Konglomerat Tiongkok Jangan Matikan Pengusaha Kecil

0
94
Gubernur Jatim Soekarwo dan Konjen RRT Mr Gu Jingqi (Foto: Humas dan Protokol Pemprov Jatim)

Nusantara.news, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Soekarwo meminta para pengusaha Tiongkok meningkatkan kepedulian dan membela rakyat kecil di Jatim. Pakde Karwo sapaan Soekarwo juga menegaskan, hubungan yang semakin baik antara Tiongkok dan Indonesia harus membawa manfaat dan berdampak positif bagi masyarakat dan pelaku usaha kecil di Jatim.

“Terutama bagi masyarakat kecil yang seringkali kalah dalam pertarungan pasar,” pinta Soekarwo saat berbicara di HUT ke-68  Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Ball Room Hotel Shangri-La, Surabaya, Kamis (28/9/2017), malam.

Pakde Karwo mengakui, kalau ekonomi dunia khususnya Tiongkok semakin membaik dan mendunia. Namun, jika sektor industri semakin efisien dan pelaku usaha kecil terus terpinggirkan, pendapatan ekonomi mereka akan semakin menurun. Itu artinya, hubungan antara yang kuat dan yang kecil tidak sehat, karena terus menjadi korban oleh yang kuat.

“Saya mengajak pengusaha Tiongkok untuk menyisihkan sebagian keuntungan, membantu masyarakat khususnya pada industri dan ekonomi kecil,” ajaknya. Ditambahkan, siklus antara produksi dan pasar harus berjalan seimbang. Jika tidak dilakukan dan terus terjadi, dikhawatirkan masyarakat yang kecil kalah di kompetisi pasar. Jika itu yang terjadi produk-produk asal Tiongkok tidak ada yang membeli, akibat daya beli masyarakat terus menurun.

“Saya khawatir siklus ekonomi menuju ke sana,” tegasnya.

Gubernur Jatim Soekarwo dan Konjen RRT Mr Gu Jingqi (Foto: Humas dan Protokol Pemprov Jatim)

Untuk membela masyarakat kecil, lanjut Pakde Karwo perlu dilakukan langkah langkah kongkrit. Di antaranya peningkatan hubungan kerjasama serta menanamkan investasi secara nyata. Pelaku industri besar harus memberikan kesempatan kepada industri kecil untuk berkembang, bukan sebaliknya.

“Pelaku industri besar harus memberi kesempatan kepada industri kecil untuk dapat berkembang. Saya melihat pengusaha Tiongkok memberi kesempatan ke arah itu,” tambahnya.

Di hadapan undangan termasuk Konjen AS, Jepang, Australia dan para pengusaha dari perwakilan negara-negara sahabat, Pakde Karwo juga mengajak untuk terus bergandengan tangan membantu industri kecil di Jatim.

“Percuma produksi dilakukan secara efisien jika daya beli masyarakat turun. Mari bersama-sama membantu industri kecil agar terus hidup dan tumbuh sehingga daya beli masyarakat juga terus meningkat,” tegasnya.

Jatim Menguntungkan Tiongkok 

Gubernur Jatim Soekarwo bersama penggusaha Tiongkok (Foto: Humas dan Protokol Pemprov Jatim)

Konjen RRT Mr Gu Jingqi mengatakan, Jatim memiliki tempat khusus bagi warga Tiongkok. Hubungan komunikasi dan kerja sama yang telah terjalin intens akan terus diperkuat. Termasuk, komitmen untuk membantu tumbuhnya para pelaku usaha kecil di Jatim.

“Sudah tiga tahun, Provinsi Jatim dan Tianjin saling mendirikan pusat pertukaran dan kerjasama dan mendapatkan hasil yang pragmatis,” ujar Gu Jingqi.

Menuju ke arah itu Tiongkok dan Pemprov Jatim mengadakan Matchmaking Meeting antar perusahaan asal Tiongkok juga dengan Dinas Pendidikan, mengadakan Lomba Pengetahuan Budaya Tiongkok dengan menyertakan pelajar SMA dan mahasiswa. Upaya tersebut dikatakan sebagai hasil usaha pemerintah dan masyarakat.

“Saya percaya perkembangan hubungan persahabatan Tiongkok dengan Indonesia akan menciptakan kesejahteraan di masa mendatang,” terang Gu Jingqi.

Ditambahkan, hingga saat ini nilai GDP Tiongkok meningkat dari 10 milliar US Dollar menjadi 11 trilliun US Dollar. Tiongkok telah menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke dua di dunia. Juga menjadi negara dengan cadangan devisa dan industri manufaktur terbesar di dunia.

Di bidang infrastruktur, Tiongkok memiliki kereta api cepat dengan panjang mencapai 22 ribu kilometer, mencapai lebih dari 60 persen dari panjang jalur kereta api cepat di seluruh dunia.

Hubungan kemitraan antara Tiongkok dan Indonesia itu terus berkembang. Memasuki masa yang terbaik dalam perjalanan sejarah persahatan. Hubungan ekonomi dan perdagangan itu akan terus diperluas. Nilai perdagangan kedua negara telah mencapai 47.6 milliar US Dollar. Investasi Tiongkok ke Indonesia juga terus meningkat dan mencapai 5 milliar US Dollar.

Gu Jingqi menambahkan, jumlah wisatawan asal Tiongkok yang berkunjung ke luar negeri juga terus meningkat, saat ini tercatat mencapai 122 juta jiwa. Sebanyak 1.02 juta jiwa wisatawan Tiongkok datang dan berlibur ke Indonesia. Itu akan terus ditingkatkan. Termasuk untuk pertukaran budaya.

“Hingga paruh pertama tahun 2017, jumlah wisatawan Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia mencapai 1.02 juta jiwa,” terangnya.

Sementara, dalam prosesi peringatan HUT negeri tirai bambu itu juga hadir antara lain Konjen Amerika Heather Variava, Konjen Jepang Mr. Masaki Tani; Konjen Australia Mr Chris Barnes. Termasuk anggota DPR RI dari PDI Perjuangan, Indah Kurnia dan Ketua PW Muhammadiyah, Saad Ibrahim.

Indonesia Tujuan Investasi, Namun Lebih Banyak ke Malaysia

Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian, Harjanto membenarkan Indonesia salah satu negara tujuan investasi Tiongkok, termasuk 10 negara manufaktur terbesar dunia. Meningkatnya investasi Tiongkok ke Indonesia diharapkan membawa dampak positif bagi peningkatan daya saing industri dalam negeri.

Sejumlah investasi Tiongkok yang sudah berjalan di Indonesia antara lain, PT Sulawesi Mining Investment, bidang pertambangan nikel dengan kapasitas 300 ribu ton per tahun dengan nilai investasi 636 juta dolar AS, terletak di Morowali Industrial Park, Sulawesi Tengah.

Kemudian PT Sulawesi Mining Investment, adalah smelter nikel pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi Arc Furnace Rotary Kiln. PT Virtue Dragon Nickel Industry, bergerak di bidang pengolahan ferronikel di Konawe, di Sulawesi Tenggara. Dengan nilai investasi 5 miliar dolar AS dengan kapasitas 600 ribu ton per tahun. Anhui Conch Cement Company, industri semen dengan total investasi 5,7 miliar dolar AS, berkapasitas produksi 20 juta ton per tahun.

Selanjutnya, Anhui Conch Group akan membangun lima integrated plant dan satu grinding plant di Kalimantan Selatan. Kemudian di Banten, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Papua Barat.

China Communications Constructions Company Ltd. (CCCC) mengaku akan ikut berpartisipasi untuk pengembangan kawasan industri di luar Pulau Jawa. Diharapkan mampu menarik unit-unit usahanya untuk berinvestasi di sektor manufaktur di Indonesia.
Banyaknya peluang itu, CCCC menyebut Indonesia merupakan mitra potensi yang strategis dalam pengembangan proyek infrastruktur. Termasuk pembangkit tenaga listrik, jembatan, dan jalur kereta api.

China Harbour, salah satu unit pengembangan mengaku tertarik pada pengembangan kawasan industri di Kuala Tanjung dan kerja sama di sektor pelabuhan. Yang sudah terwujud penandatanganan MoU antara Tsingshan Group dan Delong Group dengan PT Indonesia Morowali Industrial Park yakni, kerja sama pembangunan pabrik carbon steel di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah, kapasitas 3,5 juta ton per tahun dengan nilai investasi 980 juta dolar AS.

MoU lainnya, Tsingshan Group dan Bintang Delapan Group dan PT Indonesia Morowali Industrial Park, untuk kerja sama pembangunan pembangkit tenaga listrik berkapasitas 700 MW, senilai 650 juta dolar AS, di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah.

Sejumlah investor Tiongkok juga tengah menjajaki peluang investasi lainnya, di antaranya Zhengzhou Demeter New Energy Technology Co Ltd, Shandong Water Development Group Co Ltd, China Meheo, CEFC Beijing International Energy Company Limited, Jiangsu Boda Enviromental Protection Co Ltd, Beijing Huayou International Logistics & Engineering Service Co Ltd, dan Risen Energy Co Ltd.

China Going Global Investment Index (CGGII) 2015 menempatkan Indonesia di urutan ke-44 dari 67 negara penerima investasi Xi Jinping. Peringkat itu lebih rendah dibandingkan Malaysia, yang di peringkat ke-20.

Lima negara teratas yang menyerap paling banyak investasi dari China adalah Amerika, Singapura, Australia, Kanada, dan Swiss. Sementara, ada dua negara yang dijauhi oleh pengusaha asal Tiongkok, yakni Angola dan Libya.

Kereta Cepat Pasar Empuk Tiongkok

Kereta Cepat Tiongkok (Youtube.com)

Dari berbagai jenis investasi asal Tiongkok, kereta cepat menjadi andalan, termasuk untuk rute Jakarta-Bandung, senilai US$5,5 miliar. Itu merupakan investasi terbesar di tahun ini. Investasi lainnya yang juga diincar adalah sektor pendukung, seperti pembuatan sarana kereta api, perakitan, serta besi dan baja untuk pembuatan gerbong, yang berkaitan dengan proyek kereta cepat.

Proyek tersebut dikerjakan oleh konsorsium China Railway International Co. Ltd dengan gabungan empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tergabung di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Proyek ini dijadwalkan beroperasi mulai 2019.

Data BKPM, realisasi investasi asal Tiongkok tahun lalu sebesar US$ 1,56 miliar dari capaian sebelumnya US$ 1,45 miliar. Pertumbuhan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dari Tiongkok termasuk Hong Kong, tahun 2015 meningkat 7,58 persen. Di periode yang sama, minat investasi tercatat sebesar US$ 22,2 miliar. Yakni 22,97 persen dari seluruh minat PMA yang masuk sebesar US$ 96,64 miliar.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here