski lukisan ini terinspirasi dari lukisan yang mirip, namun nyatanya lukisan Raden Saleh dianggap lebih akurat dalam menggambarkan peristiwa antara Pangeran Diponegoro dengan pihak Belanda tersebut. Hal ini karena Pieneman sendiri tidak pernah ke Hindia Belanda sehingga ia menggambarkan pengikur Diponegoro seperti orang Arab, bukan pribumi.

Ada beberapa hal yang bisa dikenang dari sosok Raden Saleh, salah satunya adalah surau (masjid kecil) yang dibangun di Dresden, tepatnya di desa dekat pegunungan Erzgebirge, Jerman. Tempat itu hingga kini masih ramai dikunjungi wisatawan.

Di Indonesia sendiri, Raden Saleh pernah memiliki rumah di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Rumah itu kini dialihfungsikan menjadi Rumah Sakit PGI Cikini. Konon, pada zamannya, setelah pulang dari negeri Belanda, Raden Saleh merupakan salah satu pribumi terkaya. Ia membangun rumah bergaya Eropa yang sangat luas lengkap dengan kebun binatang dan hal-hal unik lainnya tak jauh dari rumah tersebut.

Karena Raden Saleh dan istrinya yang berkebangsaan Belanda tidak memiliki anak, maka rumah tersebut digunakan untuk kepentingan sosial. Kini, bangunan rumah itu masih utuh dan digunakan sebagai tempat rawat inap Rumah Sakit PGI Cikini. Jalan di mana bangunan itu berdiri hari ini kita kenal sebagai Jl. Raden Saleh Raya, Menteng, Jakarta Pusat.

Pada 23 April 1880, Raden Saleh meninggal dunia. Menurut hasil dari pemeriksaan Dokter, ia meninggal dunia karena trombosis atau pembekuan darah. Ia dimakamkan di TPU Bondongan, Bogor Jawa Barat. Di nisan makamnya tertulis “Raden Saleh Djoeroegambar dari Sri Padoeka Kandjeng Radja Wolanda”, kalimat itu sering melahirkan banyak tafsir yang memancing perdebatan berkepanjangan tentang visi kebangsaan Raden Saleh.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here