Korupsi Stadium 5

0
145

MASIH ingat pernyataan Prabowo Subianto yang menyebutkan korupsi di Indonesia seperti penyakit kanker yang sudah berada di stadium 4? Setidaknya dua kali Prabowo menyampaikan pernyataan serupa. Pertama dalam acara "The World in 2019 Gala Dinner" yang diselenggarakan majalah The Economist di Singapura, November 2018 silam. Dan yang kedua dalam acara deklarasi dukungan ribuan Purnawirawan TNI-Polri di Grand Pasific Hall, Yogyakarta, akhir Februari lalu. Pernyataan Prabowo itu tentu saja dibantah oleh pemerintah. Presiden Jokowi mengatakan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia terus membaik.

Kalau dalam istilah medis, stadium 4 itu artinya sel kanker sudah menyebar ke titik lain dalam tubuh. Kanker yang sudah menyebar ini biasanya sulit dikendalikan, dan dalam banyak kasus, berujung pada kematian.

Nah, kalau korupsi di negeri kita diibaratkan Prabowo sudah stadium 4, artinya penyakit korupsi ini sudah berada di level yang dapat membunuh bangsa ini.

Tapi kalau melihat korupsi jual beli jabatan di Kementerian Agama seperti yang terungkap dalam penangkapan Ketua Umum PPP Romahurmuziy, bisa jadi level korupsi di negeri kita sudah stadium akhir. Sebab, stadium-stadium awal toh sudah terlewati.

Coba saja lihat, korupsi berskala kecil sudah tak terhitung, seperti layanan publik yang mestinya gratis tapi dikenakan tarif siluman. Korupsi di sektor belanja negara juga sudah sulit merincinya satu persatu, seperti pembangunan proyek atau pengadaan barang dan jasa. Korupsi di sektor pendapatan negara pun telah mewabah, seperti pajak, bea cukai, manipulasi hasil tambang dan sebagainya.

Mengapa korupsi di Kementerian Agama bisa digolongkan sebagai stadium 4? Sebab, seperti pernah kita bahas sebelumnya, kementerian ini sudah amat sering dilanda kasus korupsi. Ada-ada saja yang ditilap koruptor di sana. Mulai dari dana haji, biaya pencetakan Al Qur’an, dana renovasi masjid, dan rupa-rupa lainnya. Menterinya saja sudah dua yang diterungku ke balik jeruji karena korupsi: Said Agil Husein al-Munawar dan Suryadharma Ali. Keduanya terbukti menyelewengkan dana haji. Belum lagi pejabat di lingkungan kementerian itu dari pusat sampai ke daerah. Mungkin sudah puluhan yang dipenjara.

Adanya embel-embel “agama” dalam nomenklatur lembaga ini, membuat skandal korupsi yang terjadi di sana terasa sangat menyentak. Kementerian ini terlanjur dianggap sebagai penjaga moral di negara ini. Jika korupsi terjadi di kementerian lain, mungkin publik sekadar marah. Tapi kalau melanda Kementerian Agama, selain marah, orang juga sedih, masygul, malu dan tak habis pikir.

Karena itu, tak berlebihan juga kalau korupsi di kementerian ini kita anggap sebagai bukti bahwa kanker korupsi  sudah di level stadium 4.

Kalau kita mengikuti Prabowo dalam penggambaran level korupsi dengan simplifikasi stadium penyakit kanker, stadium apa lagi yang bisa dikenakan terhadap perkembangan terbaru dari kasus korupsi Kementerian Agama?

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah mengantongi data adanya praktek jual beli jabatan rektor yang terjadi 11 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di bawah Kementerian Agama. Informasi itu disampaikan mantan ketua Mahkamah Konstitusi Moh Mahfud MD seusai bertemu dengan Wakil Ketua KPK Laode Muhamad Syarif, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (25/3/2019). Melihat akurasi KPK selama ini, data itu hampir pasti benar.

Terus terang kita kehabisan kata mendengar kabar itu. Ini sungguh melapetaka yang luar biasa memilukan. Ada 11 rektor perguruan tinggi agama Islam terlibat sogok-menyogok untuk mendapat jabatan! Itu artinya seperlima dari jumlah pemimpin PTKIN  yang ada. Sebab Kementerian ini hanya punya 53 PTKIN, yang terdiri dari 11 Universitas Islam Negeri (UIN), 23 Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan 19 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN).  

Korupsi merambah ke dunia pendidikan saja sudah menyesakkan dada. Nah, kini pelaku korupsinya itu adalah rektor –jabatan tertinggi dalam institusi pendidikan, dan dari perguruan tinggi agama pula. Mereka yang semestinya mengajarkan ilmu pengetahuan keagamaan dan menanamkan nilai agama kepada mahasiswanya itu terbukti bermoral lancung. Rakyat tentunya mengharapkan mereka akan membangun barikade moral untuk mencegah pelanggaran terkecil pun. Tapi, mereka justru menjadi pelaku dari kejahatan yang kita kategorikan extra-ordinary crime itu. Kalau begitu, apa lagi yang tersisa di negeri ini?

Seandainya dunia medis mengenal istilah stadium 5, mungkin istilah itu bisa kita pakai untuk menggambarkan level kanker korupsi seperti yang terlihat dari kelancungan moral para rektor ini.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here