Korsel Terjepit di Antara Dua Pemimpin “Gila”

1
290
Gambar karikatur Trump Vs Kim Jong-un yang beredar di YouTube (Ilustrasi)

Nusantara.news, New York – Pemerintahan Korea Selatan tampaknya mulai gerah dengan saling serang secara pribadi antara Presiden AS dan Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jung Un. Tampaknya Korsel khawatir saling ejek antara dua kepala negara itu tidak terkendali dan menyebabkan terjadinya perang nuklir di semenanjung Korea.

Untuk itu, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dalam forum resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghimbau semua pihak berhati-hati dalam penanganan masalah nuklir di Semenanjung Korea, dan mengatakan semua upaya bertujuan mencegah perang.

“Semua upaya kita ialah untuk mencegah pecahnya perang dan menjaga perdamaian. Sehubungan dengan itu, situasi seputar masalah nuklir Korea Utara perlu dijaga agar tetap stabil sehingga ketegangan tidak akan meningkat tajam atau bentrokan militer yang tak sengaja tidak akan merusak perdamaian,” himbau Moon kepada Sidang Majelis Umum PBB, Kamis (21/9) lalu.

“Kita semua mesti mengingatkan diri kita mengenai apa yang dikatakan mantan presiden AS Ronald Reagan: ‘Perdamaian bukanlah ketiadaan konflik, itu adalah kemampuan menangani konflik dengan cara damai’.”

Moon mengeluarkan beberapa janji sehubungan dengan itu. “Kami tidak menginginkan runtuhnya Korea Utara. Kami tidak akan mengupayakan penyatuan melalui absorpsi atau cara artifisial. Jika Korea Utara membuat keputusan, sekalipun sekarang, untuk berdisi di sisi benar sejarah, kami siap membantu Korea Utara bersama dengan masyarakat internasional.”

Semangat PBB ialah untuk mewujudkan perdamaian global melalui dialog multilateral, dan Semenanjung Korea adalah tempat semangat itu paling diperlukan, katanya.

“Kami membutuhkan PBB memainkan peran yang lebih aktif di Semenanjung Korea. Peran paling penting yang kami minta dimainkan oleh PBB hari ini datang dengan kebijakan-kebijakan mendasar untuk menghentikan lingkaran kejam peningkatan provokasi dan peningkatan ketegangan.”

Namun Moon mendesak Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) berhenti membuat pilihan sembrono yang semakin mengucilkan negeri itu dari pergaulan dunia. Untuk itu upaya masyarakat internasional mesti lebih diperkuat, kata Moon.

“Harus dengan keras dan tegas merespons sampai Korea Utara menghentikan program nuklirnya atas kemauan sendiri. Semua negara harus sepenuhnya melaksanakan resolusi sanksi Dewan Keamanan PBB dan mengupayakan langkah baru kalau provokasi lain Korea Utara berlanjut.”

Sebagaimana diberitakan sejumlah media, permusuhan antara Trump dan Jong-un semakin mengarah ke permusuhan personal. Setelah Presiden Trump menyebut Jong-un sebagai pemimpin gila, Jong-un tidak kalah menanggapinya. Bahkan mengata-ngatai Trump dengan istilah “dotard”, kosa kata lama yang bahkan sudah tidak digunakan lagi di Inggris.

Setelah ditelusuri, kosa kata “dotard” itu pernah digunakan Sastrawan Besar Inggris Shakespeare dan Tolkien yang berarti orang tua yang dungu dan pikun. Bukan itu saja, Trump juga disebut Jong-un gila secara mental dan “akan membayar mahal” atas ancamannya menghancurkan Korea Utara.

Pernyataan berupa serangan pribadi terhadap Trump dilontarkan setelah AS mengumumkan sanksi lebih keras kepada Korea Utara. Kim Jong-un menyerang Trump secara pribadi setelah pada pidato pertamanya dalam Majelis Umum PBB Trump menjuluki Kim “Manusia Roket” sambil mengancam akan “menghancurkan secara total Korea Utara”.

“Trump menghina saya dan negara saya di depan mata dunia dan menyampaikan deklarasi perang paling ganas dalam sejarah,” ujar Kim seperti dikutip kantor berita KCNA.

“Saya akan membuat orang yang memegang kekuasaan prerogatif sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata di AS itu membayar mahal atas yang diancamkannya,” kata Kim seraya menyebut ancaman Trump itu  “omong kosong yang kasar yang selama ini tak pernah tercetuskan (dari mulut para pemimpin AS)”.

Pernyataan itu disertai dengan sebuah foto sang pemimpin Korea Utara yang berdiri di belakang meja sembari memegang dokumen.”Sudah pasti saya akan menghukum orang tua gila mental dari Amerika Serikat itu dengan membakarnya,” ancam Jong-un.

Pada Majelis Umum PBB di New York, Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong-ho berkata kepada wartawan bahwa Pyongyang tengah mempertimbangkan untuk meledakkan bom hidrogen di luar wilayahnya.

“Saya kira bisa saja ada uji coba Bom-H pada level yang belum terjadi sebelumnya, kemungkinan dilakukan di Pasifik,” kata Ri Yong-ho.  Tapi, sambung dia, “Itu semua tergantung kepada pemimpin kami, jadi saya tak begitu tahu.”

Ancaman itu tentu saja membuat pimpinan Korsel, China, Jepang, dan bahkan Rusia yang berada di sekitar kawasan Semenanjung Korea was-was. Kalau terjadi perang nuklir di sana sudah pasti akan berimbas ke Pasifik, Teluk Bering, Alaska hingga wilayah Rusia.

Kini Presiden Donald Trump membuka peluang sanksi bagi perusahaan asing yang melakukan bisnis dengan Korea Utara, sebuah tekanan cukup dramatis kepada Korea Utama. Persoalannya, selain Korea Utara dipimpin oleh pemimpin “gila” namun kesehatan mental Trump juga diragukan oleh sejumlah kalangan.

Kini, Korea Selatan, Jepang dan China yang mulai menuruti embargo ekonomi pemerintah AS dengan menyetop ekspor minyak sulingan ke Korut mulai 1 Oktober nanti sedang was-was, merasa terjepit oleh dua pemimpin yang diragukan kesehatan jiwanya.

Sebelumnya Kementerian Perdagangan China sudah mengeluarkan “larangan menyeluruh untuk impor tekstil” dari Korea Utara, menegaskan kembali klausul lain dalam sanksi baru yang melarang perdagangan kain maupun pakaian.

Selama ini China memasok kapas ke Korea Utara yang mengolahnya menjadi tekstil dengan tenaga kerja murah dan sebagian dari hasilnya dijual kembali ke China. Dengan larangan impor tekstil akan memotong sumber mata uang asing bagi Pyongyang senilai Rp9,96 triliun (750 juta dolar AS).[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here