Kita Mart, Jangan Layu Sebelum Berkembang

0
338
Ustad Fadlan Gamaratan dan Kapolsek Gunung Putri Niih Hadiwijaya mendapat kesempatan belanja pertama di Kita Mart Bojong Kulur

Nusantara.news, Jakarta – Kehadiran super market Kita Mart di Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, benar-benar seperti bayi ajaib. Hanya dalam 10 hari, mampu mengumpulkan 500-an lebih anggota yang terkumpul dalam Koperasi Kita Sejahtera Bersama (KSB).

Sebagai pilot project pertama Koperasi KSB, Kita Mart memang cukup prestisius. Umumnya super market yang hadir di perumahan atau di kampung begitu berdiri tak berapa lama kemudian mati karena digilas si merah dan si biru. Tapi fenomena ini kebalikannya, walaupun belum benar-benar mati, setidaknya omzet si merah dan si biru terus merosot.

Pada saat yang sama omzet Kita Mart yang berada di tengah-tengah perumahan Vila Nusa Indah itu terus meningkat. Tak hanya melampaui Kita Mart pertama di Jakamulya, Bekasi, juga melampaui target internal Kita Mart Bojong Kulur, bahkan melampaui omzet si merah dan si biru.

Kita Mart di Jakamulya hanya beromzet Rp1 juta hingga Rp2 juta per hari. Target omzet internal Kita Mart Bojong Kulur sebesar Rp4,5 juta per hari, sementara omzet si merah dan si biru antara Rp6 juta hingga Rp9 juta per hari. Realisasi omzet Kita Mart Bojong Kulur sampai 15 Mei 2017 rerata sudah mencapai Rp12,5 juta per hari, sebuah pencapaian yang lumayan tinggi.

Konsep koperasi

Mengapa capaian kinerja Kita Mart Bojong Kulur demikian bagus? Ya, karena Kita Mart itu di bawah naungan Koperasi KSB. Dimana dengan konsep koperasi ini Kita Mart tak hanya memiliki basis modal, tapi juga sekaligus memiliki basis pembeli.

Hal ini terbukti saat launching di hari pertama, 16 April 2017, transaksi Kita Mart meledak hingga Rp43 juta. Di hari kerja omzet Kita Mart Bojong Kulur berkisar Rp6,5 juta hingga Rp20 juta, sementara di hari Sabtu dan Minggu rerata di kisaran Rp19 juta hingga Rp21 juta. Pola ini konsisten terjadi dan ke depan bisa saja terus meningkat.

Para pengurus Koperasi KSB, dalam rapat yang dipimpin Ketua Badan Koordinasi Masjid dan Musholla (BKM) Bojong Kulur, Ustad Muhammad Thaib, beberapa hari lalu menangkap adanya animor yang besar dari warga perumahan dan kampung sekitar. Itu sebabnya dalam rapat tersebut diputuskan untuk membuka gerai kedua di tempat yang lebih strategis.

“Walaupun belum dibuka secara resmi pendaftaran anggota koperasi untuk gerai kedua, sudah ada 70 anggota yang menyetor Rp1 juta kepada koperasi,” jelasnya.

Koperasi KSB adalah produk terakhir dari BKM Bojong Kulur, produk terdahulu adalah Relawan Peduli Masjid dan Musholla (RpM) yang mengurus kebersihan masjid dan mushola, Qolbun Salim yang mengurusi pengurusan jenazah, Subuh Keliling (Suling) yang mengurusi pembinaan ummat, maupun Green Zone yang mengurusi peduli lingkungan desa.

Produk Koperas KSB pertama adalah super market Kita Mart, kata Manajer Kita Mart Bojong Kulur Puarman Kahar. Selanjutnya Koperasi KSB akan mengembangkan bisnis distribusi sembako, pengadaan kebutuhan sembako masjid dan musholla maupun bisnis konsumen ritel lainnya.

Jangan puas diri

Pertanyaannya, apakah kinerja Kita Mart Bojong Kulur ini akan konsisten menanjak dengan penambahan banyak gerai? Disinilah titik kritisnya, biasanya bisnis yang melibatkan banyak ummat, ketika sudah berhasil tahap selanjutnya adalah ‘berkelahi’.

Walaupun hal ini tidak diharapkan, kerap muncul sikap ‘serakah’ dari anggota, manajer, pengurus maupun pengawas, serta distributor maupun induk semang Kita Mart itu sendiri.

“Mudah-mudahan hal itu tak terjadi,” kata Ustad Valentino Dinsi, penggagas konsep Kita Mart.

Kita Mart secara orisinil adalah gagasan dari Majelis Taklim Wirausaha (MTW) yang dibina Valentino Dinsi. Sementara Kita Mart Bojong Kulur adalah salah satu mitra usaha MTW yang paling maju belakangan ini.

MTW sendiri, kata Dinsi, sudah menyiapkan pola pengembangan bisnis Kita Mart agar tidak cepat lekang oleh zaman dengan menggandeng TransMart milik konglomerat Chairul Tanjung.

“Kita kan boleh bercita-cita naik kelas dari super market menjadi hiper market, nah TransMart siap menjadi distributor Kita Mart, disamping yang sudah ada yang dikelola oleh PT Hydro,” jelasnya.

Lepas dari kisah sukses Kita Mart Bojong Kulur, selaiknya pengurus dan pengelola Koperasi KSB perlu berkaca pada kasus Republika. Dulu koran itu dibangun dari dana umat dengan menjual saham Rp5000 per orang. Setelah maju dan berkembang, saat ini pemegang saham pengendalinya dikuasai konglomerat, dan dampak ekonomi ke umat tidak jelas.

Atau kasus majalah Sabili, dimana pengelola dimodali hanya Rp200 juta dan berhasil menjadi besar dengan membangun sistem distribusi sendiri, tanpa harus terikat dengan distributor yang sudah ada. Tapi setelah membesar pengelola ditendang begitu saja oleh pemilik.

Koperasi KSB juga tidak perlu berbangga diri dengan pencapaian yang telah ada, sebesar apapun pencapaian itu, seberapa banyak pun gerai yang dimiliki, itu semua hanya menggambarkan keberhasilan di lini hilir. Di hulu tetap saja yang menikmati adalah konglomerat-konglomerat yang kini sudah meraksasa.

Artinya, Koperasi KSB harus berpikir tak sebatas menjadi peritel modern, tapi juga sudah saatnya berfikir lebih besar, semisal menjadi distributor, dan bila perlu mengambil peran sebagai produsen dalam jangka panjang.

Artinya, ketika Koperasi KSB mau mengembangkan bisnis distribusi dan produksi, maka sudah harus berfikir profesional baik sola jalur distribusi, kemasan, kualitas produk hingga jaminan ketepatan pengantaran barang.

Kita Mart memang masih terlalu dini untuk dikatakan sukses dan masih sibuk di bisnis hilir. Sentimen bisnis yang digerakkan oleh para aktivis suling sudah benar, tinggal tantangannya bagaimana membuat Kita Mart yang dimiliki Koperasi KSB ini menjadi lebih besar dan tumbuh perlahan namun pasti.

Semoga Koperasi KSB mampu menjaga momentum dan faktor sukses kunci yang pada gilirannya membesarkan Kita Mart menjadi hiper market, distributor dan produsen.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here