Kopi Indonesia Berpotensi Kuasai Pasar Dunia

0
19
Selain jenis kopi, cara pengelolaan yang tepat sangat mempengaruhi cita rasa komoditi yang di masa lalu sempat disebut sebagai emas hitam ini. Pengelolaan yang terpadu dari hulu hingga hilir bisa menjadi solusi agar kopi menjadi komoditi andalan Indonesia di masa depan. ANTARA FOTO

Nusantara.news, Jember – Pembukaan “Jember Internasional Cofee Conference” (JICC), Kamis (9/11/2017) lalu, menyuguhkan kritik dari warga negara lain  tentang kurangnya kontribusi pemerintah dalam mendukung komoditi kopi menjadi andalan ekspor. Padahal  Indonesia berpotensi sebagai penguasa kopi dunia.

Opini yang bernada kritik itu datang dari pakar energi terbarukan Malaysia, Profesor Maizirwan Mel dari Internasional Islamic University. “Iklim Indonesia masih sangat bagus untuk perkebunan kopi. Lahan-lahan subur terhampar sangat luas, sehingga saya yakin dengan sumber daya alam yang demikian bagus akan menghasilkan produk kopi berkualitas,” katanya dalam acara yang diikuti puluhan perwakilan perguruan tinggi tersebut.

Perguruan tinggi memang disasar sebagai untuk mengisi kelemahan komoditi kopi Indonesia, terutama dalam pengembangan industri yang sesuai keinginan pasar.  “Seperti halnya Universitas Jember yang serius melakukan penelitian dan kajian terhadap kopi agar bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat,” katanya.

Dalam lalu lintas perdagangan dunia, kapasitas produksi Indonesia menempati peringkat empat besar, di bawah Vietnam dan Kolombia. Jika dilihat dari sisi SDM, kondisi ini seharusnya minimal di bawah Brasil sebagai produsen kopi terbesar dunia saat ini. “Ada beberapa penyebab, namun saya melihat hal ini lantaran pemerintah Indonesia kurang serius mengembangkan bisnis kopi ini,” ucap Maizirwan.

Hal ini mendapat pembenaran dari paparan Ketua Panitia JICC Dr I Dewa Ayu Susilawati dari Universitas Jember. Alasan ini yang melatari pihaknya melakukan kajian serius agar ada nilai tambah yang bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat. “Seperti potensi diversifikasi produk dari kopi dan limbahnya yang mencapai 56 persen dari total produksi. Saat ini memang belum dimanfaatkan secara optimal,” katanya.

Universitas Jember memang perguruan tinggi negeri yang dikelilingi daerah-daerah dengan potensi kopi besar, seperti Lumajang, Bondowoso, Banyuwangi dan Jember sendiri. Bahkan di Bondowoso dan Banyuwangi, kopi menjadi destinasi wisata tersendiri yang mampu mendongkrak kesejahteraan warganya.

Masuk Kelas Premium

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Bambang yang hadir dalam acara, juga membenarkan kopi Indonesia masuk klasifikasi premium dunia. Dia bahkan menyebutkan, beberapa merek kopi internasional selalu dicampur dengan kopi Indonesia. Hanya saja, karena kapasitas produksi yang tidak optimal, membuat kekurangan pasokan diisi oleh negara lain.

Data Dirjen Perkebunan, produksi kopi di Indonesia rata-rata sekitar 600-700 kilogram per hektare. Padahal potensi produksi kopi di Indonesia bisa mencapai 1,5 ton atau bahkan bisa menembus 3 ton per hektar.

“Sebagian besar kebun kopi di Indonesia dikelola oleh rakyat sekitar 70 persen, sedangkan sisanya kebun swasta atau perusahaan daerah dan nasional, sehingga potensi untuk ditingkatkan produktivitasnya masih bisa berkembang,” katanya.

Potensi besar pengelolaan kopi Indonesia juga jadi rujukan Timor Leste untuk mengikuti langkah serupa dengan mengirim delegasi mengunjungi perkebunan kopi robusta di Semarang beberapa waktu lalu. ANTARA FOTO

Bambang meminta kepada pihak universitas dan juga pemerintah daerah untuk mendukung terwujudnya mimpi Indonesia menjadi raja kopi dunia, apalagi Kementan akan fokus pada perkebunan pada tahun 2018 karena tahun sebelumnya fokus pada swasembada padi, jagung dan gula.

“Perkebunan telah terbukti memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Bahkan, dari hasil penilaian Indonesia tahun 2016, perkebunan masih menduduki peringkat tertinggi untuk penyumbang Gross Domestic Product (GDP) yakni mencapai Rp426 triliun dan nilai itu lebih tinggi dari minyak dan gas yang senilai Rp369 triliun,” ujarnya.

Direktur Inovasi dan Teknologi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) Santoso Wibowo Aksoro menyambut baik Universitas Jember menjadi salah satu universitas yang memiliki perhatian lebih terhadap kopi. “Kami berharap Universitas Jember bisa membuat cluster produk perkebunan kopi yang terintegrasi dengan riset mulai hulu hingga hilir. Bahkan jika perlu Jember memiliki industri kopi sendiri,” tuturnya.

Arabika Lebih Dicari

Selain kapasitas produksi panen, pemilihan jenis kopi juga ternyata berpengaruh dalam besaran ekspor. Pasar internasional, menurut data Kementan saat ini, cenderung lebih berminat pada kopi jenis arabika. Sedangkan hasil produksi Indonesia saat ini, terutama perkebunan rakyat didominasi jenis robusta untuk memenuhi pasar domestik.

Data Kementan, ada 59 kabupaten/kota yang tersebar di 16 provinsi sebagai daerah sentra kopi yang didominasi oleh pengembangan kopi robusta untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Untuk itu perlu dilakukan berbagai strategi untuk mengembangkan kopi berbasis kawasan dengan meningkatkan produksi kopi arabika dan mendorong petani kopi robusta beralih menanam kopi arabika di daerah yang iklimnya cocok,” tuturnya.

Pada 2016, total produksi kopi nasional mencapai 639.000 ton. Sebanyak 90 persen di antaranya  merupakan jenis robusta. Salah satu strategi untuk mengubah komposisi itu adalah dengan pendekatan kawasan (cluster), seperti yang kini tengah gencar dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso.

Konsulat Bidang Ekonomi Konjen RI di San Francisco, Hanggiro Setiabudi, mengatakan kopi arabika Bondowoso sangat berpeluang dipasarkan di Amerika Serikat. Bukan tidak mungkin, penetrasi ini bisa menguasai Starbuck, jaringan waralaba kopi internasional. “Di Bondowoso, pengelolaan kopi sangat baik dari hulu hingga hilir. Ini jadi nilai positif bagi pengusaha kopi asal Amerika Serikat yang kami bawa dalam kunjungan kali ini,” terangnya.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Bondowoso Muhammad Erfan menyebutkan, cita rasa khas kopi Bondowoso memang menjadi salah satu daya tarik. “Rasanya bahkan disebut yang terbaik di dunia. Kalau kata orang sana, cocok di lidah,” selorohnya dalam keterangan terpisah usai mendampingi kunjungan pengusaha Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

Selain Amerika, pasar potensial lain yang tengah dibidik Indonesia adalah China. Sebagai negara dengan populasi penduduk terbesar dunia, China memang diharapkan jadi penyerap terbesar hasiil produksi kopi Indonesia. Konsul Jenderal RI di Guangzhou, Ratu Silvy Gayatri dalam rilisnya (13/11/2017), mengatakan Januari-September 2017, ekspor kopi Indonesia ke China mencapai 34,1 juta dolar AS.

Indonesia menempati peringkat kedua negara eskportir kopi ke China di bawah Vietnam. Ia yakin Indonesia mampu mengejar Vietnam karena beberapa hal, di antaranya kopi merupakan salah satu produk unggulan Indonesia yang sangat kompetitif.

Selain itu, pertumbuhan konsumsi kopi per kapita di China terus meningkat antara 15 hingga 30 persen per tahun. Padahal, peningkatan konsumsi kopi rata-rata di dunia hanya 2,3 persen per tahun. Berdasarkan catatan KJRI Guangzhou, pada tahun 2020 nilai industri kopi di daratan Tiongkok itu akan mencapai 300 miliar RMB atau sekitar Rp600 triliun.

“Peluang ini juga dipicu perubahan gaya hidup generasi muda China yang semakin menggemari kopi sebagai gaya hidup baru yang dinilai modern,” ujarnya. Di sisi lain, untuk mencukupi kebutuhan domestik, China kelabakan karena hanya bertumpu pada hasil panen di daerah Yunnan dan Hainan. “Kami yakin bahwa peluang tersebut hanya dapat diperoleh manfaatnya secara maksimal jika pemerintah sebagai fasilitator dan pelaku usaha kopi dapat saling bersinergi dan bekerja sama,” tutup Gayatri. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here