Kongres PKC, Cina Pertegas Dominasi Global

0
105
Presiden Cina Xi Jinping. Foto Reuters

Nusantara.news – Rabu 18 Oktober 2017, masyarakat Cina bahkan dunia menyaksikan sebuah peristiwa politik bersejarah di negara yang saat ini digadang-gadang akan mendominasi ekonomi global, yakni Cina. Negeri Panda ini, bahkan disebut-sebut bakal menggantikan “rival” globalnya, Amerika Serikat untuk memimpin dunia. Hari Rabu ini, negara tersebut menggelar Kongres Partai Komunis Cina (PKC) yang rutin diselenggarakan dua kali dalam satu dekade. Kali ini adalah Kongres yang ke-19 sejak partai tersebut didirikan pada 1921.

Dipastikan, mata dunia akan mengarah ke Beijing hari Rabu ini, di mana Presiden Cina Xi Jinping akan memberikan sebuah laporan Partai Komunis, partai berkuasa di Cina, mengenai arah dan rencana negara itu untuk lima tahun ke depan.

Sejumlah negara di Asia, Timur Tengah maupun Barat (Amerika dan Eropa) tentu akan mencermati arah kebijakan Xi Jinping di tahun-tahun pemerintahannya mendatang.

Dikutip South China Morning Post, Presiden Xi Jinping diperkirakan akan muncul pada kongres partai komunis tersebut pada Rabu. Saat ini, di lingkungan partai, Xi dianggap tokoh paling kuat dalam politik Cina sejak Mao Zedong. Presiden Cina itu diperkirakan akan menunjukkan cara diplomasi luar negeri yang lebih tegas pada kongres nasional partai komunis kali ini. Cara yang mungkin sebelumnya belum pernah terlihat. Dalam kongres nasional kali ini, Xi juga diperkirakan akan melakukan konsolidasi untuk semakin memperkokoh “kekuasaan”nya.

Akan hadir sekitar 2.200 delegasi dalam kongres yang akan memilih anggota dari 25 orang Politbiro dan Komite Tetap (Standing Committe), yang berkuasa dan merupakan badan kepemimpinan tertinggi negara yang hanya terdiri atas tujuh orang.

Presiden Xi Jinping sendiri akan menjalani masa jabatan keduanya sebagai sekretaris jenderal Partai Komunis Cina, dia juga saat ini telah disebut-sebut sebagai “inti” dari partai tersebut. Bahkan beredar kabar konstitusi partai juga akan diubah untuk memasukkan apa yang disebut sebagai ‘Teori Xi Jinping’, agar presiden Cina itu dapat mensejajarkan dirinya dengan Mao Zedong dan Deng Xiaoping di partai tersebut.

Editorial surat kabar resmi China Daily yang terbit pada Selasa, (17/10) menuliskan bahwa “pemikiran diplomatik baru Cina” menjadi dasar dari teori ini (Xi Jinping Theory).

Selama masa pemerintahannya (sejak 2012) Xi Jinping telah mencatat perjalanan sejauh 570.000 kilometer dengan pesawat carterannya, dia juga telah menghabiskan sekitar 193 hari di luar negeri dalam 28 kunjungan ke 56 negara di lima benua, menurut juru bicara partai kepada People’s Daily.

Surat kabar tersebut mencatat, Xi telah menunjukkan kontribusinya terhadap globalisasi ekonomi, dengan Cina menjadi tuan rumah G20, lalu pembentukan Asian Infrastructure Investment Bank, dengan banyaknya perjalanan ke luar negeri untuk melakukan diplomasi.

Padahal, menurut direktur Lau China Institute di King’s College London, Kerry Brown, di masa lalu, kebijakan luar negeri Cina hanya berkisar 5 persen saja, mengemuka pada waktu Kongres.

“Sebagian besar dibahas masalah domestik, namun berkat ‘kesempatan’ yang dibuka oleh Trump, dan kerja keras Xi Jinping selama beberapa tahun terakhir dari sisi kebijakan luar negeri, kongres kali ini akan menjadi kongres partai ‘global’ yang pertama,” kata Profesor Brown.”

“Kongres ini adalah semacam pengakuan, bahwa hanya dengan menjadi aktor global, Cina bisa menjadi hebat,” katanya.

Kepala studi pemerintah Hong Kong di Baptist University, Jean-Pierre Cabestan, juga mengatakan, selama lima tahun terakhir, Xi Jinping telah mempromosikan Cina ke “puncak permainan” kekuatan besar, dibantu oleh ‘kesulitan’ yang tengah dialami Amerika Serikat.”

Xi, menurut dia, “Telah menciptakan sebuah ‘mitos baru’ bahwa Cina adalah siswa terbaik globalisasi ekonomi, dan telah secara sangat baik memposisikan dirinya di puncak perjuangan melawan perubahan iklim,” katanya. Cina juga belakangan sangat aktif dalam operasi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Namun demikian, kenaikan Cina ke pentas global, khususnya terkait dominasi ekonomi, bukan tanpa masalah. Menurut Profesor Cabestan, gebrakan Cina juga kerap menuai protes dari para negara tetangga di kawasan. Bahkan, di dalam negeri Cina sendiri, ambisi Xi Jinping untuk membangun “Jalur Sutera Baru” atau yang dikenal dengan ‘Belt and Road Initiative’ juga mendapat reaksi. Kebijakan luar negeri Xi untuk menciptakan rute perdagangan baru dengan menawarkan miliaran dolar ke berbagai negara untuk berinvestasi di bidang infrastruktur dirasakan terlalu berat bagi perekonomian Cina.

Betapa pun demikian, People’s Daily mengatakan bahwa Xi Jinping telah membuktikan tentang kekuatan diplomasi Cina di luar negeri. Di bawah Xi Jinping, dikatakan diplomasi Cina lebih strategis dan proaktif. Misalnya, dengan memasukkan isu Kepulauan Diaoyu yang disengketakan, Laut China Timur dan Laut Cina Selatan sebagai isu utama, di mana Cina dengan sangat jelas menunjukkan sikapnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here