Konsep Go Green Kampung Glintung Mencuri Perhatian Dunia

0
454
Kampung Glintung Kota Malang

Nusantara.news, Kota Malang – Konsep pengelolaan pemukiman yang hijau dan ramah lingkungan di kampung Glintung, Kota Malang, itu berjasil mencuri perhatian masyarakat dunia dengan menyabet penghargaan Ghuangzou Award Urban Innovation 2016 lalu di Cina. Terlebih konsep Kampung Go Green Glintung (G-3) itu didisain berkemampuan mencegah bahaya banjir.

Memang, gagasan itu muncul karena seringnya banjir menggenangi Kampung Glintung, khususnya RW 23, Kelurahan Purwantoro, Kota Malang pada musim penghujan. Sejak itu sejumlah warga dengan didampingi oleh Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Brawijaya berinisiatif mengatasinya.

Desain perkampungan dengan nuansa penghijauan, nampak tumbuhan berjajar rapi tertata di pot dan tembok-tembok kampung lengkap dengan tanaman gantung. Suasana itu membuat udara di sekitar Kampung Glintung menjadi sejuk segar.

Selain konsep penghijauan atau Go Green, kampung yang terletak di Kelurahan Purwantoro itu juga dibangun sistem drainase yang memadahi. Dibangunlah parit-parit serta biopori beragam ukuran, parit resapan, bak kontrol resapan, dan sumur resapan. Kini, 2 tahun terakhir jarang terlihat genangan air memasuki perkampungan itu.

Kampung 3G saat ini memiliki 700 biopori dan 7 sumur injeksi. Setiap 100 meter lintasan jalan dan gang kampung dipasang parit resapan, dan 5 bak kontrol resapan. Lubang biopori ini memiliki kedalaman 1 meter.

“Perhitungan kami apabila sekali hujan, minimal sekitar 100 ribu liter air masuk ke dalam tanah Kampung Glintung dengan kapasitas penyimpanan hingga 49.000 liter air,” jelas Ketua RW 23 Kampung Glintung, Bambang Irianto.

Cara tersebut yang kemudian digalakkan masyarakat setempat dan diberi nama Gerakan Menabung Air (GERAM) (water banking movement). Gerakan inovatif masyarakat Glintung tersebut selain meningkatkan daya resap air ke dalam tanah, cara ini akan membuat suhu udara turun sehingga mengurangi pemanasan global.

Inspirasi dan Penghargaan Internasional

Konsep pemukiman Kampung Glintung yang unik akan kehijauannya dan juga penanggulangan bencana banjir tersebut yang kemudian menjadi pusat perhatian khalayak internasional. Menjadi sebuah inspirasi, Kampung 3G ini terpilih sebagai inovasi pertama di dunia dalam ajang Ghuangzou Award Urban Innovation 2016 lalu di Cina.

Penghargaan Guangzhou disponsori oleh United Cities and Local Government (UCLG), Asosiasi Dunia Metropolises Utama (Metropolis) dan Kota Guangzhou. Tujuan dari Guangzhou Award adalah untuk mengenali inovasi dalam meningkatkan keberlanjutan sosial, ekonomi dan lingkungan di kota-kota dan wilayah, dan dengan demikian, untuk memajukan kemakmuran dan kualitas hidup warganya.

Penghargaan itu diberikan kepada penataan komunitas pemukiman terbaik setiap dua tahun sekali. Tujuannya adalah mendorong inovasi dalam kebijakan publik, proyek, model bisnis dan praktik.

Kampung 3G Glintung masuk dalam 15 besar dari 301 kota di dunia sebagai pemukiman kreatif dan inovatif. Hal itu tentunya menjadi kebanggan tersendiri bagi Indonesia, khususnya warga Kota Malang.

Prestasi lain yang diraih Kampung 3G Glintung adalah sebagai satu dari 72 ikon prestasi Indonesia oleh Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Penghargaan itu disematkan pada Festival Prestasi Indonesia di Jakarta Convention Center (JCC) dan masih banyak lagi.

Konsep pemukiman Kampung 3G Glintung dengan gerakan konservasi air, penghijauan ruang-ruang pemukiman gerakan menabung air atau water banking yang menjadi sorotan dan perhatian bagi khalayak berbagai daerah dalam ruang lingkup nasional hingga mancanegara.

Jawaban bagi Permasalahan Urban Perkotaan

Inovasi Kampung 3G Glintung merupakan sebuah terobosan penataan pemukiman sekaligus penanggulangan masalah urban perkotaan. Seperti halnya suhu udara yang semakin panas, kepadatan penduduk, minimnya ruang hijau karena marak pembangunan, banjir yang kini acap mengguyur Kota Malang.

Kampung 3G Glintung diharapkan menjadi sebuah contoh miniatur penataan pemukiman kota kedepan yang lebih baik. Konsep penghijauan ruang-ruang dan sudut sisi wilayah serta beberapa langkah lainnya dapat diterapkan dalam penataan Kota Malang kedepan.

Bambang Irianto, Ketua RW 23 Kampung Glintung, Kelurahan Purwantoro menyebutkan dengan melihat penerapan gerakan menabung air secara langsung, akan memudahkan pihaknya menduplikasi konsep tersebut di kota-kota lain di berbagai penjuru dunia. “Kami berharap konsep ini dapat diduplikasi manfaatnya di regional wilayah kami. Juga di daerah lain karena gerakan sederhana dapat membuat transformasi sebuah kota,” jelasnya.

Zaman semakin berkembang, pembangunan pun semakin marak, tak sedikit pembangunan kerap kali menegesampingkan pentingnya ruang-ruang hijau perkotaan. Kini Kota Malang tengah menghadapi persoalan perkotaan yakni kerapatan bangunan yang relatif padat.

Parit Sumur Resapan Kampung Glintung

Kerapatan bangunan tersebut memiliki potensi dan kontribusi atas penyempitan, penyumbatan serta tidak maksimalnya saluran air/drainase di setiap sudut sisi perkotaan. Alhasil di Kota Malang yang dikenal sebagai wilayah dataran tinggi, kerap mengalami banjir akhir-akhir ini.

Luberan air yang berpotensi banjir serta meningkatnya suhu udara dan berkurangnya debit air sumur itu merupakan salah satu permasalaah urban perkotaan yang muncul.

Memang, krativitas warga, lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah setempat dalam melakukan inovasi pemukiman yang hijau, ramah lingkungan dan berkemampuan menanggulangi banjir di Kampung Glintung patut mendapatkan apresiasi. Semoga menjadi contoh bagi komunitas pemukiman masyarakat lainnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here