KPK Datang, Setnov Menghilang?

0
315

Nusantara.news, Jakarta – KPK akhirnya menjemput paksa Ketua umum DPP Golkar yang juga Ketua DPR Setya Novanto alias Setnov sebagai tersangka kasus e-KTP . Sejumlah aparat KPK yang dipimpin penyidik senior Ambarita Damanik mendatangi kediaman Setnov di Jalan Wijaya XIII Nomor 19, Melawai, Jakarta Selatan pada Rabu (15/11/2017) malam.

Dari pantauan Nusantara.news, Sekitar pukul 21.40. sekitar enam aparat KPK memasuki rumah Setnov. Di depan rumah Setnov terlihat belasan personel Brimob, sementara di dalam rumah ada sekitar empat petugas Brimob.

Namun, hingga Kamis (16/11/2017) pukul 00.46, KPK mengaku belum menemukan Setnov di dalam kediamannya. Jubir KPK, Febri Diansyah mengungkapkan bahwa sejak penyidik berada di dalam rumah untuk menjemput paksa Setnov hingga saat ini yang bersangkutan tidak terlihat. Penyidik hanya melihat istri Setnov, Deisti Astiani Tagor.

Jika, Setnov memiliki itikad baik, maka, KPK meminta agar Setnov segera menyerahkan diri.

Janji KPK Akan Jemput Paksa Setnov

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Laode M Syarif sudah menegaskan akan menjemput Setnov yang telah tiga kali mangkir dari panggilan penyidik. “Memanggil secara paksa itu diatur kewenangannya dalam perundang-undangan,” tegas Laode di Gedung KPK, Senin (13/11/2017).

Untuk diketahui, pemanggilan secara paksa oleh penyidik terhadap saksi atau tersangka yang mangkir diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Yakni dalam Pasal 112 ayat (1) menyebutkan “Penyidik yang melakukan pemeriksaan, dengan menyebutkan alasan pemanggilan secara jelas, berwenang memanggil tersangka dan saksi yang dianggap perlu untuk diperiksa dengan surat panggilan yang sah dengan memperhatikan tenggang waktu yang wajar antara diterimanya panggilan dan hari seorang itu diharuskan memenuhi panggilan tersebut.”

Dan, pada Pasal 112 ayat (2) menyetakan “Orang yang dipanggil wajib datang kepada penyidik dan jika ia tidak datang, penyidik memanggil sekali lagi, dengan perintah kepada petugas untuk membawa kepadanya.”

Atas dasar itu, kata Laode, penyidik akan menjemput paksa Setnov yang sudah tiga kali mangkir dari panggilan sebagai saksi. Pertama, pada Senin (30/10/2017), Setnov tak hadir dengan alasan sedang mengunjungi konstituen saat reses.

Panggilan kedua, pada Senin (6/11/2017), Setnov kembali tak memenuhi panggilan penyidik dengan alasan harus ada izin tertulis dari presiden.

Dan, pada Senin (13/11/2017), Setnov tetap mangkir dari panggilan penyidik dengan alasan yang sama, yakni harus ada izin tertulis dari Presiden Jokowi.

Pengacara Setnov berdalih, izin tertulis dari presiden untuk memeriksa kliennya sebagai saksi sesuai  putusan MK 76/PUU-XII/2014 bahwa pemanggilan terhadap anggota DPR terkait kasus hukum atau penyidikan harus melalui izin tertulis presiden. Dikatakannya, persetujuan presiden dibutuhkan sebagai bentuk perlindungan baik terhadap anggota DPR, DPD maupun MPR.

Soal putusan MK tersebut, sudah dijelaskan secara terang benderang oleh Jubir MK Fajar Laksono bahwa pemanggilan Setnov sebagai saksi memang harus seizin presiden. Kecuali, Setnov sudah ditetapkan sebagai tersangka, maka izin presiden sudah tidak diperlukan penyidik.

“Kalau SN sebagai saksi, tentunya haris izin tertulis presiden. Kecuali sebagai tersangka itu berbeda,” kata Fajar di Jakarta, Rabu (8/11/2017).

Nah, pada hari ini (15/11/2017), Setnov sebagai tersangka yang kembali dipanggil penyidik KPK tetap mangkir Setnov berdalih sedang memimpin sidang paripurna, namun hingga sidang selesai sekitar pukul 11.00 tetap tidak hadir.

Jubir KPK Febri Diansyah mengaku pihaknya telah menerima surat tentang ketidakhadiran Setnov dari kuasa hukumnya Fredrich Yunadi. Alasan ketidakhadiran Setnov di antaranya soal keharusan izin tertulis Presiden sebagaimana Pasal 245 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17/2014 tentang MD3, memiliki hak imunitas anggota DPR.

Selain itu, uji materi Undang-Undang Nomor 30/2002 tentang KPK di Mahkamah Konstitusi yang tengah diajukan tim kuasa hukum, dan agenda rapat paripurna DPR yang dibuka dan ditutup Setnov. []

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here