Konflik Air di Malang Raya Ancam Kehidupan Warga

0
168

Nusantara.news, Kota Malang – Konflik air di Malang Raya, khususnya di Kota Malang dan Kabupaten Malang ancam keberlangsungan hidup warga sekitar. Pasalnya penggunaan air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat. Hal tersebut terutama didera oleh para pelanggan PDAM.

Konflik tersebut bersumber pada perseteruan  antara Pemerintah Kota dan Kabupaten Malang terkait perjanjian air masih terus bergulir. Bahkan belum terselesaikan hingga berbuntut pada kebutuhan masyarakat Kota Malang akan air bersih.

Direktur Teknik PDAM Kota Malang, Teguh Cahyono menjelaskan, bahwa ada gangguan air yang menimpa kawasan Kota Malang bagian selatan meliputi Gadang dan Kebon Agung.

“Selama satu pekan ini, pasokan air yang berasal dari Sumber Pitu Kabupaten Malang dikurangi secara bertahap. Sejauh ini pihak kami belum mengetahui alasannya, bisa jadi karena konflik perjanjian yang belum selesai,” jelasnya.

Tidak hanya itu, berdasarkan beberapa keterangan dan informasi dari warga, tidakhanya daerah gadang dan kebonagung, di kawasan Sukun dan Arjosari, pun terjadi kemacetan aliran air.

Selama satu pekan ini, pihak PDAM sudah mendistribusikan air bersih ke warga menggunakan Truk Tangki. Sebanyak tiga unit truk digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya di kawasan kota bagian selatan. “Dalam sepekan ini, kami mendistribusikan air ke warga melalui truk tangki,” tegas Dia.

Perseteruan konflik air antar PDAM tersebut berimbas pada masyarakat. Yanti, seorang ibu rumahtangga di Perumahan Sawojajar sempat merasa kesal, karena air bersih hanya mengalir dengan debit yang kecil.

Tak jarang, aliran air tersebut macet pada saat dibutuhkan. Padahal, setiap hari kebutuhan air bersih itu selalu digunakan untuk berbagai kegiatan di rumah. “Kurang tahu itu kenapa airnya sering mati, dengar dengar dari kantor PDAM mungkin,” tuturnya.

Selain itu, Warga Perumahan Gadang Nirwana Regency, Rudi Budiono mengungkapkan bahwa saluran air PDAM miliknya mati total. Akibatnya, dia mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

“Iya tiba-tiba air tidak mengalir, saya coba tanya beberapa warga sekitar juga mengeluhkan masalah yang sama.” ungkap Rudi.

Pihaknya bahkan harus mengungsi ke rumah mertua karena keperluan sehari-hari yang membutuhkan air tidak mampu diakses.

Salah seorang warga Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Winarti, juga mengeluhkan hal yang sama. Dikatakan, bahwa kran air di rumahnya hanya berfungsi pada saat-saat tertentu, itu pun amat terbatas. “Aliran air mengalir pada saat tertentu dan mengalirnya pun lemah tidak deras,” keluhnya.

Sampai sejauh ini, belum ada kesepakatan final antara PDAM Kota Malang dengan Pemerintah Kabupaten Malang terkait perjanjian pembelian air dari sumber yang terletak di wilayah Kabupaten Malang. Pertemuan antara kedua belah pihak pun kerap beberapa kali dilakukan, namun belum menemui kejelasan.

Sebelumnya, PDAM Kabupaten Malang sempat meminta agar perjanjian kerjasama tentang air bersih bersama Pemerintah Kota Malang untuk diperbarui. Salah satu titik terberat dalam perjanjian tersebut berkaitan dengan nilai harga air yang belum juga disepakati antar kedua belah pihak. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here