Krisis Diplomatik Qatar, Trump dan Efeknya ke Indonesia

0
175
Raja Salman dan Presiden AS Donald Trump saat kunjungan Presiden AS ke Arab Saudi

Nusantara.news, Jakarta – Aksi pemutusan hubungan diplomatik terhadap Qatar makin meluas. Kalau sebelumnya hanya Arab Saudi, Uni Emirate Arab, Bahrain dan Mesir, kini giliran Yaman, Libya, dan Maladewa. Krisis diplomatik itu membuat rencana Qatar mengimpor 24.000 TKI untuk membangun lapangan sepak bola untuk kepentingan Piala Dunia yang berlangsung di Qatar tahun 2022 terancam batal.

Ketujuh negara–dan mungkin dalam waktu dekat akan bertambah—seolah memberi label yang sama terhadap Qatar, yakni memberikan dukungan kepada Iran yang adalah musuh regional Saudi.  Saudi juga menuduh Qatar mendukung militan-militan islamis semisal Hamas dan Ikhwanul Muslimin.

Tentu saja peristiwa yang serba mendadak dan eskalatif ini telah membuat situasi Timur Tengah memanas. Karena selain memutuskan hubungan diplomatik, ketujuh negara juga menarik duta besarnya di Qatar dan meminta duta besar Qatar segera kembali ke negeranya.

Tidak hanya itu, ketujuh negara juga memutus jalur udara dengan melarang Qatar Airways mendarat di bandara mereka, sebaliknya ketujuh negara itu juga melarang perusahaan penerbangan mereka mendarat di Qatar. Semakin sempurna ketika ketujuh negara juga menutup jalur darat dan laut dari dan ke Qatar.

Efek Trump

Pengamat hukum Universitas Indonesia Heru Susetyo berpendapat, peristiwa pemutusan hubungan diplomatik tehadap Qatar agak aneh. Begitu cepat dan serentak, seperti ada dirigen yang mengatur. Sehingga dia menilai ini tidak orisinil, melainkan ada yang mengatur.

Peristiwa ini dekat sekali dengan kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Arab Saudi. Jadi seperti ada komando. Jadi semacam efek Trump. Seolah setelah dikomandoi Donald Trump, ketujuh negara ramai-ramai memutuskan hubungan diplomatik.

“Saya merasa agak lebay, sebuah pemutusan hubungan diplomatik yang serentak dan cepat,” kata dia di Jakarta, Rabu (7/6/2017).

Dalam sebuah pemutusan hubungan diplomatik, kata Heru, biasanya melibatkan dua negara secara bilateral. Prosesnya pun bertahap, seperti saling menarik duta besar, beberapa hari kemudian pelarangan terbang industri penerbangan di masing-masing negara. Tahap selanjutnya pelarangan melewati negara masing-masing.

Peristiwa pemutusan diplomatik terhadap Qatar, berjalan serentak, cepat dan massif. Keanehan ini bisa terjadi karena pengaruh Amerika, khususnya efek dari Donald Trump.

Entah apa yang dikatakan Trump kepada ketujuh kepala negara tersebut, yang pasti outputnya adalah panarikan hubungan diplomatik dengan gincu alasan Qatar mendukung Iran, Hamas dan Ikhwanul Muslimin.

Saat mengumumkan keputusan memutuskan hubungan diplomatik itu, Saudi menuduh Qatar memberikan dukungan kepada Iran yang adalah musuh regional Saudi.  Saudi juga menuduh Qatar mendukung militan-militan islamis.

Washington sesungguhnya punya banyak alasan untuk mempromosikan sikap saling hormat di kawasan itu. Salah satunya, karena Qatar menjadi tempat pangkalan udara terbesar AS di Timur Tengah di Al Udeid. Dari sinilah, serangan-serangan udara AS dilancarkan terhadap ISIS yang menguasai sebagian wilayah Irak dan Suriah.

Presiden AS Donald Trump sendiri meletakkan penghancuran ISIS pada prioritas tertinggi pemerintahannya.

Atau apakah “provokasi” pemutusan hubungan itu dilatari kesediaan Qatar menerima organisasi-organisasi seperti Hamas dan Ikhwanul Muslimin, plus mendukung Iran, yang disebut AS kelompok teroris dan Taliban yang sedang diperangi AS di Afghanistan selama 15 tahun?

Efek ke Indonesia

Lepas dari persoalan-persoalan di atas, tentu saja Qatar memiliki hubungan yang dekat dengan ekonomi Indonesia, setidaknya dapat dilihat dari beberapa indikator berikut ini.

Pertama, rontoknya indeks saham dunia. Terutama saham Qatar terperosok 7,6%, dilanjutkan jatuhnya saham terbesar di Asia MSCI sebesar 0,2%. Saham Australia anjlok 0,9%, Indeks Dow Jones turun 0,10%, Nasdaq turun 0,14%. Sementara IHSG pagi ini dibuka memerah 0,7%. Walaupun hari ini ditutup menguat tipis di level 5.744,01.

Ketidakstabilan Qatar telah telah menyebabkan ketidakstabilan saham global, termasuk saham Asia dan Indonesia.

Kedua, penyesuaian harga minyak di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi tidak stabil. Pemerintah masih menginginkan asumsi harga minyak di APBN di level US$45 per barel, namun DPR minta dinaikkan karena trend kenaikan harga minyak menyusul dampak psikologis krisis diplomatik Qatar.

Jika kondisi Timur Tengah makin memanas, maka produksi terganggu, sehingga harga minyak terkatrol. Sebelum pecah krisis Qatar, harga minyak masih di level US$47,09 per barel. Begitu pecah krisis Qatar, harga minyak naik ke level US$49,50.

Ketiga, dampak penghentian jalur penerbangan dari dan ke Qatar, ternyata juga berdampak terhadap jamaah haji dan umroh yang biasa menggunakan Qatar Airways. Pengamat penerbangan Gerry Soejatman menilai, keputusan satu maskapai elit Timur Tengah itu akan berimbas kepada jemaah umrah asal Indonesia.

Qatar Airways terbang tiga kali sehari Jakarta-Doha dan sebagian besar adalah penumpang untuk umrah. Bisa dibayangkan berapa orang yang kena dampak dari penghentian line Qatar Airways ke Arab Saudi.

Untung saja Qatar Airways sangat baik hati, menyediakan fasilitas refund atau pengembalian dana tiket yang dibatalkan tersebut. Tentu saja hal ini akan merugikan Qatar Airways yang memiliki 177 pesawat dengan tujuan 150 destinasi. Dengan asumsi satu tiket Jakarta-Doha seharga Rp13 juta, maka untuk kelas ekonomi 300-400 penumpang terjadi pembatalan tiket seharga Rp5,2 miliar per pesawat.

Jakarta-Doha terdapat tiga kali penerbangan dalam sehari, maka Qatar Airways kehilangan Rp15,6 miliar per hari. Dalam setahun Qatar Airways Jakarta-Doha akan kehilangan kue bisnis Rp5,69 triliun hanya dari Indonesia. Dengan 150 destinasi, maka dapat diukur kerugian Qatar Airways dalam setahun mencapai Rp854 triliun. Hal ini pasti berdampak pada 40.000 pramugari dan pilot Qatar Airways.

Keempat, Qatar yang telah ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 oleh FIFA, telah memulai pembangunan infrastruktur beberapa lapangan bola standar internasional senilai US$10 miliar atau ekuivalen dengan Rp133,05 triliun.

Kabarnya Indonesia akan menjadi partner Qatar dalam pembangunan dengan menerbangkan 24.000 TKI ke negeri produsen gas terbesar itu. Bahkan sempat ada usulan, Indonesia berpotensi menggantikan Qatar sebagai tuan rumah menggantikan Qatar.

Bisa tergambar betapa besar dampak lanjutan secara ekonomi dari krisis diplomatik Qatar dengan tujuh negara di Timur Tengah.

Karena itu, Indonesia dan beberapa negara yang dianggap sebagai muslim yang moderat bisa berperan menyatukan kembali dan memulihkan hubungan diplomatik itu, maka akan banyak kepentingan ekonomi yang bisa diselamatkan. []

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here