Komut Garuda : Sosok Pahala Mansury Penting untuk Mengatasi Tiga Tantangan

0
377
Komisaris Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Jusman Syafii Djamal di perpustakaan pribadinya

Nusantara.news, Jakarta – Komisaris Utama (Komut) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Jusman Syafii Djamal menilai terpilihnya Pahala Nugraha Mansury menjadi Direktur Utama sudah tepat.

Dengan mengingat besarnya tantangan yang dihadapi maskapai penerbangan kebanggaan nasional itu, tutur Jusman, diperlukan Dirut yang mengerti tata kelola Biaya Finansial dengan latar belakang perbankan dan ahli finansial.

“Jadi, terpilihnya Pak Pahala itu sudah tepat dan menjadi penting bagi keberlangsungan pertumbuhan perusahaan,” terang Jusman saat dihubungi nusantara,news lewat WhatsApp pribadinya, Jumat (14/4) dini hari.

Sebab sekarang ini, tambah mantan Menteri Perhubungan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2007-2009 itu, ada tiga tantangan yang mesti dihadapi PT Garuda Indonesia ke depan.

Pertama, lanjut alumni ITB kelahiran Kota Langsa, Aceh, 28 Juli 1954 ini, peningkatan Revenue Stream, aliran arus pendapatan di tengah kompetisi industri jasa penerbangan yang semakin ketat. Pendapatan yang meningkat perlu dibarengi dengan margin EBITDA yang meningkat pula. Berarti perlu adanya langkah efisiensi biaya .

Margin EBITDA itu sendiri adalah alat ukur kemampuan meraih keuntungan operasional suatu perusahan dari seluruh total pendapatan. Hal ini sama dengan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) dibagi dengan total pendapatan.

“Dan itu tidak mudah. Sebab harga avtur atau bahan bakar produk Pertamina lebih tinggi 10-15% dibandingkan harga bahan bakar Singapura. Rute Internasional Garuda mengalami disadvantage karena beban biaya bahan bakar yang lebih mahal dibandingkan maskapai penerbangan asing seperti Singapura Airline, Qatar, Emirates, yang memiliki harga bahan bakar lebih rendah,” beber Jusman.

Maskapai-maskapai penerbangan itu, lanjut Jusman, bisa memiliki Cost Advantage dan Price yang lebih rendah untuk menarik pelanggan.

Selanjutnya kedua, tandas Jusman, tantangan yang muncul dari investasi berkenan dengan langkah peremajaan dan modernisasi fleet (armada kapal) yang dilakukan. Peremajaan armada (fleet) baginya sangat urgent untuk mengatasi tingginya persaingan di industri jasa penerbangan.

Kini jumlah Armada pesawat Garuda, ungkap Jusman, meningkat menjadi 196 pesawat, dengan rincian pesawat berbadan lebar (Wide Body) untuk penerbangan Internasional ada 36 unit, dan pesawat berbadan langsing (Narrow Body) seperti jenis Boing 737, CRJ dan ATR 72-600 kesemuanya ada 144 unit. Sedangkan Citilink, anak perusahaan Garuda, memiliki 52 unit pesawat.

“Oleh karenanya diperlukan tatakelola dan pemanfaatan strategi rute yang baik. Penempatan pesawat dan strategi operasi harus didasarkan pada pilar Safety (keselamatan), pilar Cost of Operation (biaya operasional) yang competitive dan pilar paling utama adalah On Time Performance (terbang tepat waktu) dan Customer Satisfaction (kepuasan pelanggan),” paparnya.

Jusman juga menambahkan, masalah manajemen produksi fleet dan layanan jasa yang tidak mudah. Namun Jusman merasa beruntung, sebab Garuda memiliki Pilot dan Awak Kabin serta Ground Crew yang profesional dan berdedikasi tinggi.

Selanjutnya tantangan ketiga, Investasi Modernisasi Pesawat merupakan langkah kebijakan yang harus diambil untuk competitiveness. Agar market domestik tidak digerus oleh maskapai penerbangan asing. Di sini tetap diperlukan investasi pesawat baik berbadan lebar maupun langsing padat modal dan padat teknologi.

“Tapi itu memerlukan peran Direktur Utama yang baru dengan latar belakang perbankan dan ahli finansial. Sosok seperti Pak Pahala menjadi sangat penting bagi kelangsungan pertumbuhan perusahaan,” pungkas Jusman sekaligus mengakhiri wawancaranya dengan nusantara.news. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here