Kisah Tragis Penyair Amir Hamzah yang Dibantai Komunis Perkebunan

0
1574
Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Putra, Pahlawan Nasional yang bernasib tragis. Dia berssama 26 bangsawan Kasultanan Langkat diculik dan dieksekusi di sebuah perkebunan yang menjadi sarang gerakan komunis di SUmatera Timur/ Foto Istimewa

Nusantara.news, Jakarta – Cerita sukses Amir Hamzah hanya berlaku untuk kepenyairannya. Sebab di bidang itu meskipun puisinya tidak banyak dia dijuluki Raja Penyair Pujangga Baru. Namun kehidupan pribadinya, kisah cinta dan perjalanan hidupnya berakhir tragis.

Penyair kelahiran Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara (dulu Sumatera Timur),  28 Februari 2011 itu tercatat dua kali gagal menikahi gadis yang dicintainya. Lebih tragisnya lagi Amir Hamzah yang di usia mudanya malang melintang di dunia pergerakan kemerdekaan Indonesia tewas dibunuh oleh penculiknya saat Revolusi Sosial di usianya yang baru 35 tahun 20 hari pada 20 Maret 1946. Revolusi Sosial yang terjadi di Sumatera Timur itu digerakan oleh faksi komunis yang menguasai buruh-buruh perkebunan.

Padahal sejak sekolah Amir Hamzah seorang pejuang kemerdekaan. Saat sekolah setingkat SMP (dulu namanya MULO) di Batavia, Amir Hamzah tercatat sebagai anggota Jong Sumatera yang ikut Soempah Pemoeda 1928. Begitu pun saat meneruskan SMA (dulu AMS) Boedi Oetomo Surakarta, Amir Hamzah sang penyendiri yang bersahabat dengan Armijn Pane dan Achdiat Karta Mihardja itu tercatat sebagai Kepala Cabang Indonesia Muda Surakarta pada 1930. Dia juga menjadi editor majalah pergerakan Garoeda Merapi.

Cintanya kepada tanah air memang tak perlu diragukan lagi. Tapi kenapa dia harus dibunuh? Karena dalam dirinya mengalir darah bangsawan Kasultanan Langkat. Dia lahir dengan nama Tengkoe Amir dari pasaangan Wakil Sultan Tengkoe Moehammad Adil dan istri ketiganya Tengkoe Mahdjiwa. Moehammad Adil merupakan Wakil Sultan Mahmoed untuk Luhak Langkat Hulu yang berkedudukan di Binjai.

Secara garis keturunan, Tengkoe Amir yang kemudian mengambil nama kakeknya Tengkoe Hamzah dan kemudian namanya menjadi Amir Hamzah itu keturunan ke-10 dari Sultan Langkat.  Lebih dari semua itu, Amir Hamzah adalah menantu Sultan Langkat dengan gelar Pangeran bernama lengkap Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Putra.

Setelah proklamasi kemerdekaan Amir Hamzah memang diangkat menjadi wakil pemerintah RI di Langkat. Atau setingkat Bupati. Tak lama setelah itu, tepatnya pada 7 Maret 1946 muncul revolusi sosial di Sumatera Timur yang dipimpin oleh faksi komunis. Sebuah kelompok yang menamakan diri Pemuda Sosialis Indonesia yang anti feodalisme menculik 26 bangsawan Kasultanan Langkat, termasuk Amir Hamzah. Sedangkan istrinya Kamiliah dan putri tunggalnya Tengkoe Tahoera berhasil meloloskan diri. Amir dan 26 bangsawan lainnya dibawa ke perkebunan Kuala Begumit yang dikuasai faksi komunis.

Potongan tulisan Amir terakhir, sebuah cuplikan dari kumpulan puisinya “Boeah Rindoe” yang terbit tahun 1941 ditemukan dalam sel tempatnya ditahan oleh penculiknya.

Wahai maut, datanglah engkau
Lepaskan aku dari nestapa
Padamu lagi tempatku berpaut
Disaat ini gelap gulita

Amir Hamzah dan 26 bangsawan Kasultanan Langkat lainnya dieksekusi pada 20 Maret 1946. Namun pemberontakan itu cepat dipadamkan oleh pasukan TNI. Pimpinan revolusi sosial yang ditangkap sempat diinterograsi oleh Dr. Adnan Kapau Gani. Barkali-kali pimpinan revolusi itu ditanya Amir tapi bungkam. Baru pada 1948 sebuah kuburan massal di Kuala Begumit digali dan ditemukan 27 mayat. Jasad Amir Hamzah berhasil dikenali berkat gigi palsu yang hilang. Jenasah Amir selanjutnya dikebumikan di Masjid Azizi Tanjungpura, Langkat.

Batu nisan Pahlawan Nasional Tengkoe Amir Hamzah/Foto Istimewa

Atas jasa-jasanya Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Putra dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto dengan SK No.106/Tahun 1975, tanggal 3 November 1975. Selama hidupnya Amir Hamzah menciptakan 50 buah puisi, 18 puisi prosa dan menterjemahkan sejumlah karya. Puisi-puisinya banyak dimuat di Majalah Poejangga Baroe yang dikelolanya bersama Armijn Pane dan  Sutan Takdir Alisjahbana.

Cinta yang Kandas

Di kota pusat kebudayaan Jawa itu Amir Hamzah menaruh hati pada teman sekolahnya Ilik Soendari, putri Raden Mas Koesoemodihardjo. Cinta pun bersambut. Amir mengajari Soendari Bahasa Arab, sebaliknya Soendari mengajarinya Bahasa Jawa. Lulus dari AMS yang dikelola Boedi Oetomo Surakarta, Amir Hamzah melanjutkan kuliah hukum di Jakarta atas biaya Sultan Langkat setelah ayah dan ibunya wafat. Sedangkan Ilik Soendari melanjutkan sekolah di Lembang. Keduanya secara diam-diam saling berkunjung. Tapi hubungan itu tercium oleh ayah Soendari yang tidak setuju anaknya pacaran dengan orang seberang.

Ilik Soendari yang dicintai Amir Hamzah

Pemerintah Hindia Belanda pun cemas dengan lingkungan pergaulan Amir Hamzah. Dia pun mendesak Sultan Langkat menariknya pulang ke kampung halaman. Maka Amir Hamzah yang sedang mabuk kepayang dengan Soendari dijemput oleh dua pengawal Sultan pulang ke Langkat menggunakan kapal Opten Noort dari Pelabuhan Tanjungpriok tahun 1937. Sesampai di Langkat Amir langsung dinikahkan dengan putri tertua Sultan Langkat, Tengkoe Poetri Kamiliah. Sebelum menikah Amir sempat kembali ke Jakarta untuk mengikuti ujian akhir sarjana sekaligus mengatur pertemuan terakhir dengan pujaan hatinya, Ilik Soendari.

Pernikahan Amir Hamzah dan putri tertua Sultan Mahmud , Tengkoe Poetri Kamiliah tahun 1937

Dalam biografi Amir yang ditulis NH Dini, Amir mengaku pada Kamiliah tidak akan pernah bisa mencintainya, karena hatinya sudah tertambat ke Ilik Soendari. Toh demikian, Amir Hamzah dan Kamiliah yang tinggal di istananya sendiri memiliki anak tunggal bernama Tengkoe Tahoera yang lahir pada 1939. Sebagai pangeran Amir mengurus masalah administrasi dan hukum. Setelah Republik Indonesia diproklamirkan Amir Hamzah juga diangkat sebagai wakil pemerintah RI atau setingkat Bupati di Langkat.

Memang, HB Jassin dalam artikelnya tahun 1962 menyebut “… Amir bukanlah seorang pemimpin bersuara lantang mengerahkan rakjat, baik dalam puisi maupun prosanja. Ia adalah seorang perasa dan seorang pengagum, djiwanja mudah tergetar oleh keindahan alam, sendu gembira silih berganti, seluruh sadjaknja bernafaskan kasih : kepada alam, kampung halaman, kepada kembang, kepada kekasih.

Selanjutnya Jassin juga menulis “… Dia merindu tak habis2nja, pada zaman jang silam, pada bahagia, pada ‘hidup bertentu tudju’. Tak satupun sadjak perdjuangan, sadjak adjakan membangkit tenaga, seperti begitu gemuruh kita dengar dari penjair2 Pudjangga Baru jang lain. Tapi laguan alamnja adalah peresapan jang mesra dari orang jang tak diragukan tjintanja pada tanah airnja.

Dalam percintaan selain gagal dengan Soendari, Amir Hamzah juga pernah jatuh hati dengan Aja Bun, sepupu dari garis keturunan ibunya. Konon keduanya dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Amir Hamzah pun mencintainya. Namun suatu saat Amir Hamzah mendengar kabar Aja telah menikah tanpa sepengetahuan dirinya. Amir Hamzah pun murung dan frustrasi. Dengan demikian dua kali Amir Hamzah gagal mengarungi mahligai rumah tangga dengan perempuan yang dicintainya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here