Komoditas Nonmigas Dongkrak Ekspor Jatim

0
439

Nusantara.news, Surabaya – Potensi Jawa Timur perlu dioptimalkan untuk meningkatkan arus ekspor ke luar negeri. Apalagi pangsa pasar bergerak positif menyambut aneka komoditas yang dihasilkan dari sektor nonmigas. Data badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur bahkan menunjukkan ada peningkatan volume ekspor di bulan kedua 2017.

Pada Februari 2017, ekspor Jawa timur tercatat mengalami kenaikan sebesar 11,18 persen, dari 1.369,87 juta dolar AS menjadi menjadi 1,522,99 juta dolar AS. Kepala BPS Jawa Timur, Teguh Purnomo, mengatakan kenaikan itu didorong dari naiknya ekspor nonmigas yang pada Februari 2017 mencapai 1.438,92 juta dolar AS, atau naik 12,55 persen dibanding ekspor nonmigas Januari 2017 yang hanya mencapai 1.278,45 juta dolar AS.

Sedangkan ekspor migas, kata Teguh, mengalami penurunan sebesar 8,03 persen pada Februari 2017 atau mencapai 84,08 juta dolar AS, dibanding Januari 2017 yang mencapai 91,42 juta dolar AS. “Namun secara kumulatif nilai ekspor dibanding pada periode yang sama tahun 2016 mengalami penurunan, dengan catatan pada Januari sampai Februari 2016 mencapai 3.174,14 juta dolar AS, kini menjadi 2.892,86 juta dolar AS, atau turun 8,86 persen,” tuturnya.

Teguh mengatakan, sesuai catatan BPS, komoditas ekspor nonmigas Jawa Timur didominasi oleh perhiasan/permata dengan nilai 310,19 juta dolar AS, diikuti lemak dan minyak hewan/nabati sebesar 115,45 juta dolar AS.  Selanjutnya komoditas kayu dan barang dari kayu sebesar 94,94 juta dolar AS, ditambah berbagai produk kimia sebesar 71,52 juta dolar AS serta ikan dan udang sebesar 69,31 juta dolar AS.

“Untuk komoditas utama dari kelompok barang perhiasan/permata adalah perhiasan logam mulia. Di kelompok lemak dan minyak hewan/nabati adalah minyak kelapa sawit yang dimurnikan, dikelantang dan dihilangkan baunya yang dijual dalam bentuk kemasan. Pada kelompok kayu atau barang dari kayu komoditas utamanya adalah “conifer strip” jati untuk bahan lantai,” ujarnya.

Sementara itu, untuk negara tujuan ekspor produk nonmigas Jatim terbesar adalah Swiss dengan nilai ekspor 195,14 juta dolar AS, diikuti AS dengan nilai ekspor sebesar 173, 75 juta dolar AS, dan berikutnya adalah Jepang dengan nilai ekspor 151,33 juta dolar AS. “Untuk negara ASEAN tujuan ekspor komoditas nonmigas utama Jawa Timur adalah Singapura, Malaysia dan Vietnam serta Thailand. Sementara untuk negara Uni Eropa adalah Belanda, Jerman, dan Italia,” jelasnya.

Sementara untuk nilai impor Jawa Timur mengalami penurunan sebesar 7,84 persen, yakni dari 1.737,63 juta dolar AS pada Januari 2017 menjadi 1.601,38 juta dolar AS pada Februari 2017.

Teguh mengatakan, meski mengalami penurunan negara penyuplai barang terbesar ke Jawa Timur masih berasal dari Cina dengan nilai 285,05 juta dolar AS, disusul Amerika Serikat (103,78 juta dolar AS) kemudian Thailand (64,76 juta dolar AS).

“Komoditas yang mendominasi impor selama bulan Februari 2017 adalah barang nonmigas seperti mesin-mesin/pesawat mekanik, diikuti plastik dan barang dari plastik, besi dan baja, serta komoditas gandum-ganduman,” katanya.

Perkembangan ini tentu harus segera ditindaklanjuti seluruh pemangku kepentingan di Jawa Timur. Respon pasar luar negeri jadi kesempatan emas untuk meningkatkan pemasukan bagi negara. Di tengah strategi ekonomi negara lain yang menjadikan bangsa Indonesia sebagai pasar potensial produksinya, daya tahan industri terutama usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) justru menjadi andalan baru untuk meningkatkan ketahanan ekonomi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here