Kota Marawi Ingin Dijadikan Provinsi ISIS di Asia Tenggara

0
149
Sejumlah prajurit berdiri di sepanjang jalan utama desa Mapandi saat tentara pemerintah terus menyerang gerilyawan kelompok Maute yang telah mengambil alih sebagian besar Kota Marawi, Filipina, 2 Juni 2017. REUTERS

Nusantara.news, Marawi Pasukan keamanan Filipina hingga saat ini masih disibukkan dengan kelompok Maute (sayap ISIS) yang ingin menguasai kota Marawi Filipina. Hingga Sabtu (3/6) kemarin dilaporkan lebih dari 160 orang, hampir 50 anak di antaranya, diselamatkan dari Marawi. Di hari yang sama, sebanyak 20 warga sipil dan 38 tentara tewas. Otoritas Filipina juga mengklaim bahwa sekitar 120 milisi telah terbunuh.

Pada hari Sabtu, gencatan senjata sempat diberlakukan untuk membiarkan warga sipil mengungsi. Meskipun sesekali pesawat jet tempur Filipina masih menjatuhkan bom di pusat Kota Marawi.

Menguasai kota Marawi di selatan Filipina tampaknya sudah direncanakan kelompok Maute secara matang. Buktinya, sudah lebih dua minggu pasukan keamanan Filipina masih belum juga mampu menguasai situasi. Pasukan Filipina sendiri mengakui tidak mengira akan sesulit ini.

Selain itu, sebagaimana dilaporkan Reuters, pejabat keamanan Filipina menyatakan kelompok Maute telah dibantu oleh milisi asing dari Arab Saudi, Pakistan, Chechnya dan Maroko, selain juga yang sudah terungkap sebelumnya yaitu dari Malaysia, Indonesia, dan Singapura.

Pejabat departemen pertahanan Filipina dan pejabat pemerintah lainnya di kawasan Filipina Selatan mengatakan, ada sejumlah bukti kuat bahwa perebutan kota Marawi adalah rencana yang canggih untuk melibatkan milisi bersenjata dari berbagai kelompok yang mendukung Negara Islam (ISIS) untuk menguasai kota Marawi.

Kehadiran orang asing, yang menurut sumber intelijen bahwa kelompok Maute telah menyelundupkan pejuang dari tempat yang jauh (Arab Saudi, Pakistan, Chechnya dan Maroko) ke Marawi, sangat mengkhawatirkan petugas keamanan Filipina.

Dalam beberapa bulan terakhir, sumber intelijen Filipina dan Indonesia mengatakan, pasukan Isnilon Hapilon (tokoh Abu Sayyap yang dibaiat sebagai pemimpin ISIS di Filipina) telah didukung oleh pejuang asing dan anggota baru di Marawi. “Banyak orang luar datang ke Marawi dengan menggunakan kedok acara doa bersama umat Islam di kota itu pada bulan lalu,” kata juru bicara militer Filipina Letnan Kolonel Jo-Ar Herrera.

Dilaporkan, bahwa Hapilon membawa sekitar 50-100 pejuang untuk bergabung dengan 250-300 orang kelompok Maute, sementara dua kelompok lainnya, Pejuang Kebebasan Islam Bangsamoro dan Ansar Al-Khilafah Filipina, secara bersama-sama membawa setidaknya 40 orang militan.

Pada tanggal 23 Mei atau empat hari menjelang bulan puasa Ramadhan, kelompok ini melancarkan serangan saat pasukan pemerintah Filipina melakukan upaya yang gagal untuk menangkap Hapilon di kota Marawi.

Setelah militer Filipina mundur, sekitar 400 milisi bersenjata dengan cepat menyebar ke seluruh kota, mereka mengendarai truk yang dipasangi senapan mesin kaliber 50 milimeter dan dipersenjatai granat berpeluncur roket serta senapan. Dalam beberapa jam, mereka lalu menyerang penjara dan kantor polisi terdekat, menyita senjata dan amunisi.

Pemerintah beberapa negara di Asia Tenggara juga ikut khawatir tentang apa yang terjadi di Marawi, apalagi ketika terbukti bahwa milisi itu ada yang berasal dari pejuang di sejumlah negara yang telah akrab dengan perang. Kembalinya sejumlah jihadis dari Timur Tengah saja sudah membuat khawatir pihak keamanan di negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Indonesia, apalagi jika kawasan Asia Tenggara sudah menjadi arena yang menarik bagi jihadis dari negara-negara lain seperti yang terjadi di Marawi.

“Jika kita tidak melakukan apa-apa, mereka mendapat pijakan di wilayah ini (Asia Tenggara),” kata Hishammuddin Hussein, menteri pertahanan Malaysia, sebagaimana dilansir Reuters Sabtu, (4/6).

Pejabat pertahanan dan militer di Filipina mengatakan bahwa keempat kelompok negara pro-Negara Islam tersebut mengirimkan para pejuang ke Marawi dengan tujuan menjadikan kota tersebut sebagai wilayat atau provinsi bagi Negara Islam (ISIS) di Asia Tenggara yang akan dipimpin seorang gubernur.

Oleh karena itu, upaya perebutan kota oleh Kelompok Maute dan sekutu-sekutunya di pulau Mindanao itu adalah peringatan bahwa Negara Islam (ISIS) sedang berupaya membangun basis di Asia Tenggara dan membawa taktik yang brutal seperti halnya terlihat di Irak dan Suriah dalam beberapa tahun terakhir, ke wilayah tersebut.

Lebih dari 12 hari kota Marawi di Filipina bagian selatan berkecamuk. Pertempuran terjadi hanya beberapa bulan setelah pasukan keamanan Filipina menyerang sarang Isnilon Hapilon di sebuah gunung di Filipina selatan, Hapilon adalah seorang pemimpin lama Abu Sayyaf, atau Father of the Sword, kelompok militan Islam yang dikenal dunia karena aksi penculikan dengan tebusan yang berkali-kali dilakukannya.

Kelompok ini telah bersumpah setia kepada ISIS sejak tahun 2014, dan dengan cepat mengajak kelompok lain untuk bergabung. Kelompok yang paling mendominasi di antara mereka adalah Maute, yang digerakkan oleh dua bersaudara, Omar dan Abdullah Maute dari keluarga terpandang di kota Marawi.

Dalam video yang muncul bulan Juni tahun lalu, seorang pemimpin kelompok yang berbasis di Suriah mendesak pengikut di wilayah tersebut untuk bergabung dengan Hapilon jika mereka tidak dapat melakukan perjalanan ke Timur Tengah. Hapilon baru diangkat sebagai pemimpin ISIS di Asia Tenggara pada tahun lalu. Militer Filipina mengklaim bahwa Hapilon kemungkinan terluka dalam penggerebekan itu, namun berhasil lolos ke kota Marawi, dimana dia akhirnya bergabung dengan kelompok Maute.

Sebuah pernyataan di media sosial yang mengklaim sebagai pejuang Maute, kelompok tersebut ingin membersihkan Marawi dari orang Kristen, Muslim Syiah, dan orang-orang musyrik. Kelompok ini juga ingin melarang perjudian, karaoke dan prostitusi.

Negara-negara di kawasan Asia Tenggara sudah seharusnya membangun kerja sama untuk menangkal pergerakan kelompok ini karena sudah menargetkan Asia Tenggara sebagai salah satu cabang ISIS. Jika di Filipina mereka gagal, mungkin saja mereka bakal bergerak ke negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia, Thailand atau Indonesia. Dan yang terpenting dari peristiwa Marawi ini, jika benar tujuannya untuk membangun “gubernuran” ISIS di Asia Tenggara, berarti jaringan atau partisipan ISIS di seluruh Asia Tenggara akan terpanggil untuk terlibat dalam upaya bersama mewujudkan tujuan itu. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here