Dampak serbuan baja impor asal China (1)

Krakatau Steel Terpojok di Rumah Sendiri

0
312
Impor baja asal China di Indonesia sudah mencapai 59% dari volume impor nasional. Ini jelas membuat produsen baja nasional terpojok di rumah sendiri.

Nusantara.news, Jakarta – Apa yang salah dengan bangsa ini, Badan Usaha Miliki Negara (BUMN) di bidang produksi besi baja, yakni PT Krakatau Steel Tbk (KS) harus terpojok oleh serbuan baja impor asal China. Pembangunan infrastruktur harusnya membesarkan KS, faktanya justru membuat posisi KS terpojok di rumah sendiri.

Itulah nasib yang dialami KS, produsen besi baja ini seperti terlunta-lunta di tengah gegap gempitanya pembangunan inffrastruktur nasional. Bahkan KS seperti gigit jari, begitu mudahnya izin impor baja diberikan dalam jumlah super besar kepada produsen baja asal China. KS bernasib sama dengan sekitar 50-an produsen baja nasional.

Paling tidak hal itu terungkap dari Komisaris KS Roy Maningkas. Iamemandang bahwa pasar baja domestik masih mengalami tekanan yang diakibatkan oleh membanjirnya produk impor. Hal tersebut terlihat dari adanya peningkatan volume impor baja paduan dari China sebesar 59% pada kuartal pertama 2018 dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Prosentase itu dipastikan meningkat hingga kuartal III 2018.

Mengutip International Trade Administration (ITA) Indonesia memang adalah net importir untuk komoditas baja. Sejak 2009, tingkat impor baja Indonesia mulai berada dalam tren menanjak. Antara 2009 dan 2017, impor Indonesia sudah meningkat 102%.

Di periode yang sama, defisit perdagangan baja Indonesia melebar, dari semula 4,2 juta metrik ton, menjadi 9 juta metrik ton, atau meningkat 97%.

Produk baja flat merupakan jenis yang paling banyak diimpor oleh Indonesia yakni sebanyak 4,9 juta metrik ton pada 2017, dengan kontribusi sebesar 43% dari total impor baja.

Setelah baja flat, baja setengah jadi berada di posisi kedua (4,1 juta metrik ton), lalu produk panjang/long (1,5 juta metrik ton), dan produk pipa dan tabung (473 ribu metrik ton).

Baja asal China menjadi baja yang paling banyak diimpor oleh Indonesia, yakni mencapai 3,1 juta metrik ton. Catatan itu diikuti oleh Jepang (2,1 juta metrik ton), Korea Selatan (1,4 juta ton), dan Rusia (0,97 juta metrik ton). Tapi peran volume impor China sampai kuartal I/2018 sudah meliputi 59% dari total impor baja nasional.

Khusus pada 2017, volume impor mencapai 11,4 juta metrik ton atau turun 9% dibandingkan dengan 2016 sebesar 12,5 juta metrik ton.

Roy mengatakan bahwa peningkatan impor baja China tersebut hanya terjadi pada Indonesia sementara di negara ASEAN lainnya hal tersebut tidak terjadi.

“Impor baja paduan RRT di negara ASEAN mengalami penurunan volume impor yang cukup signifikan karena saat ini RRT melakukan pemangkasan kapasitas produksi,” demikian papar Roy.

Produk baja impor tersebut diduga sebagian besar masuk ke pasar Indonesia dengan cara unfair trade yang salah satunya adalah dengan penyalahgunaan kategori pos tarif baja paduan. Roy berkesimpulan hal tersebut terjadi setelah perhelatan acara “2018 SEAISI Conference & Exhibition” yang berlangsung di Jakarta pada 25-28 Juni 2018 yang lalu.

Terjadinya peningkatan volume impor baja paduan merupakan suatu indikasi bahwa masih terjadi praktik circumvention yang dilakukan eksportir China. Selain itu, kebijakan pemerintah untuk menghapus ketentuan pertimbangan teknis melalui Permendag No. 22/2018 juga berdampak pada industri baja dalam negeri karena saat ini semakin mudah untuk melakukan impor baja.

Peningkatan impor dari China tersebut didominasi oleh produk baja hot rolled coil, plate, cold rolled coil, section, dan wire rod.

Roy mengambil contoh pada produk section dan plate di mana terjadi penurunan volume impor baja paduan di semua negara ASEAN, kecuali Indonesia dan Malaysia. Dalam kasus Malaysia dapat dipahami bahwa kebutuhan negara tersebut atas produk baja impor memang tinggi dikarenakan salah satu produsen domestiknya sudah berhenti beroperasi sejak Agustus 2016. Namun untuk Indonesia, di mana banyak produsen domestik beroperasi, kenaikan volume impor menjadi sebuah pertanyaan.

Karena itu perlu dilakukan evaluasi kebijakan pemerintah terkait ketentuan impor baja, apakah sudah tepat atau masih memerlukan perbaikan. [bersambung]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here