Koalisi Bangjo Terancam Tak Terwujud di Malang, Petahana Cari Pijakan Lain

0
63
Ilustrasi (Sumber: Jatim TIMES)

Nusantara.news, Kota Malang – Santer terdengar bahwa dalam Pilkada Jatim 2018, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Paratai Demokrasi Indonseia Perjuangan (PDIP) akan berkoalasi. Koalisi tersebut kerap disebut sebagai ‘Koalisi Bangjo’.

Terbentuknya koalisi tersebut secara tidak langsung memiliki potensi yang dapat berdampak di Pilkada Kota dan Kabupaten yang juga menyelenggarakan Pilkada Serentak 2018.

Namun, bentukan koalisi tersebut juga tidak selalu berdampak masif di beberapa kota dan kabupaten di Kota Malang, megingat sangat cair dan dinamisnya peta politik. Arah dan haluan dapat diubah kapan-pun dalam hitungan hari, jam, menit bahkan detik.

Sebelumnya, telah digadang-gadang di Kota Malang akan terbentuk koalisi besar yang sama seperti di Jawa Timur yakni ‘Koalisi Bangjo’, koalisi DPC PKB Kota Malang dan DPC PDIP Kota Malang.

Beberapa statement dan kabar kedekatan Petahana dengan salah stau pengurus DPP PDIP menjadi spekulasi akan terbentuknya koalisi Bangjo di Kota Malang. Komunikasi Anton dengan DPP PDIP melalui Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto dan pengurus lain dalam membuat skema politik di Jatim memperkuat sinyalemen adanya koalisi tersebut dil Kota Malang.

Namun, baru-baru ini PDIP menegaskan bahwa partainya tidak akan memaksakan ‘Koalisi Bangjo’ untuk Pilwali 2018 Kota Malang. Hal ini disampaikan Sekretaris DPD PDIP Jawa Timur, Sri Untari. Pihaknya menilai, PDIP tidak akan memaksakan koalisi tersebut, meskipun di tataran provinsi berkoalisi. Jika memang tidak menemui win win solution, bisa dipastikan akan maju secara Berdikari (Berdiri diatas Kaki Sendiri), sesuai semangat Bung Karno.

Apalagi, kultur politik PDIP di Kota Malang sangat kental, dan menjadi salah satu pemenang suara terbanyak di Pileg Kota Malang tahun sebelumnya, dengan mengantongi 11 kursi legislatif, sehingga mampu maju mengusung pasangan sendiri tanpa harus koalisi.

“Bangjo oke, yang lain juga oke. Apabila bangjonya masih belum menemui titik temu ya no problem. PDIP bisa berdiri sendiri,” tandas Untari.

Sri Untari menjelaskan, kepastian rekomendasi paling tidak ditargetkan turun pada Desember 2017. Sembari melakukan penjajakan dengan PKB, PDIP juga memikirkan skema lain.

“Semua masih dinamis dan cair, jika sudah final nanti pasti ada informasi. Melihat kondisi hari ini kami masih perlu melihat mana yang paling dekat dan benar-benar mau berjuang bersama dengan kami untuk membangun Kota Malang mneuju yang lebih baik,” tandas Ketua Koperasi Setia Budi Wanita ini.

PKB dan Kebutuhan Koalisi

Niatan sang petahana Walikota Malang, M Anton, untuk berkontestasi dalam Pilkada Kota Malang melalui partainya (PKB), masih membutuhkan koalisi dengan partai lain. Pasalnya, PKB yang hanya memiliki enam kursi, belum mencukupi untuk mengusung pasangan sendiri. Otomotis PKB harus berkoalisi dan mencari pijakan lain untuk ikut berkontestasi dalam Pilkada Kota Malang 2018 nanti.

  1. M Anton menekankan, untuk Pilkada Kota Malang 2018 mendatang, PKB perlu menggandeng koalisi, tidak berdiri sendiri. “Yang jelas, PKB (di Kota Malang ini) perlu untuk berkoalisi. Kemarin ada pendaftaran bakal calon wakil walikota itu salah satunya yang menjadi dasar mencari dukungan dari pihak eksternal untuk bergerak bersama kami,” tekannya.

Petahana Tempel Demokrat

Belum turunnya kesepakatan antara dua belah pihak, ‘Koalisi Bangjo’, M Anton melebarkan sayapnya menjaring dan menjalin komunikasi ke partai-partai lain untuk dapat berkoalisi. Mengingat partainya membutuhkan koalisi untuk dapat berkontestasi di Pilkada Kota Malang 2018 nanti.

Pihaknya, beberapa waktu lalu menghadiri pelantikan pengurus DPC Partai Demokrat Kota Malang. Kehadiran tersebut seakan memberikan sinyal jalinan hubungan antara PKB dan Partai Demokrat.

M Anton menjelaskan bahwa sebelumnya jago Partai Demokrat, yakni Gufron Marzuqi sempat mendaftar sebagai Bakal Calon Wakil Wali Kota melalui PKB. Karena itu, menurutnya, apa salahnya bersillaturahmi untuk menguatkan persaudaraan.

“Iya masih terbuka untuk semuanya, dengan menghadapi waktu yang sangat dekat. Apa salahnya melihat dan bersilaturahmi dengan beberapa kandidat yang beberapa waktu lalu pernah mendaftar lewat PKB,” jelasnya.

Apabila hubungan PKB dan Partai Demokrat semakin intens dan rapat, hal tersebut menjadi alternatif bagi poros ‘Bangjo’ jika gagal terbentuk. “Iya apabila ada kecocokan dan sepakat. Sejauh ini saya dengan demokrat juga masih pendekatan, mungkin ada mekanisme lain diinternalnya juga,” pungkasnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here