Krisis Al Aqsa Seharusnya Jadi Momentum Palestina Merdeka

0
89
Warga Palestina mengangkat tangan berdiri di samping Gerbang Hutta, salah satu jalur masuk ke Tanah Suci (Temple Mount) di Kota Tua Yerusalem, Kamis (27/7). ANTARA FOTO/REUTERS/Muammar Awad/cfo/17

Nusantara.news – Konflik Palestina-Israel sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu, setidaknya sejak 1967, jika dihitung dari peristiwa perang 6 hari agresi Israel, atau jika ditarik lagi ke belakang bahkan sejak tahun 1940-an ketika Inggris ditunjuk dunia internasional sebagai penjaga Yerusalem. Sejak itu, agresi Israel terhadap Palestina berlangsung terus menerus sampai saat ini.

Berbagai perundingan telah dilakukan, baik yang bersifat bilateral hingga konferensi tingkat tinggi, bahkan sampai bendera Palestina dikibarkan di PBB masih belum juga dapat menghentikan penindasan Israel terhadap rakyat Palestina.

Sejak Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) resmi berdiri pada Mei 1964, kemerdekaan negara Palestina sudah diupayakan dan dinanti-nantikan, namun faktanya hingga sekarang kemerdekaan itu tak kunjung tiba. Komitmen solusi dua negara bukan semakin menguat tapi malah melemah. Apalagi setelah presiden Amerika Serikat Donald Trump yang konservatif itu menyatakan menarik diri dari solusi dua negara di awal pemerintahannya.

Jelas, sikap Trump adalah senjata bagi Israel yang selama ini merasa terpojok oleh opini dunia internasional. Dilaporkan Politico, konon Partai Likud-nya Benjamin Netanyahu, PM Israel saat ini secara strategis sedang menyiapkan diri untuk mundur dari komitmen solusi dua negara, hal yang pada awalnya didukung Netanyahu sendiri. Sehingga kelihatan semua hanyalah pura-pura belaka. Kemerdekaan Palestina akhirnya semakin jauh dari harapan.

Dalam situasi seperti ini, di sinilah pentingnya momentum krisis Al Aqsha yang bermula dari penutupan tempat ibadah itu untuk pelaksanaan salat Jumat pada 14 Juli lalu, setelah dua polisi Israel ditembak mati oleh tiga orang Arab-Israel yang kemudian juga tewas, di kompleks Haram Al Sharif atau Temple Mount dimana masjid Al Aqsa dan kubah batu berada.

Setelah keputusan penutupan masjid yang secara sembrono dilakukan Netanyahu itu, rakyat Palestina menggunakan kesempatan itu untuk melawan. Mereka berdemo berhari-hari di depan kompleks suci itu, dari dipersilakan masuk melewati metal detector, bahkan sampai alat pendeteksi logam itu dibongkar tentara Israel sendiri, rakyat Palestina tetap bergeming, menolak masuk ke masjid Al Aqsa. Karena memang bukan sekadar alat pemeriksa itu masalahnya. Mereka memilih salat di luar, sambil menuntut kemerdekaan mereka, menolak upaya penguasaan Israel atas kompleks Al Aqsa. Bila perlu bentrok dengan aparat pun dilakukan sehingga memicu korban, maka tak kurang dari 20 jiwa bergelimpangan.

Inilah yang lalu memancing respon dunia internasional. Langkah Netanyahu menutup Al Aqsa pun dikritik secara keras oleh lawan-lawan politiknya, termasuk mantan PM Israel Ehud Barak sebagai tindakan yang tidak sensitif terhadap dunia Arab dan Islam. Seperti di ketahui, Al Aqsa adalah garis merah bagi negara-negara Arab-Muslim, sedikit saja diganggu keberadaannya maka kebencian menyeruak terhadap Israel.

Kasus itu sekarang tengah dibawa ke Dewan Keamanan (DK) PBB. Semua negara anggota tetap DK PBB awalnya sepakat memberikan sanksi terhadap Israel, tapi AS kemudian mengeluarkan veto atas sanksi tersebut.

Ada sebuah peribahasa Arab yang mengatakan, bahwa “mungkin hanya orang gila yang melempar batu ke dalam sumur, tapi dengan begitu justru membuat seratus orang bijak mengeluarkan batu itu”.

Peribahasa ini mungkin tepat untuk menggambarkan krisis Al Aqsa yang tengah terjadi saat ini. Sebuah sikap ngotot Muslim Palestina untuk tidak memasuki masjid Al Aqsa, bahkan setelah Israel membongkar metal detector-nya sekalipun. Sikap yang mungkin dianggap konyol bagi Israel, tapi justru dengan begitu telah memberi kekuatan bagi warga Palestina untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun memimpin sebuah “negosiasi” jalanan atas kemerdekaan Palestina.

Kekuatan itu berasal dari keputusan sederhana, yaitu untuk tidak salat sementara di Haram Al Sharif pada saat orang-orang Israel berupaya mengubah status quo di kawasan ini dengan melakukan pembatasan-pembatasan baru seperti pemasangan metal detector pada pintu masuk situs suci tersebut.

Berdoa di luar masjid adalah pernyataan protes kepada Israel yang terbukti ampuh menolak keinginan Israel untuk memberlakukan kebebasan beribadah di kompleks Haram Al Sharif kepada para pengikut semua agama yang ditolak keras Muslim Palestina.

Keputusan menutup Al Aqsa, pada akhirnya dianggap lebih sebagai kesalahan perhitungan Benjamin Netanyahu dan para koleganya di sayap kanan yang diperburuk oleh fakta bahwa Netanyahu turut memberikan dukungannya dalam upaya menjadikan situs tersebut sebagai tempat ibadah bersama bagi semua agama.

Kolumnis Israel terkemuka, sebagaimana dilansir jordantimes, Nahum Barnea mengatakan pada Yedioth Ahronoth, media Israel pada 25 Juli lalu, bahwa cara Netanyahu menangani kejadian di sekitar Al Aqsa itu justru melemahkan posisi Israel.

Yoram Halevy, kepala polisi Yerusalem dan Menteri Pendidikan Israel Naftali Bennet semua mendukung pengamanan gerbang elektronik di masjid Al Aqsha, berbeda dengan kepala dinas intelijen Israel dan kepala Tentara Israel, mereka bertentangan dengan kebijakan itu karena mereka tahu akan dampaknya bagi Israel.

Kini keputusan menutup Al Aqsa itu terlanjur bergulir menjadi isu yang lebih besar tentang ambisi Israel menguasai tempat suci itu, yang telah mengundang kecaman dunia internasional kecuali Amerika.

Orang-orang Palestina di Yerusalem dengan berani dan tanpa kekerasan, memilih  berdoa di luar gerbang masjid, untuk mengirim pesan yang kuat kepada pemerintah Israel dan dunia tentang kesia-siaan negara itu membuat keputusan menutup Al Aqsha tanpa pembicaraan dengan pihak Palestina. International Crisis Group melaporkan para pemimpin perjuangan Palestina terlibat dalam semua keputusan yang diambil terkait krisis Al Aqsa.

Keputusan rakyat Palestina yang dengan sukarela berdoa di trotoar, bukan di dalam masjid  adalah taktik brilian yang membawa dukungan luas berbagai pihak. Dalam sebuah rekaman video yang viral, bahkan seorang Kristen Palestina yang membawa bendera dan sebuah Alkitab tampak sedang ikut berdoa bersama saudara-saudara Muslimnya.

Menemukan momentum

Rakyat Palestina seolah menemukan momentum kembali, dalam krisis Al Aqsa, untuk meneriakkan tuntutan soal kemerdekaannya sebagai sebuah negara, yang sebelumnya telah didukung dunia internasional, termasuk PBB.

Negara-negara lain, lebih-lebih negara Muslim termasuk Indonesia, hendaknya turut ambil bagian dalam momentum tersebut, untuk mendorong proses strategis agar segera terciptanya kemerdekaan Palestina. Karena jika tidak, momentum yang entah berlangsung sampai kapan itu, akan menguap begitu saja. Israel lalu akan kembali mengulang perilakunya, menginjak-injak hak kemerdekaan warga Palestina.

Tentu saja belum cukup, Indonesia melalui wakilnya di PBB, Husnan Bey Fananie, pasca peristiwa 14 Juli itu menyatakan dukungan untuk rakyat Palestina dan menuntut agar Palestina diberikan kebebasan hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan untuk mendirikan sebuah negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Belum cukup, Presiden Joko Widodo berpidato meminta negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) agar segera mengadakan pertemuan khusus membahas masalah Palestina dan Israel.

Belum cukup, sekadar mengeluarkan pernyataan kecaman dan kecaman. Sebab itulah yang sudah dilakukan semenjak dulu.

Harus ada langkah lebih konkret untuk menggalang secara serius kekuatan negara-negara lain, terutama Islam, apalagi Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, untuk menuntut kemerdekaan Palestina. Apalagi Palestina punya keterikatan sejarah yang panjang dengan Indonesia, termasuk sebagai salah satu pendukung kemerdekaan Indonesia sebelum negara-negara Arab lainnya. Dan saat inilah momentumnya.

Baca: Al Aqsha, Kita Malu

Seperti pepatah Arab, “dibutuhkan sekelompok besar orang untuk bisa membalikkan keputusan yang telah salah perhitungan”. Inilah yang terjadi dengan krisis Al Aqsa akibat keputusan Netanyahu yang sembrono. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here