Korban Bencana Pacitan Dapat Bantuan Mensos Rp1,606 miliar

0
63

Nusantara.news, Surabaya – Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa turun langsung melihat warga Pacitan, Jawa Timur yang tengah dirundung malang, jadi korban musibah longsor dan banjir. Selain memberikan semangat agar, tabah dan sabar serta tak terus larut dalam kesedihan, Mensos Khofifah juga memberikan santunan untuk ahli waris yang kehilangan anggota keluarganya, yang meninggal dunia.

Untuk yang kehilangan anggota keluarganya karena meninggal dunia, ahli waris diberikan santunan. Masing-masing ahli waris menerima bantuan sosial Rp15 juta plus paket sembako. Untuk diketahui, tercatat, akibat bencana alam itu setidaknya ada 11 orang ditemukan meninggal dunia dan 9 orang lainnya belum ditemukan, dan masih dilakukan pencarian.

Tak hanya santunan kematian, Kemensos juga memberikan bantuan logistik berupa lauk pauk siap saji, total senilai Rp 132,6 juta. Kemudian, untuk proses normalisasi pasca-bencana, atas nama negara Kemensos memberikan bantuan peralatan senilai lebih dari Rp 1,073 miliar. Kemudian, dari partisipasi usaha, BRI Peduli, juga menyalurkan bantuan sebesar Rp250 juta. Sehingga nilai bantuan keseluruhan, baik dari pihak Kemensos juga dari BRI Peduli, total mencapai Rp 1,606 miliar.

Saat itu, Khofifah turun langsung menyapa dan menguatkan warga korban longsor serta melihat kondisi daerah bencana termasuk berbagai fasilitas yang harus segera dilakukan pembenahan dan normalisasi fasilitas yang rusak setelah diterjang banjir dan longsor akibat badai Siklon Tropis Cempaka di Pacitan, Jumat (1/12/2017).

“Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan menghadapi cobaan dari Allah. Mari bersama-sama kita doakan, semoga amal ibadah para korban diterima oleh Allah dan segala kekhilafannya diampuni,” kata Khofifah saat menyerahkan santunan kepada para ahli waris korban.

Akibat Cuaca Ekstrem Siklon Tropis Cempaka

Cuaca ekstrem akibat Siklon Tropis Cempaka yang terjadi pada 27 November di sejumlah wilayah di pesisir selatan itu yang menyebabkan terjadinya banjir dan longsor disertai puting beliung di Pacitan. Akibat itu selain merenggut korban jiwa, rumah warga, serta fasilitas umum banyak mengalami kerusakan parah, diterjang banjir juga longsor.

Di lokasi musibah bencana banjir dan longsor, Khofifah mengajak dan mengimbau masyarakat dan seluruh pihak untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan kesiap-siagaan. Sebab, hujan lebat dan angin kencang masih berpotensi terjadi di tengah perubahan cuaca ekstrem.

“Mari jadikan musibah ini sebagai peringatan dini bagi kita semua untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi bencana,” imbaunya.

Ditetapkan Masa Tanggap Darurat

Sementara, terkait musibah banjir dan longsor di Pacitan, informasi yang diterima Nusantara.news, Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, menyebutkan hingga saat ini, upaya pencarian dan penyelamatan korban serta penanganan dampak banjir dan longsor masih dilakukan. Beberapa daerah yang terjadi banjir dan longsor di 7 kecamatan di Pacitan belum pulih semuanya yaitu di Kecamatan Kebonagung, Kecamatan Pacitan, Kecamatan Tulakan, Kecamatan Tegalombo, Kecamatan Nawangan, Kecamatan Arjosari, dan Kecamatan Ngadirojo. Daerah yang paling parah terdampak bencana adalah Kecamatan Pacitan.

Untuk koban jumlahnya bertambah. Disebut, data sementara hingga 1/12/2017 pukul 06.00 WIB, jumlah korban meninggal sebanyak 20 orang yaitu 14 korban longsor dan 6 korban akibat banjir. Dari 20 korban meninggal tersebut 11 korban sudah ditemukan dan 9 korban masih dalam pencarian.

Tercatat, 4 orang mengalami luka-luka. Untuk pengungsi sebanyak 1.879 orang yang terdapat di 8 titik yaitu di Gedung Karya Darma 497 orang, Masjid Sirnoboyo 51 orang, Gedung Muhammadiyah MDMC 51 orang, Balai Desa Sumberharjo 32 orang, Balai Desa Bangunsar  16 orang, Balai Desa Cangkring 32 orang, MI Al Huda 150 orang, dan Balai Desa Sidomulyo 1.050 orang.

Mensos Khofifah di lokasi bencana di Pacitan (Foto: Humas Kemensos)

Kerusakan fisik meliputi 1.709 unit rumah rusak yang terdapat di Kecamatan Kebonagung 1.225 unit, di Kecamatan Ngadirojo 9 unit, Kecamatan Pacitan 160 unit, Kecamatan Nawangan 148 unit, dan kecamatan Arjosari  167 unit. Selain itu juga terdapat 17 unit fasilitas pendidikan yang rusak, dan bangunan lain.

“Pendataan masih terus dilakukan karena belum semua lokasi dapat dijangkau,” terang Sutopo.

Sementara, hingga hari ini upaya penanganan darurat terus dilakukan oleh berbagai pihak. Bupati Pacitan telah menetapkan masa tanggap darurat selama 7 hari yaitu mulai 28/11/2017 hingga 4/12/2017. Status ini dapat diperpanjang atau diperpendek menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Bupati Pacitan telah menunjuk Komandan Kodim 0801/Pacitan sebagai komandan tanggap darurat.

“Sebanyak 1.174 personil gabungan dikerahkan untuk melakukan penanganan darurat. Tim gabungan dari BPBD Pacitan bersama TNI, Polri, Basarnas, PMI, SKPD, BPBD Magetan, Baznas Tanggap Darurat, ACT, Perhutani, SAR FKM Solo, LMI, dan relawan melakukan penanganan darurat. Pencarian, penyelamatan dan evakuasi korban dilanjutkan,” lanjut Sutopo sosok yang intens menginformasikan peristiwa bencana dan perkembangannya itu.[]

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here