Korea Utara dan Dendam Perang yang “Terpelihara”

0
375
Korea Utara Merayakan Hari Gencatan Senjata Perang Korea, 'Forgotten War' Amerika. Foto: Newsweek

Nusantara.news – Korea Utara, saat ini mungkin satu-satunya negara yang berani secara terbuka menyatakan perang terhadap Amerika. Banyak negara menentang kebijakan Paman Sam, tapi tidak banyak yang berani mengajak negara adidaya itu untuk berperang. Apakah ini bentuk kekonyolan penguasa Korea Utara, Kim Jong-un, sang pewaris dinasi Kim, yang bagi sebagian orang tampak seperti seorang psikopat, ataukah ada alasan lain dari pemimpin fenomenal itu?

Di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada bulan April lalu, perwakilan Korea Utara menegaskan kesiapan negara itu untuk berperang jika dipicu oleh aksi provokasi militer AS di semenanjung Korea.

“Jika Amerika berani memilih aksi militer. DPRK (Korea Utara) siap melaksanakan mode perang yang diinginkan Amerika. Kami akan mengambil hukuman terberat terhadap provokator,” kata In-ryong dalam konferensi pers di markas PBB di New York, sebagaimana dikutip Channel News Asia 18 April lalu.

Situasi terakhir, Amerika Serikat bersama sekutunya di kawasan Asia Pasifik, Jepang, telah menyatakan sikap akan melakukan tindakan terhadap Korea Utara, setelah sebelumnya Kim Jong-un pada Jumat (28/7) pekan lalu mengklaim sukses melakukan uji coba rudal antar-benua (ICBM) yang dapat menjangkau daratan AS. Pentagon juga sudah bersiap-siap dengan melakukan uji coba sistem penangkal rudal (THAAD) yang dioperasikan dari Alaska dan mengirimkan dua pesawat tempur andalannya untuk mengontrol situasi Semenanjung Korea.

Pada Senin (31/7) militer Amerika mendeteksi adanya pergerakan tidak biasa di perairan semenanjung Korea yang diduga merupakan kesibukan dari kapal selam Korea Utara.

Cina, sebagai tetangga terdekat Korea Utara dan dianggap sekutu strategis dan ekonomi negeri komunis itu, dalam pernyataan terakhir tidak terima dianggap telah membiarkan Korea Utara bertindak terlalu jauh dalam pengembangan senjata, terutama senjata nuklir. Menurut Cina, masalah ketegangan semenanjung Korea adalah masalah AS dan Korea Utara. Secara sikap, Cina sudah mengimbau keduanya untuk saling menahan diri demi stabilitas kawasan.

Perang Korea mungkin saja akan terjadi, apalagi jika melihat kedua profil pemimpin Korea Utara dan Amerika Serikat yang sama-sama sulit diprediksi. Namun, siapa pun tentu tidak ingin perang di kawasan ini terjadi, yang mungkin akan mengulang sejarah perang Korea (1950-1953) yang menelan korban jutaan jiwa. Sebab jika terjadi, dampaknya lebih dahsyat lagi karena kedua negara, AS dan Korea Utara memiliki stok senjata nuklir bahkan stok AS yang terbesar di dunia.

Terlepas bagaimana ujung dari ketegangan semenanjung Korea, menarik juga ditelisik, kenapa Korea Utara sampai saat ini masih “memelihara” kebencian terhadap Amerika? Mungkinkah Korea Utara menganggap bahwa perang korea 64 tahun silam masih belum berakhir? Pasalnya, perang Korea yang  berakhir tahun 1953 itu statusnya “gencatan senjata” yang mewariskan dendam kesumat Korea Utara terhadap Amerika.

Bagi rakyat Korea Utara, perang Korea adalah memori yang menyakitkan. Betapa tidak, meski berlangsung hanya dalam tiga tahun, perang itu telah merenggut nyawa jutaan orang dan telah mengubah semenanjung Korea untuk selamanya.

“Kami pergi ke sana dan berperang dan entah bagaimana, akhirnya membakar semua kota di Korea Utara,  dan beberapa di Korea Selatan juga,” kata seorang mantan komandan Angkatan Udara AS Jenderal Curtis LeMay saat diwawancara di tahun 1988 untuk dokumentasi sejarah Angkatan Udara AS, sebagaimana dikutip CNN.

Saat gencatan senjata ditandatangani tanggal 27 Juli 1953, Korea Utara yang tiga tahun sebelumnya berpenduduk 9,6 juta orang menderita kehilangan sekitar 1,3 juta jiwa dari sipil maupun militer, menurut perhitungan Angkatan Udara AS. Korea Selatan juga mengalami hingga 3 juta korban sipil dan 225.000 tentara, dari jumlah penduduknya sekitar 20,2 juta di tahun 1950.

Jenderal Douglas MacArthur, yang kemudian menjadi panglima tertinggi Komando PBB di awal perang Korea mengatakan dalam sebuah sidang kongres PBB tahun 1951, bahwa dia tidak pernah melihat kehancuran semacam itu (perang Korea).

“Saya ngeri, saya tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata atas pembantaian terus-menerus terhadap orang-orang di Korea,” kata MacArthur saat menggambarkan perang Korea yang disaksikannya ketika itu.

Sementara itu, menurut data ada lebih dari 33 ribu orang Amerika yang terbunuh dalam pertempuran, serta 600 ribuan militer Cina yang bergabung untuk melindungi tetangganya itu meninggal atau hilang tak tentu rimbanya.

Setelah perang usai, orang-orang Cina dan Amerika pulang ke negara mereka, sementara rakyat Korea Utara tinggal di tengah reruntuhan bekas pertempuran, seluruh infrastruktur mereka hancur, kota-kota mereka seperti telah dilenyapkan.

Memori perang yang menyakitkan itulah yang kemudian diwariskan oleh rezim penguasa Korea Utara berikutnya, dari mulai Kim Il Sung, lalu anaknya Kim Jong Il hingga cucunya Kim Jong-un, yang dianggap merupakan bagian penting dari propaganda untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Tertanam dalam benak setiap warga Korea Utara, bahwa kehancuran bangsa mereka bermula dari langit, ketika Pesawat Amerika menjatuhkan sekitar 635 ton ton bahan peledak di daratan Korea Utara.

Hingga sekarang pun pemerintah Korea Utara masih menggambarkan bahwa orang Amerika adalah wajah musuh yang telah meratakan negara mereka dan mungkin dapat melakukannya lagi.

“Pengeboman itu dianggap sebagai ‘dosa tak terampuni’ Amerika dalam propaganda kekuasaan Korea Utara,” kata Robert E. Kelly, profesor ilmu politik Universitas Nasional Pusan ​​di Korea Selatan.

“Ini juga menjadi alat politik untuk membenarkan keadaan darurat permanen,” katanya lagi.

Di Korea Utara, sejak anak usia Taman Kanak-kanak sudah ditanamkan kebencian terhadap Amerika. Misalnya, dengan poster-poster propaganda yang ditampilkan ke mereka pada tahun 2012 di Pyongyang. Dalam poster-poster tersebut salah satunya ditampilkan karakter yang mengatakan, “Kami suka bermain game militer untuk mengalahkan para bajingan Amerika.”

Meski banyak catatan sejarah menyebut bahwa sesungguhnya Kim, pendiri Korea Utara-lah yang memulai perang ke wilayah Korea Selatan. Namun, sejarah Korea Utara mengajarkan kepada generasi penerusnya bahwa Amerika-lah yang memulai perang, lalu diciptakan kesan bahwa dinasti Kim yang melindungi Rakyat Korea Utara.

Di Korea Utara peringatan 25 Juni sebagai tanda dimulainya perang Korea dinamakan sebagai  “Hari Perjuangan Melawan Imperialisme AS”.

Itulah yang membuat dendam kesumat terhadap Amerika tetap terpelihara dalam semangat rakyat Korea Utara. Mungkin saja, keberanian Kim Jong-un mengajak perang Amerika juga untuk meneguhkan keyakinan itu dengan tujuan melanggengkan kekuasaan di Korea Utara.

Kim Il Sung, kakek Jong-un dipuja rakyat Korea Utara layaknya dewa, disematkan banyak prestasi dan perhargaan, juga dianggap bapak ideologi juche, yang berarti kemandirian, serta seorang pembebas semenanjung Korea dari pendudukan Jepang.

Karya-karya seni, puisi, sastra, drama di Korea Utara selalu dikaitkan dengan hal tersebut. Salah satunya adalah drama berjudul “The Sea of ​​Blood” yang dianggap karya budaya terpenting di negara itu. Drama tersebut menceritakan tentang seorang petani miskin yang bergabung dalam perang melawan pendudukan Jepang. Dia terbunuh, namun istrinya, yang bergabung dengan perlawanan komunis, terus membantu mengalahkan orang Jepang.

Program senjata nuklir

Soal program nuklir, Korea Utara tentu belajar dari para pemimpin seperti Moammar Qadhafi Libya atau Saddam Hussein di Irak, yang menghentikan pengembangan senjata nuklirnya untuk mendapatkan jaminan keamanan atau menghindari sanksi internasional, tapi pada akhirnya mereka digulingkan dan dibunuh juga. Rezim Kim percaya bahwa senjata nuklir yang kuat adalah kunci untuk bertahan sebagai sebuah rezim.

Dengan demikian, Korea Utara, meskipun negara miskin secara ekonomi, justu memprioritaskan  anggaran pertahanan yang sangat tinggi untuk pengembangan senjata nuklir, dan mengatakan kepada rakyatnya yang kebanyakan di bawah garis kemiskinan, bahwa hal itu penting dilakukan untuk mencegah invasi negara adidaya bernama Amerika.

Jika benar klaim kesuksesan dalam uji coba rudal balistik antar-benua (ICBM) pada Jumat lalu itu, maka artinya Korea Utara telah hampir mencapai tujuannya, yaitu “menakut-nakuti” Amerika sehingga mereka merasa sulit memulai invasi ke Korea Utara. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here