Korsel Menggelar Pilpres, Ini Dia Calon Pemenangnya

0
30
Moon Jae-in, calon presiden dari Partai Demokratik Korea, memberikan sebuah pidato dalam reli kampanye pemilihannya di Chungju, Korea Selatan, Minggu (7/5). ANTARA FOTO/REUTERS/Kim Kyung-Hoon/cfo/17

Nusantara.news, Seoul – Setelah satu tahun dihebohkan gelombang unjuk rasa yang berhasil mengusir Presiden Park Geun-hye dari singgasana kekuasaan, Selasa (9/5) ini rakyat Korea Selatan (Korsel) menggelar hajat Pemilu Presiden (Pilpres).

Sejak Selasa (9/5) pukul 06.00 pagi tadi sejumlah tempat pemungutan suara sudah dibuka. Pemenang diharapkan dapat diumumkan pada Selasa malam ini.

Pilpres di Korsel kali diikuti oleh 3 calon presiden, masing-masing kandidat dari Partai Demokrat Liberal Moon Jae-in yang berhalauan liberal, kandidat dari Partai Liberal Korea Hong Joon-pyo yang berhalauan konservatif, dan Partai Rakyat Ahn Cheol-soo yang juga berhalauan liberal.

Sejumlah jajak pendapat sebelum pilpres mengunggulkan nama Moon Jae-in dengan selisih lebih dari 20 persen dari dua pesaing utamanya.

Kalau elektabilitas Moon Jae-in bertahan hingga hari ini, dia akan menjadi presiden berhalauan liberal yang mampu mematahkan dominasi partai konservatif dalam sepuluh tahun terakhir.

Moon Jae-in adalah politisi yang berlatar-belakang pengacara hak azasi manusia. Dalam setiap kampanye Moon berjanji akan memerangi korupsi di pemerintahan, meningkatkan pengeluaran untuk penciptaan lapangan kerja dan memberlakukan pajak progresif untuk orang kaya.

Terkait hubungannya dengan saudara serumpun sekaligus seterunya Korea Utara (Korut), Moon mencoba diplomasi dengan Korut untuk membuka kembali Kompleks Industri Kaesong yang selama ini dikelola bersama Korut. Sayang, kompleks industri yang mempekerjakan ribuan tenaga kerja itu ditutup tahun lalu setelah uji coba nuklir keempat Korut.

Pilpres Korsel dipercepat dari jadwal yang semestinya setelah Parlemen Korsel dan diperkuat keputusan Mahkamah Konstitusi setempat memakzulkan Presiden Park Geun-hye yang terlibat skandal korupsi.

Selama satu pekan menjelang pemaksulan, demonstrasi besar-besaran yang disebut “Candlelight Revolution” merebak ke seluruh negeri.

Dalam demonstrasi besar-besaran itu tuntutan utama adalah reformasi politik yang membatasi pengaruh konglomarat terhadap para calon presiden terpilih.

Tentunya, seruan itu relevan juga bila digaungkan di Indonesia yang secara ekonomi-politik siapapun presiden terpilihnya tampak bertekuk lutut di kaki para konglomerat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here