Konsolidasi Partai Tomy Soeharto dan Supersemar

0
290
Tepat 11 Maret 2018, Hutomo Mandala Putra, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina dikukuhkan menjadi Ketua Umum Partai Berkarya.

Nusantara.news, Solo – Perhelatan Rakernas III Partai Berkarya–partai bentukan Hutomo Mandala Putra–berhasil mengkonsolidasi kekuatan Order Baru di Hotel Lor In, Solo. Uniknya, Tomy menerima berkas Surat Perintah 11 Maret 2018 (Supersemar 2018) dari 34 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Berkarya.

Seusai menggelar jumpa pers di ujung acara Rakernas III Partai Berkarya, Tomy menerima berkas dari Ketua Organisasi Kaderisasi dan Keanggotaan (OKK) Partai Berkarya DPW DKI Jakarta, Darwis. DPW DKI Jakarta yang diketuai Indira Ratna memang menginisiasi terbitnya Supersemar 2018 dan direstui oleh DPW-DPW se-Indonesia.

“Saya terima, tapi masih ada tiga DPW belum tanda tangan,” kata Tomy kepada Darwis, Minggu (11/3) malam.

Adapun isi Supersemar 2018, intinya bagaimana menyelamatkan anak bangsa dengan kembali mengangkat sisi positif produk ayahanda Tomy, yakni HM Soeharto. Adapun tiga isi Supersemar 2018 itu adalah:

Pertama, kembali kepada UUD 1945 secara utuh dan konsisten sesuai dengan menjadikan semangat para pendiri bangsa sebagai semangatnya.

Kedua, kembalikan dan laksanakan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai pedoman pelaksanaan cita-cita luhur UUD 1945.

Ketiga, kembalikan dan laksanakan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) sebagai penjabaran GBHN untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Tiga butir Supersemar 2018 itu sempat dibacakan di rapat Komisi C (Komisi Rekomendasi) Rapimnas III dan diumumkan di Rapat Pleno serta disahkan menjadi produk Rapimnas III Partai Berkarya.

Target tiga besar

Sementara Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra, pada 11 Maret 2018 juga dikukuhkan sebagai Ketua Umum Partai Berkarya periode 2017–2022, menggantikan Ketua Umum sebelumnya Neneng A. Tutty Tomy pada pidato politiknya mengajak kadernya bekerja lebih keras dalam menyongsong pemilu legislatif. Dia menargetkan 3 kursi di tiap DPRD kabupaten/kota.

Naskah pengukuhan Tomy Soeharto sebagai Ketua Umum DPP Partai Berkarya dibacakan oleh Sekjen Partai Berkarya Badaruddin Andi Picunang. Selesai pengukuhan pun disambut histeris para peserta Rapimnas III yang berkisar 1.500 kader.

Target Partai Berkarya, seperti diutarakan Tomy, mulai dari calon legislatif DPRD tingkat II (kabupaten/kota). Target pesimis kita 3 kursi di DPRD tingkat II, syukur-syukur lebih.

Dia menyebut, tiga kursi dapat diraih dengan perolehan sekitar 36 ribu suara. Dengan tercapainya target itu, dia yakin dapat menjadi tiga partai terbesar.

“Kalau 36 ribu dikali 514 kabupaten/kota di Indonesia, ada sekitar 18 juta. Kami yakin bahwa dengan tercapainya itu, kami bisa partai tiga besar di Senayan,” ujarnya.

Hanya saja, Partai Berkarya masih memiliki beberapa pekerjaan rumah. Pasalnya, dari 514 daerah, Partai Berkarya baru memenuhi syarat di 458 kabupaten/kota. Masih ada 60 pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yang harus dibentuk dalam bulan Maret 2018.

“Kekurangan itu harus segera kita penuhi. Kita harus mempunyai organisasi tempur yang handal untuk mencapai tujuan ke depan, mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, maupun pusat,” tutupnya.

Diujung pidato politiknya, Tomy mengajak semua kader Partai Berkarya untuk tidak menengok lagi ke belakang. Kader diminta fokus ke depan untuk membesarkan partai. “Tujuan kita bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Sekali layar terkembang, surut kita berpantang.”

Pedang bermata dua

Jelas, perhelatan Rapimnas III Partai Berkarya bukan sekadar perhelatan konsolidasi partai, tapi juga sebuah dorongan dari DPW-DPW Partai Berkarya terkait pernyataan politik—Supersemar 2018–yang mengingatkan dengan Supersemar Soeharto 52 tahun lalu. Rapimnas bak pedang bermata dua.

Usai meresmikan Tommy sebagai Ketua Umum, peserta Rapimnas Berkarya berencana berziarah ke makam Soeharto di Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah.

Presiden Komisaris Humpuss Group itu nantinya bakal memimpin Partai Berkarya mengikuti pemilu pertamanya, di Pemilu 2019.

Dengan Rapimnas III ini, sebenarnya Partai Berkarya ingin membawa ingatan masyarakat pada peristiwa Supersemar 52 tahun silam. Di mana Soeharto dianggap mampu mengemban amanah Supersemar dari Sukarno mengatasi masalah konflik ideologi politik dan krisis ekonomi yang berat.

Selama memimpin Indonesia kurang lebih 32 tahun, Soeharto dinilai telah sukses melakukan stabilisasi politik dan mengatasi ekonomi dengan pembangunan, hingga dijuluki sebagai bapak pembangunan.

Sepertinya hal itu yang ingin diingatkan Partai Berkarya dengan Supersemar 2018.

Hanya saja Tommy pun membantah pengukuhannya mengambil momentum Supersemar. Dia mempersilakan pihak-pihak yang mengaitkan acara Berkarya yang digelar hari ini bertepatan dengan Supersemar 52 tahun silam.

Menurut Tommy, secara kebetulan saja acara partai besutannya itu mengambil waktu 10 sampai 11 Maret.

Lepas dari kondolidasi Partai Berkarya di Lor In Solo, tidak bisa dihilangkan dari benak rakyat terkait lintasan sejarah yang menjadi benang merah kesuksesan Soeharto memimpin Indonesia selama 32 tahun. Akan kah partai besutan Tomy Soeharto ini bentuk lain dari reinkarnasi Partai Golkar pada masa-masa awal kebesarannya?

Hanya waktu yang akan menjelaskan semuanya…![]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here