Korea Selatan: antara Washington dan Beijing

0
112
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in bertemu di Gedung Putih, Washington, Kamis 29 Juni 2017

Nusantara.news, Washington – Presiden baru Korea Selatan Moon Jae-in bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih, Washington DC, pada Kamis 29 Juni lalu dalam sebuah makan malam yang, menurut Trump, “fantastis”. Apakah ini langkah Moon untuk tetap menjaga hubungan baik dengan AS, setelah sebelumnya pemerintah Korea Selatan tampak lebih pro ke China dengan menghentikan sementara program pemasangan sistem anti rudal THAAD dari AS sesuai anjuran China?

Korea Selatan punya kepentingan sama terhadap kedua negara, China dan AS, baik secara politik maupun ekonomi. Sebab itu, menjaga hubungan baik dengan kedua negara adalah pilihan terbaik. Namun, Korea Selatan harus pandai memainkan peranan di atara kebijakan politik dan ekonomi kedua negara yang kerap bertentangan.

Kedua pemimpin negara, Trump dan Moon, membahas salah satunya soal Korea Utara, hal yang lainnya adalah tentang kerja sama perdagangan kedua negara.

Menurut Trump, Korea Utara adalah masalah yang harus ditangani secara cepat. Pernyataan ini  kemungkinan bertentangan dengan sikap politik presiden baru Korea Selatan, Moon Jae-in, yang cenderung pro penyatuan Korea Selatan dan Utara. Sementara pemerintah AS berniat menjatuhkan sanksi terhadap Korea Utara.

Trump mengatakan, “Kita memiliki banyak pilihan di Korea Utara,” katanya saat menyambut Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di Gedung Putih pada Kamis malam, sebagaimana dilansir AP.

Dalam pertemuan tersebut, AS dan Korea Selatan sama-sama merasakan kecemasan terhadap ancaman program senjata nuklir Korea Utara.

Apa yang dimaksud Trump dengan “banyak pilihan” untuk menyelesaikan masalah Korea Utara, belum bisa dipastikan. Apakah pilihan itu tindakan diplomatik atau militer.

Namun, menjelang pertemuan kedua peimimpin, Penasihat Keamanan Nasional AS Jenderal HR. McMaster mengkonfirmasi bahwa opsi militer AS untuk Korea Utara telah dipersiapkan.

“Apa yang harus kita lakukan adalah menyiapkan semua opsi, karena Presiden telah menjelaskan kepada kita bahwa dia tidak akan menerima tenaga nuklir Korea Utara dan ancaman yang dapat menargetkan Amerika Serikat dan populasi Amerika,” kata McMaster dalam sambutannya untuk sebuah lembaga think-tank di Washington.

Trump juga mengatakan, “Korea Selatan ‘disandera’ oleh rezim Korea Utara,” kata McMaster.

“Ancaman itu jauh lebih cepat sekarang. Dan kami tidak mau mengulangi pendekatan yang sama dan terbukti gagal di masa lalu,” kata McMaster.

“Presiden telah mengarahkan kita untuk tidak melakukan itu dan menyiapkan berbagai pilihan, termasuk opsi militer, yang (sebetulnya) tak seorang pun ingin mengambilnya,” kata dia.

Korea Utara sejauh ini telah melakukan lima kali uji coba nuklir dan serangkaian uji coba rudal, hal tersebut bertentangan dengan Dewan Keamanan PBB. Pada bulan Januari, diktator Korea Utara Kim Jong-un mengatakan bahwa Korea Utara telah memasuki tahap akhir persiapan untuk peluncuran uji coba rudal balistik antar-benua, yang akan memiliki kemampuan untuk mencapai AS.

Lalu Trump menanggapinya dengan penyataan di akun twitternya ketika itu, “Itu tidak akan terjadi!”

Ditengah ketegangan AS dan Korea Utara, seorang mantan mahasiswa Universitas Virginia Otto Warmbier, yang kembali ke AS bulan ini dalam keadaan koma setelah menghabiskan lebih dari satu tahun penahanan di Korea Utara, meninggal dunia.

Berdiri di samping Moon di Taman Mawar, Trump menyebut Korea Utara sebagai sebuah rezim “sembrono dan brutal” dengan program rudal nuklir dan balistiknya, oleh karena itu menurut dia, “memerlukan respons yang pasti.”

“Kediktatoran Korea Utara tidak memperhatikan keselamatan dan keamanan rakyatnya atau tetangganya dan tidak menghormati kehidupan manusia. Dan itu sudah terbukti, berulang-ulang,” kata Trump, yang meminta kematian mantan mahasiswa Universitas Virginia Otto Warmbier, yang kembali ke AS bulan ini dalam keadaan koma setelah menghabiskan lebih dari satu tahun penahanan di Korea Utara.

Warmbier dihukum kerja paksa selama 15 tahun oleh Korea Utara setelah ketahuan mencuri poster politik di hotel yang ditempatinya. Dia baru menjalani 8 bulan hukuman namun koma, diduga karena mengalami kekerasan aparat Korea Utara, meskipun bukti medis dari rumah sakit AS yang memeriksanya tidak menunjukkan hal itu.

Antara Washington dan Beijing

Pertemuan dengan Trump, bagi Mooon Jae-in tentu bukanlah suatu mementum yang mudah, apalagi tak lama sebelum itu Departemen Keuangan AS memasukkan nama sebuah bank China yang dituduh melakukan jutaan bisnis terlarang dengan Korea Utara, ke dalam daftar hitam mereka. Beijing marah dengan tindakan AS tersebut. Tapi, inilah upaya Korea Selatan memainkan peranan agar tidak kehilangan kerja sama dengan kedua negara raksasa ekonomi dunia itu.

“Kami menyelesaikan banyak hal berkaitan dengan pemikiran kami tentang Korea Utara dan sangat banyak pemikiran kami tentang perdagangan,” kata Trump kepada wartawan pada Jumat (30/6) di Ruang Oval Gedung Putih.

“Kami sedang menegosiasi ulang kesepakatan perdagangan dengan Korea Selatan, dan mudah-mudahan ini akan menjadi kesepakatan yang adil untuk kedua belah pihak. Ini adalah kesepakatan kasar bagi AS, tapi saya pikir akan jauh berbeda. Dan akan bagus untuk kedua belah pihak,” kata Presiden Trump.

Sebaliknya, Presiden Moon juga mengatakan kepada wartawan bahwa diskusi dengan Presiden AS itu   menjadi kesempatan besar untuknya memperdalam kepercayaan antara dia dan pemimpin AS.

“Ini juga merupakan kesempatan untuk menegaskan kembali bahwa AS dan Korea  sedang berjalan bersama di jalur yang sama menuju aliansi yang hebat,” kata Moon.

Moon telah berusaha menjelaskan kepada AS bahwa pihaknya serius menghadapi ancaman tetangganya (Korea Utara), terlepas dari kecenderungan Moon untuk memulai kembali dialog dengan Korea Utara guna menangani pengembangan senjata nuklirnya.

Namun, Moon tidak menyebut soal perdagangan dalam sambutannya kepada wartawan di gedung Oval tersebut, khususnya setelah Trump menggagalkan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP), sebuah perjanjian perdagangan yang melibatkan 12 negara yang diusulkan dan diselesaikan oleh mantan Presiden Barack Obama. China dan Korea Selatan, keduanya bukan anggota TPP, tapi kemudian bergabung dalam TPP, tanpa kehadiran Washington.

Di twitter, setelah pertemuan Trump menuliskan bahwa mereka melakukan “pertemuan yang sangat baik”.

Menurut Moon, makan malam pada Kamis lalu merupakan kesempatan bagi dirinya untuk menegaskan kembali  bahwa AS dan Korea Selatan bekerja sama dalam jalur yang sama menuju aliansi yang hebat.  Moon mencatat, bahwa Trump adalah pemimpin asing pertama yang mengucapkan selamat kepadanya sebagai presiden Korea Selatan yang baru.

Moon sejauh ini telah menggunakan kunjungannya untuk melobi pemerintah Trump dan para pemimpin kongres AS untuk mendukung kebijakan penyatuan dengan Korea Utara.

Moon berpendapat, Seoul dan Washington harus menawarkan konsesi kepada Pyongyang jika sesuai dengan tuntutan menghentikan program nuklir. “Ini sebagai pintu gerbang menuju dialog,” katanya.

Selama ini, strategi Trump terfokos pada menekan sekutu utama Korea Utara, China, untuk menghentikan program nuklir Korea Utara. Namun pemimpin AS itu, pada minggu lalu telah menyimpulkan bahwa upaya China “tidak berhasil”.

Washington, sebagai penjamin keamanan Korea Selatan, telah memiliki lebih dari 28.000 tentara di negara tersebut untuk mempertahankannya dari Korea Utara. Saat ini, AS ingin agar program pemasangan sistem anti-rudal THAAD yang kontroversial itu dilanjutkan oleh pemerintah Korea Selatan, setelah sempat ditunda oleh Presiden Moon Jae-in karena adanya tekanan diplomatik dan ekonomi dari Beijing.

Kemanakah arah politik Korea Selatan di bawah kepemimpinan Moon Jae-in, setelah pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump? Akankah keduanya semakin memperkuat aliansi kedua negara atau masih ada peluang Korea Selatan berubah aliansi dengan Beijing? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here