Kontroversi Che di Balik Peringatan 50 Tahun Kematiannya

1
431
Sebuah dinding dihias dengan foto Ernesto "Che" Guevara terlihat di sebuah rumah seorang penduduk saat negara tersebut memperingati 50 tahun kematian Che Guevara, di Vallegrande, Santa Cruz, Bolivia, Sabtu (7/10). ANTARA FOTO/REUTERS/David Mercado/cfo/17

Nusantara.news, Jakarta – Rosario hanyalah kota kecil di Argentina. Tapi dari kota itu lahir dua legenda, masing-masing Ernesto ‘Che’ Guevara dan pesepakbola hebat Lionel Messi. Dan hari ini 50 tahun yang lalu, Che yang digandrungi anak muda dunia sebagai ikon pembebasan itu tewas dieksekusi tentara Bolivia.

Peringaran 50 tahun kematian Che kali ini diperingati besar-besaran di negeri Coca. Maklum, bandul kekuasaan di Bolivia sudah berubah, dari negara proxy Amerika Serikat menjadi negara sosialis ala Amerika Latin yang menjalin hubungan diplomatic dengan Cuba. Sejak 22 Januari 2006 lalu, Bolivia dipimpin oleh Evo Morales lewat partai politik Movimiento al Socialismo (MAS). Sejak itu kematian Che selalu diperingati di Bolivia.

Sebagaimana dikutip dari laman BBC, Rabu (4/10) lalu, pemerintah Bolivia berencana memperingati 50 tahun kematian Che dengan mengundang tamu-tamu mancanegara dan sejumlah tokoh dunia. Undangan juga diberikan ke Legiun Veteran setempat namun ditolak.

Alasan penolakan, ungkap Juru Bicara Legiun Veteran Tentara Bolivia Mario Moreira karena merasa tidak dihargai sebagai layaknya tentara. Kala itu, lanjut Moreira, mereka justru bertempur melawan Guevara yang memimpin pemberontakan bersenjata dan berhasil membunuhnya.

“Kami tidak akan hadir dalam perayaan itu karena merasa hal itu menjadi politis. Bagaimana mungkin kami mengenang mereka? Justru pemerintah Bolivia yang harus memberi penghormatan kepada kami. Kami mempertahankan negara dan 59 rekan kami tewas,” kecam Moreira.

Kematian Che yang kontroversial dan perayaan-perayaan kematiannya yang juga tak kalah kontroversial itu memang masih menjadi perdebatan di Bolivia itu sendiri. Di satu sisi Che dianggap pahlawan oleh kalangan petani, buruh dan kaum tertindas di Bolivia. Sebaliknya dia dianggap sebagai pemberontak oleh tentara dan tuan-tuan tanah.

Sedangkan Menteri Pertahanan Bolivia menyebut, peringatan 50 tahun kematian Che di bumi Bolivia adalah bentuk penyelesaian perselisihan antara Bolivia dan Kuba. Namun gagasan itu ditentang secara sengit oleh veteran tentara. Terutama yang ikut operasi langsung gerakan penumpasan gerilyawan yang dipimpin Guevara.

“Kalau Che menang, negara kami pasti berbeda. Berterima kasihlah kepada kami yang menjaga pemerintahan tetap pada konstitusi,” beber Moreira.

Sebagai tandingan acara yang dibuat pemerintah Bolivia, Mario Moreira selaku juru bicara veteran justru akan menggelar acara mengenang mereka yang tewas saat melawan pasukan pemberontak yang dipimpin Che.

Perubahan peta politik di negaranya memang membuat para veteran gelisah. Sebab mereka dulu merasa bertempur melawan invasi Kuba, dan oleh karenanya menganggap Kuba sebagai musuh bebuyutan. Tiba-tiba Morales dari partai Gerakan Sosialis mememenangkan Pemilu Presiden Bolivia pada 2005 dan konsekuensinya Bolivia lebih merapat ke Kuba.

Padahal, sekitar tahun 1966 hingga 1967, Che membawa 47 pasukannya dari Kuba untuk bergerilya melawan pemerintahan yang sah di Bolivia. Setelah bergerilya sekitar 10 bulan, pada 8 Oktober 1967 tentara Bolivia berhasil menangkap Che, pemimpinnya.

Keesokan harinya, 9 Oktober 1967, Che dieksekusi di pinggir sungai. Militer Bolivia juga memotong tangannya hingga putus sebagai bukti kematiannya. Jasad Che dimakamkan di sebuah makam tak bertanda. Pada 1997, sisa-sisa tubuh Che ditemukan dan dikirim kembali ke Kuba, di mana ia dikuburkan kembali dalam sebuah upacara yang dihadiri oleh Presiden Fidel Castro dan ribuan rakyat Kuba.

Ernesto Rafael Guevara de la Serna alias Che, lahir di Rosario, Argentina, 14 Juni 1928. Dia lahir dari keluarga terpandang pasangan Ernesto Guevara Lynch dan Celia de la Sema y Liosa. Dari namanya, ayahnya adalah blasteran Basque, Cantabria dan Irlandia. Darah pemberontak memang sudah mengalir di tubuhnya, paling tidak dia keturunan Basque, sebuah suku di Spanyol dan Irlandia yang mengacu kepada pimpinan aristokrat Irlandia yang memberontak kepada Inggris, Patrick Lynch.

“Hal pertama yang diberikan kepada putraku adalah menanamkan penghormatan terhadap pertumpahan darah para pemberontak Irlandia,” begitu kata ayahnya sebagaimana dikisahkan oleh Lavretsky dalam bukunya tentang Che yang terbit pada 1976.

Ayahnya meskipun kaya raya nemun pemikirannya berhalauan sosialis. Sejak kecil Che dididik untuk peduli dengan warga miskin. Pilihannya sekolah kedokteran adalah didorong keinginannya yang kuat untuk menolong orang-orang miskin. Di usianya yang remaja dia juga sudah keliling negeri-negeri Amerika Latin dengan sepeda motornya yang membuatnya berkenalan dengan tokoh-tokoh sosialis di Amerika Latin.

Meskipun mengidap asma yang terbilang akut, namun Che cukup mahir di berbagai bidang Olahraga seperti renang, sepakbola, golf dan rugby. Maka fisiknya terbilang luar biasa. Bekas anak buahnya bersaksi, Che mampu berjalan kaki ratusan kilometer tanpa Lelah. Militansi yang ditunjang oleh fisik yang kuat itu membuatnya mampu melengserkan rezim Fulgencio Batista di Cuba di perayaan tahun baru 1959.

Kendati bukan asli Kuba, Che dianggap sebagai komandan kedua setelah Fidel Castro yang memiliki pengaruh luar biasa di negeri cerutu itu. Dia pun memiliki peran penting dalam rejim Fidel Castro. Dia diberikan kewenangan menangkap orang-orang yang dituduh terlibat kejahatan perang dan mengeksekusinya, dia juga diberi kewenangan melakukan reformasi agrarian dan kampanye pemberantasan buta huruf di sana.

Hingga kini Che tetap dianggap tokoh kontroversial, ada yang sangat memuja tapi sebaliknya tidak sedikit pula yang memusuhinya. Hingga kini apapun tentangnya, baik yang dalam bentuk biografi, memoir, essay, documenter, lagu, puisi dan film. Namun sebagian lagi menganggap Che tokoh kejam karena dia yang memerintahkan eksekusi ribuan pendukung Batista pasca revolusi Kuba.

Terlepas dari segala kontroversi tentangnya, tidak mengherankan pula apabila Majalah Time memasukkan namanya dalam 100 orang berpengaruh abad ke-20 dalam edisi khususnya. Fotonya hasil jepretan Alberto Korda berjudul Guerrillero Heroico adalah sebagai foto yang paling terkenal di dunia.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here