Rencana Pembangunan Bandara di Kediri

Konsep ‘Green Field’, Peluang Swasta Biayai Penuh Infrastruktur

0
147

Nusantara.news, Surabaya – Niat pemerintah menambah jaringan infrastruktur di Jawa Timur kerap terbentur masalah pembiayaan. Kekurangan ini membuka celah swasta untuk berpartisipasi. Partisipasi dunia usaha dalam pembangunan tentu itu sah-sah saja sepanjang  tidak mengabaikan kepentingan lebih besar, sebagaimana kasus reklamasi pantai utara DKI Jakarta.

Sikap Gubernur Soekarwo yang setuju PT Gudang Garam membangun bandara udara (bandara) di Kabupaten Kediri merupakan bagian dari upaya membuka peluang swasta untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur. Apalagi jika dikaitkan dengan keterbatasan anggaran yang dimiliki Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur maupun pusat untuk membangun konektivitas antardaerah di kawasan selatan Jawa.  

Gayung bersambut. Laporan Pakde Karwo ke Presiden Joko Widodo ketika hadiri dalam rapat kabinet terbatas di Istana Negara ternyata mendapat lampu hijau (14/3/2017). Namun proyek ini tidak bisa langsung dijalankan. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sepertinya masih perlu melakukan kajian lebih mendalam, termasuk mengidentifikasi kemungkinan dampak negatif yang terjadi.

“Belum. Semuanya masih evaluasi,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso usai memberikan pengarahan keselamatan di Kantor Kemenhub tiga hari pasca rapat kabinet terbatas itu.

Hanya saja, Agus menegaskan bahwa peran swasta memang dibutuhkan, karena keterbatasan Anggaran dan Pendapatan Belanja Pemerintah (APBN). Peran itu diakomodir dalam konsep “green field“, yakni konsep pengeluaran dana investasi yang seluruhnya dari perusahaan swasta.

“Kami mengembangkan swasta yang ingin membuat dan mengoperasikan bandara dengan konsep ‘green field’. Green field itu mulai dari pembebasan tanah murni dananya dari swasta,” kata dia.

Pakde Karwo sendiri sempat menyebutkan jika Gudang Garam sebagai investor tunggal, akan menggunakan sebagian failitas bandara untuk kepentingan privasi perusahaan. “Selebihnya digunakan untuk kepentingan komersial umum,” ujarnya.  

“Pak Joko Widodo sudah memberi lampu hijau dan pembangunan bandara ini menjadi prioritas,” terangnya kepada wartawan. Di bandara tersebut, kata dia, akan dibangun landasan ancang sepanjang 2.300 meter yang cukup untuk digunakan pendaratan pesawat jenis Airbus berpenumpang hingga 128-130 orang.

Pembangunan bandara di Kediri otomatis bakal berpengaruh pada rencana proyek bandara perintis di Tulungagung. “Di sana masih belum siap karena ada yang belum selesai, terutama  masalah lahan. Jadi ke depan prioritasnya di Kediri dan diharapkan progresnya segera berjalan,” beber Pakde Karwo.

Keberadaan bandara dan pesawat berkapasitas besar seperti di Kediri memang sangat membantu, terutama menghubungkan antarkota di kawasan selatan dan barat Jawa Timur mulai dari Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Ponorogo hingga Ngawi dan Magetan. Dampak awal tentu saja akan terbentuk konektivitas sektor perekonomian.

Dengan dibangunnya bandara tersebut nantinya diharapkan bisa mengakomodasi kebutuhan pengguna jasa angkutan udara daerah, termasuk peluang mengangkat potensi dareah, yang meliputi seluruh eks-Keresidenan Kediri dan eks-Keresidenan Madiun. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here