Korea Utara Nyatakan Siap Perang

0
279
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memandu Kompetisi Regu Tank Tentara Rakyat Korea 2017 dalam foto tidak bertanggal yang disiarkan oleh Pusat Agensi Berita Korea Utara (KCNA) di Pyongyang, Sabtu (1/4). ANTARA FOTO/KCNA/via REUTERS

Nusantara.news, Washington/Pyongyang – Korea Utara menyatakan siap berperang jika Amerika Serikat memulai serangan terhadap negeri Kim Jong-Un itu. Pernyataan pemerintah Korea Utara tersebut merupakan respon setelah kapal induk AS USS Carl Vinson dan armada tempurnya dikerahkan mendekati perairan Korea Utara di Semenanjung Korea.

Baca: (Setelah Suriah, Korea Utara Sasaran AS Berikutnya?)

Hal ini juga sekaligus menanggapi perintah Presiden Donald Trump kepada penasihat militernya untuk mempersiapkan opsi rencana serangan terhadap Korea Utara.

Kementerian Luar Negeri Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK) mengutuk manuver Angkatan Laut AS di Semenanjung Korea.

“Ini membuktikan bahwa AS bergerak secara sembrono untuk menyerang DPRK (Korea Utara) dan telah sampai pada tahap yang serius,” kata Kementerian Luar Negeri Korea Utara yang dilansir kantor berita yang dikelola negara itu, KCNA, Selasa (11/4) sebagaimana dikutip The Guardian.

Korea Utara juga dengan percaya diri menyatakan akan siap merespon aksi-aksi militer AS yang mereka sebut sebagai “provokator” itu, dengan senjata yang kuat yang mereka miliki.

“Situasi yang genting seperti ini membuktikan, bahwa yang dilakukan Korea Utara selama ini untuk mengembangkan kekuatan nuklir sepenuhnya untuk melakukan pertahanan diri,” kata juru bicara itu kepada KCNA.

“Kami akan menyiapkan  penghadangan terberat terhadap provokator untuk mempertahankan diri dengan kekuatan senjata kami,” katanya.

“Kami akan membuat AS sepenuhnya bertanggung jawab atas konsekuensi bencana yang akan ditimbulkan oleh tindakan keterlaluan ini,” imbuh Kementerian.

Kapal induk USS Carl Vinson yang membawa sekitar 60 jet tempur dan ribuan personel di dek-nya semula dijadwalkan melakukan kunjungan ke sebuah pelabuhan di Australia. Tapi tiba-tiba kapal induk dan armada tempurnya itu, termasuk dua kapal perang, atas perintah Trump  dialihkan ke Semenanjung Korea pada Sabtu lalu.

Penasihat militer Presiden Trump, Letnan Jenderal H.R. McMaster mengonfirmasi perintah untuk menyiapkan opsi rencana serangan terhadap Korea Utara.

Salah satu opsi yang kemungkinan diambil adalah mengombinasikan aksi penggerebekan pasukan khusus dan serangan rudal pre-emptive.

Berbicara kepada Fox News, McMaster mengatakan, “Ini sesuatu yang bijaksana untuk melakukannya, bukan?”

“Presiden AS sebelumnya dan Presiden Trump sepakat bahwa hal ini tidak dapat diterima, bahwa apa yang harus terjadi adalah ‘denuklirisasi’ semenanjung (Korea),” ujar McMaster.

“Presiden telah meminta (kami) harus siap memberikan berbagai macam pilihan untuk menghapus ancaman (nuklir) itu,” katanya.

Namun, salah satu masalah yang akan dihadapi dalam operasi militer yang dipimpin AS untuk menghantam Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un, salah satunya adalah adanya jaringan terowongan yang rumit di bawah Ibu Kota Pyongyang.

Dilaporkan, para perencana perang AS tengah mengalami kesulitan memetakan kompleks bawah tanah rezim Korut. Mereka percaya ada ratusan tempat artileri dan pesawat di bawah tanah.

Serangan AS ke Suriah pada Jumat (7/4) minggu lalu merupakan peringatan bagi Korea Utara, setelah Donald Trump berjanji bahwa Washington siap untuk bertindak sendiri jika Cina gagal melakukan tekanan yang lebih terhadap tetangganya itu untuk menghentikan program-program rudal dan senjata nuklirnya.

Baca: (Ini Teori Konspirasi di Balik Serangan AS ke Suriah)

Korea Utara dianggap menantang resolusi PBB yang melarang pengembangan teknologi rudal balistik, dengan melakukan serangkaian uji coba peluncuran rudal tepat pada malam menjelang pertemuan puncak Presiden AS Donald Trump Presiden Cina Xi Jinping di resor Mar-a-Lago, Kamis-Jumat (6-7 April) lalu.

Pejabat Gedung Putih sebelumnya telah mengisyaratkan bahwa semua pilihan, termasuk melakukan serangan, sudah ada di atas meja, dalam menghentikan Korea Utara melakukan pengembangan rudal jarak jauh yang diduga mampu membawa hulu ledak nuklir hingga ke daratan AS.

Kehadiran Kapal induk bertenaga nuklir, Carl Vinson’s di kawasan Semenanjung Korea bertepatan dengan spekulasi bahwa Korea Utara sedang mempersiapkan diri untuk melakukan uji coba senjata nuklir keenam.

Uji coba tesebut mungkin saja dilakukan bertepatan dengan tanggal-tanggal penting dalam sejarah negara Korea Utara, termasuk momentum ulang tahun ke-105 kelahiran pendiri negara itu, Kim Il-sung, pada Sabtu mendatang.

Di sisi lain, sejumlah media di Cina melaporkan bahwa Beijing telah mengerahkan sekitar 150.000 pasukan ke perbatasan Korea Utara. Namun juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Hua Chunying mengatakan kepada wartawan dia tidak mengetahui tentang mobilisasi yang dilakukan tentara Cina (Tentara Pembebasan Rakyat).

“Dulu, laporan serupa juga terbukti “palsu,” kata Hua.

Namun, dengan perkembangan terakhir, dan ketegangan yang semakin meningkat menjelang peringatan hari Sabtu nanti, Hua mengatakan Cina mengikuti perkembangan Semenanjung Korea.

“Kami percaya, mengingat situasi saat ini, semua pihak terkait harus menahan diri dan menghindari aktivitas yang dapat meningkat ketegangan.”

Perang Korea antara Korea Utara dan Korea Selatan pernah terjadi pada tahun 1950 hingga 1953. Perang juga disebut sebagai “Proxy War” antara Amerika Serikat bersama sekutu PBB-nya dengan Cina bekerja sama Uni Soviet (juga anggota PBB).

Sekutu utama Korea Selatan waktu itu adalah Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Inggris Raya, meskipun banyak negara lain mengirimkan tentara di bawah bendera PBB.

Sekutu Korea Utara, Republik Rakyat Cina (RRC) menyediakan kekuatan militer, sementara Uni Soviet menyediakan penasihat perang, pilot pesawat, dan juga persenjataan untuk pasukan Cina dan Korea Utara.

Menurut data PBB korban dalam Perang Korea dari pihak AS sejumlah 36.940 tentara tewas; Cina 100.000 – 1.500.000 tentara tewas, sejumlah sumber menyebut 400.000; Korea Utara 214.000 – 520.000 tentara tewas, sejumlah sumber memperkirakan 500.000; Korea Selatan sekitar 245.000 – 415.000 tewas. Sementara, total rakyat sipil yang tewas dalam perang tersebut diperkirakan antara 1,5 juta hingga 3 juta orang.

Akankah Perang Korea terulang, dan kembali menimbulkan korban berjatuhan? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here