Kivlan Zein: Indonesia Sudah Dikendalikan Komunis Cina

0
276
Mayjen (Purn) Kivlan Zein menjadi saksi ahli di persidangan Ustadz Alfian Tanjung di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (13/11/2017).

Nusantara.news, Surabaya – Kekuatan Komunis Cina sudah merasuk ke Indonesia. Orang-orang yang berbeda pandangan maupun yang berani mengungkit-ungkit masalah komunis akan langsung diperkarakan. Ini membuktikan bahaya laten komunis benar-benar ada. Mereka tidak suka dengan keberadaan TAP MPRS No. XXV/1966 yang isinya melarang ideologi komunis atau Marxisme-Leninisme di Indonesia.

Mayjen (Purn) Kivlan Zein menyebut komunis gaya baru. Mereka sudah melakukan pengkaderan. Berkumpul dan menggelar kongres. Kivlan juga mengatakan, dalam pergerakannya komunis tidak lagi berada di lokasi-lokasi senyap. Mereka sudah blak-blakan di sejumlah wilayah.

“Ada kongresnya. Mereka berkumpul dan musyawarah. Mulai tingkat desa hingga pusat sudah terbentuk. Kongres dimulai dari Cianjur, Sukabumi, Banyuwangi, hingga Magelang. Sebagai komunis gaya baru, mereka membina kader-kader muda PKI,” ujar purnawirawan jenderal bintang dua di sela-sela persidangan Ustadz Alfian Tanjung di Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (13/11/2017).

Selama ini Kivlan kerap bersuara lantang soal bahaya laten kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Bagi dia, komunis bukan saja ancaman, melainkan sudah nyata hadir di tengah masyarakat. Kehadiran komunis gaya baru ini, katanya, mendapat sokongan dari Komunis Cina.

Wajar jika ada orang yang menentang kebangkitan PKI, mereka langsung diperkarakan. Dibilang sudah cerita usang, dibilang salah alamat, dibilang ujaran kebencian dan lain sebagainya. Contohnya Ustadz Alfian Tanjung. Menurut Kivlan, cara pidato dan ceramah Ustadz Alfian Tanjung dianggap membahayakan bagi pendukung komunis.

“Kalau melihat dari cara pidato dia, bahasa dia, dan pengalaman dia dalam melawan bahaya laten komunis, dan kemudian diperkarakan, berarti ucapan yang disampaikan telah mengancam keberadaan mereka (komunis). Minimal yang memperkarakan adalah pendukung PKI. Boleh jadi mereka juga orang PKI. Sebab cara berpikirnya menganggap Alfian Tanjung berbahaya,” ucapnya kepada Nusantara.News.

Diakui Kivlan, PKI saat ini secara struktural sudah tidak ada. Namun secara ideologi dan secara rahasia, masih ada. Bahkan mereka kini sudah menghimpun kekuatan. Wacana tuntutan keluarga eks PKI dan simpatisannya agar negara meminta maaf kepada mereka pada tahun 2015 membuat geram banyak kalangan terutama umat Islam yang pernah menjadi korban keganasan PKI. Gagal memperalat Presiden Jokowi, mereka lantas menggunakan momentum peringatan HUT RI Agustus 2015. Tokoh-tokoh PKI seperti DN Aidit dimunculkan.

“Ya, keluar simbol-simbol perlawanan (PKI), keluar tokoh-tokoh mereka, pada 17 Agustus 2015 dari Sampang dan Jember,” terangnya.

Baca juga: Palu Arit Bertebaran di Jatim, Pertanda Kebangkitan PKI?

Minim simpati dalam negeri, mereka menggunakan bantuan asing yakni menggelar Pengadilan Rakyat Internasional atau International People’s Tribunal 1965 (IPT 1965), yang dilaksanakan pada 10-13 November 2015 di Den Haag, Belanda, bertepatan dengan setengah abad peristiwa G30S/PKI, 1965. Pengadilan tersebut menetapkan pemerintah RI telah bersalah dan melakukan pelanggaran HAM berat karena telah melakukan pembantaian kepada anggota-anggota PKI.

Partai Komunis Kendalikan Negara

Kivlan tidak membantah saat ini ada banyak pengikut paham komunis tersebar di Indonesia. Dari banyak pengikut itu, mereka sudah banyak yang dikader. Bahkan ada partai politik yang jelas-jelas memfasilitasi pengkaderan tersebut. Mereka menerima para anggota yang berpikiran mendukung komunisme.

“Ada partai politik yang mengader. Semua tahu partai yang saya maksud. Mereka memfasilitasi pendukung PKI dengan Komunis Cina,” ungkap mantan Kepala Staf Kostrad ABRI ini.

Kivlan tidak menyebut bahwa partai tersebut adalah berpaham komunis. Melainkan hanya mendukung gagasan PKI untuk pengaderan di Beijing. “Jadi kelihatannya memberi fasilitas, tapi kita tidak menyatakan itu partai komunis. Hanya memberi fasilitas bangkitnya komunis lagi. Dari kader-kader inilah nanti komunis dikesankan tidak bersalah,” tuturnya.

Dengan cara pengaderan di Beijing ini, para ahli pengaderan didatangkan dari Cina untuk menghimpun kekuatan pelan-pelan ke setiap partai politik di Indonesia. Motifnya jelas, ingin berkuasa. Ingin mengubah menjadi negara komunis, menjadi negara diktator, melarang adanya demokrasi dan tidak ada Tuhan. Ditambahkan Kivlan, saat ini kader-kader PKI seakan ingin mengesankan tidak bersalah. “Bahwa PKI ingin dianggap benar dan berjasa pada negara,” tandasnya.

Masuknya ideologi Komunis Cina di Indonesia bertujuan untuk mengendalikan negara yang ‘dijajahnya’. Seperti diketahui Indonesia merupakan negara maritim terbesar di dunia. Dengan kekayaan alam berlimpah, wajar jika Komunis Cina sangat berhasrat menguasai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan, penjajahan gaya baru Komunis Cina dilakukan melalui jalan partai.

Baca juga: Syarwan Hamid Beberkan Siklus 30 Tahun Bangkitnya PKI dan Invasi Cina

Kata Kivlan, ketika partai sudah dikuasai Komunis Cina maka semua regulasi negara sudah jatuh ke tangan mereka. Saat komunis menguasai partai, mereka menguasai negara. Secara struktur pemerintahan negara memang dijalankan kepala negara, tapi partai lebih menguasai kepala negara. Sehingga partai juga mengusai negara. Mulai dari menentukan perekonomian hingga kebijakan politik.

“Sekarang partai menentukan (kebijakan) ekonomi. Perdagangan dibuat sentralistik. Doktrinnya jelas. Manifesto komunis gaya baru. Seperti pada proyek reklamasi. Dukungan dari konglomerat dan taipan sangat kuat. Penjualan properti ini nantinya dijual ke Cina dan negara-negara pendukung komunis. Semua akan berbondong-bondong pindah ke Indonesia,” jelas Kivlan.

Masih kata Kivlan, hegemoni dan supremasi Komunis Cina mencengkram Indonesia sangat nyata. Indonesia boleh punya negara, boleh punya pemerintahan, boleh mengatur segala sesuatu sesuai dengan aturan sebuah negara dan pemerintahannya, tapi di bidang ekonomi tetap dikuasai mereka. Bahkan ada pepatah mengatakan, “rakyat Indonesia boleh hidup tapi tali nafasmu Cina yang pegang”.

Inilah diktator proletar sentralistik, sebutnya. Semua dunia berada di bawah kendali Tiongkok. Untuk itu, Tiongkok yang juga menjadi salah satu anggota APEC menawarkan konsep One Belt and One Road atau satu sabuk satu jalan yang diharapkan bisa mendorong pergerakan bebas faktor produksi dan berkerjasama multiplatform melalui konektivitas.

Presiden China Xi Jinping mengatakan, masa depan Asia-Pasifik hanya bisa diciptakan oleh rakyat kawasan ini secara bergandengan tangan, sehingga kemitraan yang saling percaya, inklusif dan kooperatif kedepannya dapat berikan keuntungan bersama.

Namun Kivlan justru mengisyaratkan, konsep satu sabuk satu jalan ini sebenarnya akan menjerumuskan Indonesia. Pada dasarnya konsep tersebut memiliki tujuan untuk melakukan ekspansi ekonomi Komunis Cina di kawasan Asia-Pasifik. Mereka ingin mengembalikan Poros Beijing yang pernah dilakukan Cina di era 1965. Dan sekarang ini, Malaysia dan Singapura telah masuk dalam perangkap.

Di era pemerintahan Jokowi, Cina mendapat angin segar. Komunis Cina sudah melakukan pengaderan. Menguasai segala lini dan sendi-sendi kehidupan rakyat Indonesia. Maka secara diam-diam, lanjut Kivlan, negara sudah dalam kendali Cina. “Pemerintah tidak berdaya. Ekonomi kita sudah dikuasai orang-orang yang berbau komunis. Saat kita hendak mempermasalahkan hal itu, kita malah diperkarakan,” urai Kivlan.

Karena itu Kivlan Zein menyebut, suatu hari Indonesia akan terjadi perang saudara. Penyebabnya, terjadi banyak disintegrasi di Indonesia. Ketika kekuatan komunis bangkit, saat itu juga muncul orang-orang nasionalis pembela bangsa Indonesia. Di sinilah perang bakal meletus. Pemerintah dianggap tidak bisa lagi mengakomodir aspirasi rakyat. Sementara banyak pribumi menjadi teraniaya dengan datangnya pendatang asing yang mayoritas Cina dan ingin menguasai Indonesia. Bila dibandingkan jaman Pak Harto, pemerintahan Jokowi berpotensi menimbulkan konflik horizontal. “Jaman Pak Harto lebih tenang!” pungkas Kivlan Zein.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here