Korut Uji Rudal, Jepang Marah, AS Hindari Eskalasi

0
177
Seorang lelaki berjalan di depan layar televisi yang menayangkan uji coba rudal Korut di Seoul, Korut 12 Februari 2017. (Foto: Reuters)

Nusantara.news, Seoul/Washington –  Korea Utara menembakkan rudal balistik ke timur laut Jepang pada Minggu (12/2). Uji coba rudal tersebut adalah yang pertama sejak Presiden AS Donald Trump terpilih. Jepang bereaksi, menganggapi bahwa uji coba rudal oleh Korut tidak bisa ditoleransi. Sementara AS belum mau merespon keras dan terkesan menghindari eskalasi.

Menurut pihak militer Korea Selatan, rudal tersebut mendarat di Laut Jepang, tapi disinyalir bukan dari jenis Intercontinental Ballistic Missile (ICBM). Menurut Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga, rudal itu tampaknya telah mendarat di Laut Jepang, tetapi tidak dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE) negaranya.

“Kami benar-benar tidak bisa menerima provokasi Korea Utara. Ini sangat keterlaluan. Kami telah mengajukan protes keras kepada mereka,” kata Suga, seperti dilansir Reuters, Minggu (12/2).

Peluncuran rudal Korut menandai uji coba pertama sejak Trump berjanji untuk bersikap keras terhadap rezim Korea Utara, yang tahun lalu menguji perangkat nuklir dan rudal balistik pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan melanggar resolusi PBB.

Seorang pejabat AS mengatakan, pemerintahan Trump akan segera menanggapi “provokasi” Korut dan akan mempertimbangkan berbagai pilihan untuk menanggapinya. Tetapi AS akan mengatasi masalah ini dengan tetap menghindari peningkatan eskalasi.

Penasihat Gedung Putih Stephen Miller mengatakan pada acara televisi “Fox News Sunday”, “Kita akan memperkuat dan memperkuat aliansi penting di kawasan Pasifik sebagai bagian dari strategi untuk mencegah dan mencegah meningkatnya permusuhan yang kita lihat dalam beberapa tahun terakhir dari rezim Korea Utara,” kata Miller sebagaimana dilansir Reuters (12/2).

AS akan tingkatkan tekanan terhadap Cina

Selain itu, menurut sumber pejabat Gedung Putih, pemerintahan Trump juga kemungkinan bakal meningkatkan tekanan terhadap Cina untuk mengendalikan Korut. Ini selaras dengan pandangan Trump sebelumnya yang menyatakan  bahwa selama ini Beijing tidak cukup melakukan sesuatu untuk mengendalikan Korut.

“Ini tidak mengejutkan,” kata pejabat itu. “Pemimpin Korea Utara sering menarik perhatian di saat seperti ini,” tambahnya.

Uji coba rudal balistik dilakukan Korut sehari setelah Trump mengadakan pertemuan puncak dengan PM Jepang Shinzo Abe, menyusul telepon Presiden Trump pada pekan lalu terhadap Presiden Cina Xi Jinping.

“Saya hanya ingin semua orang memahami, dan sepenuhnya tahu, bahwa Amerika Serikat berada di belakang Jepang, sekutu besar kita, 100 persen,” kata Trump kepada wartawan di Palm Beach, Florida, saat berbicara bersama Abe. Tanpa memerinci maksud pernyataannya tersebut.

Sementara PM Abe menyebut peluncuran rudal Korut sebagai “benar-benar tak bisa ditoleransi”. Abe juga menegaskan Korut harus mematuhi resolusi Dewan Keamanan PBB.

NATO Mengutuk Uji Rudal Korut

Sementara itu, NATO mengutuk uji coba rudal oleh Korut. Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Jens Stoltenberg dalam sebuah pernyataan, dia mengatakan Korut “harus menahan diri dari provokasi lebih lanjut, menghentikan semua peluncuran rudal dengan menggunakan teknologi rudal balistik dan meninggalkan sama sekali semua program rudal balistik…”

Kementerian luar negeri Prancis juga mengutuk peluncuran rudal tersebut. “Prancis menegaskan kembali solidaritas dengan mitranya di Asia-Pasifik yang keamanannya terancam oleh program nuklir dan balistik Korea Utara,” kata pejabat Kemenlu Prancis.

Cina merupakan sekutu utama Korut, tetapi negara itu telah dibuat frustrasi oleh provokasi-provokasi Pyongyang, Cina mendapat tekanan dari Washington untuk mengendalikan Seoul dan mengekang pemimpin muda Korut Kim Jong Un.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari kementerian luar negeri Cina.

Ada kemungkinan pemerintahan Donald Trump dan para pembantunya akan melakukan serangkaian tekanan atas Korut, termasuk sanksi baru AS untuk memperketat kontrol keuangan, peningkatan aset angkatan laut dan udara di dalam dan sekitar semenanjung Korea dan mempercepat instalasi sistem pertahanan rudal baru di Korea Selatan.

Namun demikian, mengingat bahwa rudal itu diyakini bukan ICBM, yang mengancam AS langsung, respon apapun akan diusahakan tidak menyulut ketegangan.

Menurut Kantor Pejabat di Korsel, rudal balistik Korut diluncurkan dari sebuah daerah yang disebut Panghyon di wilayah barat Korea Utara sebelum pukul 08:00 (23.00 GMT Sabtu) dan meluncur sejauh kira-kira 500 kilometer.

Sebuah sumber militer Korsel mengatakan rudal itu mencapai ketinggian sekitar 550 kilmeter. Sementara, pihak Seoul awalnya mengatakan rudal tersebut tergolong jarak menengah, yang dirancang untuk meluncur sekitar 3.000 – 4.000 kilometer.

Korut Utara berusaha melakukan peluncuran 8 rudal Musudan pada tahun lalu, tapi hanya satu yang dianggap oleh AS dan Korsel yang sukses diluncurkan (berjarak sekitar 400 km).

Presiden Korut Kim Jong Un mengatakan dalam pidato Tahun Barunya, bahwa negara itu akan  meluncurkan uji coba ICBM. Menurut media negara tersebut, peluncuran tersebut bisa datang setiap saat.

Setelah sepenuhnya dikembangkan, ICBM Korut bisa mengancam daratan Amerika yang berjarak sekitar 9.000 kilometer dari Korut. ICBM memiliki daya lincur minimal sekitar 5.500 kilometer, namun ada juga yang dirancang untuk menjelajah sejauh 10.000 kilometer lebih. [ ]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here