Korban Longsor di Pacitan Bertambah, 1.174 Personil Dikerahkan

0
50

Nusantara.news, Surabaya – Pengaruh Siklon Tropis Cempaka yang menimbulkan curah hujan ekstrem dengan intensitas 383 milimeter per hari telah menyebabkan banjir dan longsor yang besar di Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Timur pada 27-28 November 2017. Dekatnya posisi siklon tropis Cempaka dengan daratan Pacitan, hanya 23 kilometer di Samudera Hindia sebelah selatan Pacitan telah menyebabkan Pacitan lumpuh total. Banjir dan longsor bersamaan dengan gelombang laut tinggi sehingga semua sungai yang bermuara di Teluk Pacitan meluap menyebabkan banjir besar di Pacitan.

Upaya pencarian dan penyelamatan korban serta penanganan dampak banjir dan longsor masih dilakukan. Beberapa daerah yang terjadi banjir dan longsor di 7 kecamatan di Pacitan belum pulih semuanya yaitu di Kecamatan Kebonagung, Kecamatan Pacitan, Kecamatan Tulakan, Kecamatan Tegalombo, Kecamatan Nawangan, Kecamatan Arjosari, dan Kecamatan Ngadirojo. Daerah yang paling parah terdampak bencana adalah Kecamatan Pacitan.

Jumlah korban bertambah

Data sementara hingga 1/12/2017 pukul 06.00 WIB, jumlah korban meninggal sebanyak 20 orang yaitu 14 korban longsor dan 6 korban banjir. Dari 20 korban meninggal tersebut 11 korban sudah ditemukan dan 9 korban masih dalam pencarian. Tercatat 4 orang luka-luka. Pengungsi sebanyak 1.879 orang yang terdapat di 8 titik yaitu di Gedung Karya Darma 497 orang, Masjid Sirnoboyo 51 orang, Gedung Muhammadiyah MDMC 51 orang, Balai Desa Sumberharjo 32 orang, Balai Desa Bangunsar  16 orang, Balai Desa Cangkring 32 orang, MI Al Huda 150 orang, dan Balai Desa Sidomulyo 1.050 orang.

Kerusakan fisik meliputi 1.709 unit rumah rusak yang terdapat di Kecamatan Kebonagung 1.225 unit, di Kecamatan Ngadirojo 9 unit, Kecamatan Pacitan 160 unit, Kecamatan Nawangan 148 unit, dan kecamatan Arjosari  167 unit. Selain itu juga terdapat 17 unit fasilitas pendidikan yang rusak, dan bangunan lain. Pendataan masih terus dilakukan karena belum semua lokasi dapat dijangkau.

Ditetapkan Tanggap Darurat 7 Hari

Bantuan untuk korban longsor Pacitan (Foto: Humas Pemprov Jatim)

Upaya penanganan darurat terus dilakukan oleh berbagai pihak. Bupati Pacitan telah menetapkan masa tanggap darurat selama 7 hari yaitu mulai 28/11/2017 hingga 4/12/2017. Status ini dapat diperpanjang atau diperpendek menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Bupati Pacitan telah menunjuk Komandan Kodim 0801/Pacitan sebagai komandan tanggap darurat.

“Sebanyak 1.174 personil gabungan dikerahkan untuk melakukan penanganan darurat. Tim gabungan dari BPBD Pacitan bersama TNI, Polri, Basarnas, PMI, SKPD, BPBD Magetan, Baznas Tanggap Darurat, ACT, Perhutani, SAR FKM Solo, LMI, dan relawan melakukan penanganan darurat. Pencarian, penyelamatan dan evakuasi korban dilanjutkan,” urai Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB.

Sementara, Tim Reaksi Cepat BNPB juga telah hadir di Pacitan untuk memberikan pendampingan dalam penanganan darurat. BNPB menyerahkan bantuan dana siap pakai sebesar Rp500 juta untuk operasional penanganan darurat.

Berbagai pihak juga terus memberikan bantuan. BPBD Jatim juga memberikan bantuan selimut, sarung, paket sandang, peralatan kesehatan, seragam sekolah, lampu emergency, jerigen lipat, dan perahu karet 7 unit.

Kemudian, Dinas Sosial Jatim memberikan bantuan lauk pauk dan matras. Dinas Kesehatan Jatim memberikan bantuan berupa perahu karet, makanan penambah air susu ibu, makanan untuk anak-anak, polybag, kaporit dan paket obat-obatan, dan lainnya. Dari Dinas PU Jatim memberikan bantuan 2 alat berat.
Kemudian, untuk dapur umum terpusat di Kelurahan Pacitan diperkuat juga oleh peran serta masyarakat yang tidak terdampak dengan menyediakan permakanan untuk pengungsi. Logistik mencukupi hingga 7 hari ke depan. Sekolah diliburkan untuk sementara waktu.

Gubernur Jatim Soekarwo tinjau lokasi bencana (Foto: Humas Pemprov Jatim)

Saat ini sebagian besar banjir telah surut menyisakan lumpur dan material yang terbawa banjir. Akses menuju Pacitan dari Wonogiri sudah dapat dilalui. Alat berat belum dapat menjangkau lokasi longsor. Listrik sudah menyala kecuali di daerah yang masih terdapat genangan dan longsor. Pembersihan lingkungan secara swadaya telah dilakukan oleh masyarakat. Aktivitas perekonomian, jasa, pemerintahan sudah mulai berjalan.

Kebutuhan mendesak yang diperlukan saat ini adalah makanan siap saji, air bersih, pakaian layak pakai, seragam anak sekolah, peralatan kebersihan rumah tangga, alat sanitasi, selimut, layanan kesehatan, MCK, dan kebutuhan dasar lainnya di pengungsian.

Sementara, untuk informasi terkait bencana di Pacitan bisa menghubungi langsung ke Gatot (Tim Reaksi Cepat BNPB di Pacitan 0812 5894 6588) dan Tri Mujiharto (Kalak BPBD Pacitan 0812 3445 509).

Pemprov Jatim Ambil Alih Penanganan Bencana Pacitan

Pemprov Jatim mengambil alih penanganan bencana banjir dan longsor yang terjadi di Pacitan, sesuai permintaan Bupati Pacitan yang mengharapkan bencana ini ditetapkan sebagai bencana provinsi. Ambil alih meliputi pembiayaan untuk perbaikan rumah, infrastruktur jalan dan penanganan warga masyarakat pasca terjadinya banjir.

Itu disampaikan oleh Gubernur Jatim Soekarwo menjawab pertanyaan media usai pertemuan dengan Bupati Pacitan, Danrem 081, Dandim Pacitan dan KaOPD di jajaran Pemprov. Jawa Timur di Gedung Akademi Komunitas Negeri, Kabupaten Pacitan Jum’at (1/12/2017).

Jumlah rumah yang akan dibangun, besaran harga masing-masing rumah,akan dihitung oleh tim gabungan termasuk melibatkan juru taksir dari fakultas teknik setempat.

“Tunjangan hidup sebesar Rp 900 ribu/jiwa/bulan selama tiga bulan akan diberikan bagi masyarakat yang rumahnya rusak dan tidak bisa bekerja,” ujar Soekarwo.

Setelah selesai penghitungan yang ditargetkan pada tanggal 4 Desember 2017, Pemprov Jatim akan langsung mengeluarkan anggaran belanja untuk rehab ini dan maksimal 20 hari berikutnya pembangunan rumah sudah harus selesai.

Pelaksanaan pembangunan akan dilakukan oleh Kodam V Brawijaya dan POLDA Jatim. Pola kemitraan seperti ini, bukan pertamakali dilakukan oleh Pemprov Jatim dan Kodam V Brawijaya. Saat bencana meletusnya Gunung Kelud beberapa tahun lalu, misalnya, pembangunan 14.231 rumah dilakukan dalam satu bulan. Pola penanganan yang sama juga dilakukan di bencana tanah longsor di Ponorogo beberapa bulan lalu.

Pola kerjasama sejenis sudah dilakukan berkali-kali, sebagai contoh perbaikan Rumah tidak Layak Huni (RTLH).

“Dalam memperbaiki satu rumah dikerahkan 10 TNI dan beberapa personil gabungan yang dibantu warga,” paparnya.

Tentang jumlah anggaran yang disediakan, dijelaskan Pakde Karwo, telah tersedia Rp100 miliar dan jika kurang dirinya akan menyurati DPRD untuk proses penambahannya.

Bantuan Bencana harus Satu Pintu

Kepedulian masyarakat terhadap bencana yang menimpa masyarakat Pacitan cukup banyak. Oleh sebab itu, mengantisipasi agar bantuan bisa tepat sasaran Pemprov Jatim mengusulkan agar bantuan diserahkan melalui satu pintu yaitu kepada Bupati Pacitan.

Dengan satu pintu, penyalahgunaan bantuan bisa diminimalisir. Kemudian, juga menghindari keributan di lapangan.

“antuan diserahkan melalui posko yang dibuat oleh Bupati, yang kemudian didistribusikan oleh tim. Tentunya harus ditampung terlebih dahulu sebelum didistribusikan,” ujarnya.

Ditambahkan harus dibentuk posko induk supaya tidak mengalami kesulitan dalam berkoordinasi.

“Oleh sebab itu, butuh bantuan dari TNI dan POLRI dalam menjaga ketertiban pemberian bantuan sehingga bisa terukur dan tertib,” lanjutnya.

20 Korban Bencana Banjir dan Tanah Longsor

Korban bencana banjir dan tanah longsor, sampai dengan 1 Desember 2017 tercatat 20 orang. Rinciannya 14 korban tanah longsor dan 6 korban banjir. Saat ini, masih ditemukan 10 korban jiwa dengan perincian 5 korban tanah longsor dan 5 korban banjir.

Korban lain yang belum ditemukan sebanyak 10 orang dengan rincian 9 korban tanah longsor dan 1 korban banjir.

“Semuanya diperkirakan meninggal dunia. Tim dan relawan juga terus berupaya menemukan korban yang masih belum ditemukan,” ujar Pakde Karwo.

Penanganan bencana di Pacitan oleh Pemprov. Jatim  hampir sama dengan yang dilakukan di Ponorogo beberapa waktu lalu. Pemprov Jatim mengirimkan berbagai bantuan untuk para korban bencana dengan mengirimkan peralatan dan logistik.

Pengiriman bantuan dipimpin langsung Kalaksa Jatim dengan BKO BPBD kab/kota terdekat. Tercatat bantuan yang dikirim antara lain selimut, makanan siap saji, genset, alat komunikasi, family kid, perahu karet BKO dari Nganjuk, Ngawi, Madiun kab, Madiun kota, Magetan, Ponorogo. Selain itu, juga diberikan bantuan uang santunan untuk korban bencana.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here