Krisis Diplomasi Qatar: dari Uang Tebusan hingga Peretasan oleh Rusia

0
117
Foto: AP

Nusantara.news – Krisis diplomasi Qatar dengan negara-negara Teluk Arab lainnya masih terus berlangsung. Belum ada titik terang ke arah penyelesaian, kendati Kuwait yang netral sudah menjalin komunikasi dengan Jeddah, pionir dalam pemutusan hubungan diplomatik dengan Qatar pada Senin (5/6) lalu.

Berbagai isu merebak ihwal penyebab kemarahan Saudi yang menyebabkan pemutusan hubungan diplomatik tersebut, mulai dari masalah uang tebusan yang dibayarkan untuk kelompok teroris dalam kasus penculikan keluarga kerajaan Desember 2015 lalu, hingga munculnya berita dari kantor berita Qatar, Qatar News Agency (QNA) soal pujian emir Qatar terhadap Iran dan kritiknya terhadap AS.

Entah yang mana, sebagai sebab pemicu pemutusan hubungan diplomasi yang belum pernah terjadi dalam sejarah Dewan Kerja sama Teluk (GCC) itu sebelumnya. Bisa jadi, isu-isu itu juga hanyalah penyebab atau “trigger” kecil belaka untuk menguatkan alasan bagi Arab Saudi dan negara teluk lain seperti Uni Emirat Arab (UEA), untuk menghukum ‘si bad boy’ atau anak nakal di kawasan Teluk Arab ini”: Qatar.

Qatar memang dianggap negara kecil namun kaya raya di kawasan teluk yang dianggap selalu “membandel” di antara negara-negara lain di kawasan ini. Qatar yang meskipun secara formal menerima ideologi Wahabi sebagai bentuk “kepatuhan”-nya terhadap Saudi, tapi tidak sepenuhnya menerapkannya dalam kehidupan politik dan kenegaraan. Qatar adalah di antara negara-negara teluk yang paling berani mendukung demokrasi, hal yang ditakuti rezim Saudi karena bertentangan dengan sistem monarki yang dianut. Qatar juga menerima kelompok atau individu berpaham pembaharu seperti Ikhwanul Muslimin atau Hammas serta tokoh seperti Yusuf Qaradhawi, yang oleh negaranya dianggap sebagai teroris.

Kehidupan masyarakat di Qatar juga bergerak lebih modern dan terbuka. Berbeda dengan Saudi yang masih melarang misalnya perempuan mengendarai kendaraan atau bekerja, atau tidak mengenakan hijab. Qatar misalnya memiliki stasiun televisi internasional Al Jazeera, yang selain banyak menyuarakan demokrasi, juga menampilkan perempuan tanpa hijab sebagai pembawa acara. Secara budaya, Qatar lebih terbuka dengan budaya luar.

Di luar soal ideologi keagamaan, Qatar juga dianggap bermasalah dengan Saudi dalam hal kerja sama bisnis. Qatar membuka kerja sama bisnis dengan Iran, yang jelas-jelas musuh bebuyutan Arab Saudi, bahkan juga membuka perdagangan dengan Israel. Apalagi Qatar merupakan negara kecil dengan cadangan gas cair (LNG) terbesar dan cadangan minyak terbesar ketiga di dunia. Salah satu ladang gas terbesar milik Qatar berada di perbatasan dengan Iran, inilah yang membuat mereka juga akhirnya bekerja sama, saling tukar informasi, teknologi dan lain sebagainya.

Kedatangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 25 Mei lalu ke Riyadh dalam Konferensi Arab-Amerika-Islam, seperti kibasan angin bagi Arab Saudi dan negara-negara teluk lainnya yang selama ini sudah menyimpan bara kekesalan terhadap Qatar. Trump dalam pertemuan tersebut menyatakan, tidak menoleransi negara yang mendanai terorisme. Dan kontan saja, seluruh pandangan mata negara-negara Teluk tertuju ke Qatar.

Sehari setelah Arab Saudi dan negara pengikutnya memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, Trump mencuit di akun Twitter-nya, dan mengatakan keputusan tersebut telah melunasi hasil kunjungannya ke Riyadh dua minggu yang lalu, dan Trump berharap bahwa “isolasi” terhadap Qatar akan menjadi awal bagi berakhirnya terorisme. Bisa jadi, isu soal uang tebusan terhadap terorisme dan dukungan dukungan lain terhadap kelompok yang dianggap teroris oleh Qatar, hanyalah “kembang-kembang” belaka yang sengaja dibesar-besarkan agar “penghukuman” terhadap Qatar menjadi lebih kuat dan berdasar.

Buktinya, Saudi tetap tak bergeming ketika pemerintah Qatar menyatakan bahwa pernyataan Emir Qatar yang tersebar di media adalah bentuk hacking, dan informasi terakhir intelijen AS FBI menemukan temuan bahwa Rusia yang melakukannya.

Uang tebusan untuk teroris

Sebagaimana diberitakan Financial Times Qatar telah membayar tebusan sebesar USD 1 miliar kepada kelompok teroris di perbatasan Irak Selatan untuk menjamin pembebasan bagi anggota keluarga kerajaan yang diculik saat sedang wisata berburu. Diduga penculik adalah milisi Syiah yang memiliki hubungan dekat dengan Teheran dan anggota kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaeda Tahrir al-Sham.

Negara-negara Teluk marah atas tebusan yang dibayarkan pada bulan April lalu itu. Sebanyak 26 orang kelompok pemburu dengan elang diculik pada bulan Desember 2015 saat memasuki wilayah selatan Irak, 11 orang diantaranya adalah anggota keluarga penguasa Qatar al-Thani.

Seorang pejabat dari salah satu negara teluk yang tidak disebut namanya mengatakan kepada Financial Times bahwa Qatar telah menghabiskan sekitar satu miliar dolar untuk “kesepakatan gila”. Apa yang dilakukan Qatar dianggap telah menciptakan ketidakstabilan di seluruh kawasan teluk.

Sebuah lembaga peneliti terorisme berbasis di New York Counter Extremism Project (CEP) sebagaimana dilaporkan news.com.au, Rabu (7/6) merilis dua laporan terperinci yang menjelaskan sejauh mana Qatar melindungi dan membiayai ekstremis dan teroris.

Dalam laporan terakhirnya, berjudul “Qatar: Extremism and Counter-Extremism and Qatar, Money and Terror” CEP mengatakan bahwa Qatar memberikan dukungan finansial dan material kepada kelompok yang dicap teroris oleh dunia internasional, khususnya AS seperti Hamas dan Front Nusra.

CEP mengatakan, “Qatar dengan sengaja mengizinkan para pemimpin dan pemodal internasional yang ditunjuk atau diinginkan untuk beroperasi di dalam perbatasannya, dan dengan demikian membuat keamanan regional dan internasional tergerogoti.”

“Pemerintah Qatar telah memberikan dukungan kepada al-Qaeda di Semenanjung Arab, Hamas, Ikhwanul Muslimin, Front Nusra, dan Taliban, melalui pinjaman uang langsung, pembayaran tebusan, dan pengiriman pasokan,” kata CEP.

Kenyataannya, memang Kepala Biro Hukum Hamas Khaled Meshaal tinggal di Qatar, dan Sheik Yusuf Al-Qaradawi juga tinggal di Qatar, meskipun otoritas Qatar punya alasan berbeda dengan mengizinkan mereka tinggal di negaranya.

Qatar, lagi-lagi menurut CEP juga saat ini menyimpan setidaknya 12 orang yang dianggap berbahaya, termasuk dua tokoh yang disebutkan tadi.

“Meskipun orang-orang ini telah diberi sanksi oleh AS atau PBB secara terbuka, atau tunduk pada surat penangkapan INTERPOL, mereka dapat hidup dengan kekebalan hukum, dan dalam beberapa kasus, dalam kemewahan, di Qatar,” terang CEP.

CEP juga mengatakan Qatar berkewajiban menghentikan pendanaan teror sebagai penandatangan Komunike Jeddah-Qatari tahun 2014 dan meminta negara itu untuk menangkap, mengeluarkan, atau memotong dukungan kepada orang-orang yang diberi sanksi di negara tersebut.

Peretasan oleh Rusia

Pejabat intelijen AS percaya bahwa hacker Rusia telah membuat “cerita palsu” yang menyebabkan Arab Saudi dan beberapa sekutu memutuskan hubungan dengan Qatar, menurut CNN.

FBI mengunjungi Qatar pada akhir Mei lalu untuk menganalisis dugaan pelanggaran cyber yang membuat para peretas menempatkan berita palsu tersebut di kantor berita negara Qatar. Arab Saudi kemudian mengutip “berita palsu” tersebut sebagai alasan untuk melembagakan blokade diplomatik dan ekonomi terhadap Qatar.

Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani mengatakan kepada CNN bahwa FBI telah mengonfirmasi peretasan dan penanaman berita palsu tersebut.

“Apa pun yang telah dilontarkan sebagai tuduhan semua didasarkan pada informasi yang keliru dan kami berpikir bahwa keseluruhan krisis didasarkan pada kesalahan informasi,” katanya kepada CNN, Rabu (7/6).

Jika pun memang Qatar benar, bahwa Saudi telah termakan berita palsu sebagai dasar “penghukuman” terhadap Qatar, tampaknya bukan alasan yang cukup bagi Arab Saudi untuk memperbaiki lagi hubungan diplomatik di antara mereka. Sebab, seperti yang sudah disinggung di atas, alasan itu hanyalah pemicu kecil yang mungkin dibuat-buat. Masalah besarnya, adalah Qatar sebagai “si anak nakal” telah mengancam Arab Saudi baik secara ideologi keagamaan, budaya, maupun ekonomi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here