Korut Makin Intens Uji Coba Rudal, AS Uji Sistem Pertahanan Anti-Rudal

0
140
Kim Jong-un, pemimpin Korea Utara pada Minggu (28/5). Foto: Korean Central News Agency via Agence France Presse-Getty Images

Nusantara.news, Washington – Korea Utara semakin intens melakukan uji coba rudal balistik, yang terbaru, dilakukan pada Senin (29/5) pagi waktu setempat. Rudal balistik jarak pendek itu meluncur sekitar 6 menit di udara lalu mendarat di Laut Jepang.

Militer Korea Selatan mengatakan, sebagaimana dilansir NBC News, Senin (29/5) rudal tersebut diluncurkan dari sebuah lokasi di sekitar Wonsan, provinsi Gangwon, di pantai tenggara Korea Utara di Laut Jepang dan meluncur sejauh kira-kira 450 kilometer.

Rudal tersebut merupakan yang kedua kalinya diluncurkan dalam dua hari terakhir, dan mendorong Presiden Korea Selatan Moon Jae-in untuk mengadakan pertemuan membahas masalah keamanan kawasan tersebut.

Kim Dong Yub, seorang profesor studi Korea Utara di Institute for Far Eastern Studies di Seoul, mengatakan kepada NBC News, pejabat Korea Selatan menggambarkan proyektil tersebut sebagai Scud, atau bisa jadi rudal balistik antar benua yang disamarkan.

“Wilayah Wonsan adalah tempat dimana Korea Utara secara konsisten menguji rudal ICBM (antar-benua),” katanya.

Di samping itu, media pemerintah Korea Utara pada hari Minggu mengklaim sebelumnya telah menguji coba senjata anti-pesawat terbang tipe baru dan memperbaiki ketidaksempurnaan dalam sistem tersebut. Kantor berita negara Korea Utara KCNA tidak melaporkan kapan tepatnya uji coba itu berlangsung, namun dilaporkan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un mengawasi secara langsung.

Sementara itu, Departemen Pertahanan AS atau Pentagon tengah bersiap melakukan uji coba pertamanya dalam tiga tahun terakhir, sebuah sistem pertahanan yang berfungsi untuk mencegat hulu ledak dari Korea Utara. Sebuah proyek yang telah menghabisakan miliaran dolar. Pentagon berharap pihaknya berhasil memperbaiki sistem yang telah melewati sekitar sembilan kali uji coba sebelumnya.

Uji coba sistem tersebut rencananya akan diluncurkan dari lepas pantai California pada hari Selasa (30/5) nanti, untuk mencoba menghancurkan sebuah hulu ledak tiruan, yang disesuaikan dengan perkembangan senjata Korea Utara.

Seperti diketahui Korea Utara terus menerus melakukan uji coba rudal balistik dengan teknologi yang membuat AS merasa terancam. Generasi baru rudal Korea Utara diketahui menggunakan bahan bakar padat, yang memungkinkan diluncurkan dari sebuah tempat persembunyian di pegunungan dan diluncurkan dalam hitungan menit. Ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi sistem anti-rudal yang dimiliki AS yang memiliki peringatan dini dari satelit.

Yang lebih mengkhawartirkan lagi, meski masih banyak diragukan, Korea Utara mengklaim telah mencapai teknologi rudal balistik antar-benua yang dapat menjangkau wilayah Amerika Serikat.

Menurut seorang mantan pejabat pertahanan AS, informasi intelijen AS menunjukkan bahwa Korea Utara telah bergerak cepat mengadopsi bahan bakar padat. Inilah yang membuat Washington merasa harus mengejar ketertinggalan tersebut.

Menteri Pertahanan AS Jim Mattis mengatakan pada hari Minggu (28/5) sebagaimana ditulis The New York Times, Amerika Serikat tidak perlu menunggu Korea Utara menyelesaikan program uji coba (senjatanya) sebelum menanggapinya dengan tegas.

“Ini adalah ancaman langsung ke Amerika Serikat,” katanya. “Kita tidak perlu menunggu sampai mereka memiliki rudal balistik antar benua dengan senjata nuklir,” katanya.

AS sejauh ini telah menanggapi program nuklir dan rudal Korea Utara dengan sebuah rencana rahasia melalui serangan siber dan perang elektronik, tindakan yang telah yang diputuskan oleh Presiden Barack Obama tiga tahun lalu, setelah menyimpulkan bahwa pertahanan rudal konvensional sudah tidak lagi mencukupi. Program terselubung itu dikenal sebagai “left of launch”, serangan siber dilakukan pada saat sebelum rudal mencapai landasan peluncuran atau saat akan meledak.

Presiden Donald Trump menolak untuk berbicara secara terbuka tentang “left of launch, walaupun dia tampaknya mengakui keberadaan program ini.

Uji coba yang dilakukan pada hari Selasa adalah pertahanan anti-rudal tradisional yang dimiliki Amerika Serikat. Namun, ini adalah uji coba yang pertama sejak Trump menjabat presiden AS yang telah berjanji untuk memecahkan masalah Korea Utara, dan juga sejak Trump mulai bicara tentang sanksi ekonomi dan peningkatan tekanan militer terhadap Korea Utara.

Betapa pun tradisional, nyatanya sistem anti-rudal tersebut diperkirakan telah menghabiskan biaya lebih dari USD 330 miliar, menurut perkiraan Stephen I. Schwartz, seorang analis militer di Middlebury Institute of International Studies di Monterey, California. Pentagon berharap bisa menghabiskan miliaran dolar lebih banyak lagi untuk sistem anti-rudal, termasuk mungkin memasangnya di lokasi baru di Pantai Timur AS.

Beberapa hari lalu Perdana Menteri Jepang bertemu dengan Presiden AS Donald Trump dan lima pemimpin negara lainnya pada KTT G7 di Sisilia Italia.

Dalam komunike terakhir, Abe dan Trump, bersama dengan para pemimpin Kanada, Prancis, Jerman, Italia dan Inggris  mengatakan bahwa Korea Utara semakin menimbulkan ancaman serius terhadap perdamaian dan stabilitas internasional, melalui pelanggaran undang-undang internasional yang berulang dan terus berlanjut. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here