Koalisi “Ikan Asin” Jokowi dan Diplomasi “Batik Kembar” Prabowo

0
423

Nusantara.news, Jakarta – Kontestasi Pilpres 2019 mengerucut dua poros. Peta persaingan ini menyusul kesepakatan akhir enam elit parpol koalisi pengusung Joko Widodo (Jokowi) dan hasil diplomasi Prabowo Subianto dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Keenam parpol poros Jokowi terdiri dari PDIP, Golkar, PKB, Nasdem, PPP dan Hanura. Pertemuan para elitnya berlangsung cair di Istana Kepresidenan Bogor pada Senin (23 Juli 218). Kehadiran mereka dijamu Jokowi dengan aneka menu hidangan makan malam. Mulai dari masakan gurame goreng kipas, toge ikan asin, bandrek susu kelapa, sampai masakan khas Thailand.

Kontras, pertemuan Prabowo dengan SBY yang dilangsungkan pada Selasa malam (24 Juli 2018) terkesan resmi dan serius. Mereka sama-sama berseragam batik warna cokelat. Selain membicarakan koalisi parpol, mereka juga membahas situasi politik nasional. Terutamanya menyangkut persoalan bangsa yang dihadapi saat ini.

Bagi Prabowo dan Gerindra, komunikasi sekaligus koalisi parpol yang dibangun tentu tidak sekedar untuk memenuhi persyaratan mutlak ambang batas presidential threshold (PT). Namun, hadirnya SBY dan Demokrat diharap mampu menjadi kekuatan besar penopang barisan partai oposisi.

Demokrat punya sejumlah kelebihan yang tidak dimiliki partner koalisi lainnya. Karena pernah menjadi presiden dua kali, SBY tentu masih punya jaringan serta  pengaruh dan pendukung yang besar. Yang lebih penting lagi, Demokrat bisa menjawab persoalan logistik yang selama ini dikeluhkan dan menjadi problem Prabowo.

Kekuatan lain dari Demokrat, mereka punya jagoan muda Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dalam berbagai survei, putra mahkota SBY ini memiliki elektabilitas yang tinggi. Prabowo bahkan sudah menyatakan figur AHY bisa menjadi jembatan baginya untuk meraih dukungan dari kalangan generasi milenial.

Merujuk pada dinamika akhir sikap parpol di perhelatan Pilpres 2019, maka hanya PAN dan PKS yang belum resmi declare dukungan. Kendati demikian, kedua parpol tersebut berpotensi merapat ke Prabowo. PKS sudah menunjukkan sinyal sejak awal. Sementara PAN juga sudah memastikan menutup pintu kerja sama dengan Jokowi dan “berpamitan” secara baik-baik.

Apabila kesepakatan koalisi tercapai, maka partai oposisi terdiri dari empat partai. Keempatnya yakni Gerindra, Demokrat, PAN dan PKS. Dengan komposisi ini, perhelatan Pilpres 2019 dipastikan berlangsung seru. Bukan tidak mungkin polarisasi dukungan capres dan cawapres dari level atas hingga ke bawah akan terjadi.

Kemungkinan munculnya poros ketiga memang tetap ada, menyusul gugatan judicial review (JR) atas UU Pemilu oleh Perindo dan Jusuf Kalla (JK). Namun, hal itu masih harus menunggu bagaimana keputusan MK. Bila dikabulkan, dipastikan JK akan meramaikan bursa cawapres Jokowi sekaligus bisa memicu perpecahan poros partai pendukung pemerintah. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here