KPK Tetapkan Mantan Dirut Garuda Tersangka Korupsi Rp46,76 miliar

0
1091
Ilustrasi

Nusantara.news, Jakarta – Pantas saja, pesawat airbus sekarang banyak dimiliki Garuda dan City Link. Rupanya, di balik proyek pengadaan 50 unit Airbus330  itu terselip fee yang lumayan besar.

Kendati sudah diributkan di Inggris sejak tahun lalu, akhirnya KPK mau membongkar kasus korupsi proyek pengadaan Airbus330 dan mesin pesawat produksi Rolls Royce Inggris.

Dua orang telah ditetapkan KPK sebagai tersangka, masing-masing mantan Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar (ESA) selaku penerima suap dan SS, pendiri PT Mugi Rekso Abadi selaku pihak pemberi suap.

“Tersangka ESA diduga menerima suap dari tersangka SS dalam bentuk uang dan barang,” ujar Wakil Ketua KPK. Laode M Syarif, dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta Kamis (19/1) sore.

Sebagaimana tertulis dalam biodatanya, ESA menjabat Direktur Utama Garuda sejak Maret 2005 dan mengundurkan diri pada Desember 2014.

KPK juga menyebutkan, SS, selaku pendiri PT Mugi Rekso Abadi memberi suap kepada ESA dalam bentuk uang sebesar sekitar Rp20 miliar dan asset senilai Rp 26,76 miliar yang tersebar di Indonesia dan Singapura.

Suap itu terkait proyek pengadaan 50 pesawat Airbus A330 sejak tahun anggaran 2005 hingga 2014.

Kasus itu terungkap, ujar juru bicara KPK Febri Diansyah, setelah pihaknya bekerja sama dengan lembaga antikorupsi Singapura (CPIB/Corrupt Practices Investigation Bureau) dan Inggris (SFO/Serious Fraud Office).

Sebelumnya kasus itu sempat heboh di Inggris saat SFO menemukan patgulipat kejahatan korupsi dan suap oleh Rolls-Royce di Cina, India, dan pasar-pasar lainnya.

Atas temuan SFO itu, Rolls-Royce sudah minta maaf ‘tanpa syarat’ atas kasus-kasus yang terjadi dalam rentang waktu hampir 25 tahun.

Bahkan Pengadilan di Inggris sudah memerintahkan produsen mesin jet itu membayar denda dan biaya sebesar £497 juta (sekitar Rp 8,1 triliun) ke kantor SFO, lembaga yang pernah melakukan penyelidikan terhadap perusahaan ini.

Dan produsen mesin jet terbesar dari Inggris, Rolls-Royce, sudah menyatakan akan membayar denda sebesar £671 juta (atau sekitar Rp11 triliun) untuk menyelesaikan kasus-kasus korupsi dengan otoritas Inggris dan Amerika Serikat, termasuk dengan Indonesia.

ESA sendiri tampaknya menutup diri setelah ditetapkan sebagai tersangka.

Sedangkan Vice President Corporate Communication Garuda Indonesia Benny S Butarbutar, dalam siaran persnya, Kamis (19/01/2017) yang diterima nusantara.news menyebut . kasus dugaan korupsi itu bukan tindakan korporasi. “Itu tindakan perseorangan,” kelit Benny.

Menurut Benny, perusahaan publik memiliki mekanisme dalam seluruh aktivitas bisnisnya, mulai dari penerapan sistem GCG yang diterapkan secara ketat, hingga transparansi dalam informasinya. “Kami, manajemen Garuda menyerahkan sepenuhnya tindakan hukum itu kepada KPK,” tandas Benny.

Benny berharap, kasus ini tidak memberikan dampak buruk kepada Garuda yang mendapat reputasi baik di internasional..

“Kasus ini sifatnya pribadi. Kami sangat berterima kasih, manajemen kasus ini juga disampaikan dengan baik,” tambahnya.

Paska penetapan tersangka, penyidik KPK bergerak sigap dengan menggeledah sejumlah tempat untuk mengembangkan kasus dugaan korupsi ini, di antaranya dengan memeriksa kediaman mantan Dirut Garuda Indonesia, ESA, di Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Selain menggeledah rumah ESA, KPK  juga menggeledah rumah SS di Cilandak Barat, Jakarta Selatan, dan sejumlah kantornya di Jakarta []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here