Krisis Global dan Kebijakan Ekonomi Nasional (1)

0
686

Pengantar redaksi: Tulisan Prof. Iwan Jaya Azis ini telah dipresentasikan di forum Seminar yang bertema Krisis Global dan Kebijakan Ekonomi Nasional, pada tanggal  20 Oktober, 2015 yang diselenggarakan oleh Yayasan Nawa Cita Institute. Redaksi menilai tema dan pokok-pokok pemikiran yang disampaikan Prof. Iwan Jaya Aziz masih relevan dengan kondisi saat ini, dan karena  itu, Nusantara.News menerbitkan makalahnya.

Kondisi Global: Dari “GM” ke “GI” ke “GR”

Pada periode 1987‐2007, ekonomi dunia menikmati “Great Moderation”  (GM) di mana kondisi “fundamental” , baik pertumbuhan stabil, sektor keuangan menjadi “raja,” tumbuh lebih cepat dari sektor ril, tidak fluktuatif, produtifitas naik, dan inflasi rendah. Kebijakan deregulasi dominan pada masa ini. Di sisi lain, permintaan AS & negara maju banyak diisi impor khususnya dari Tiongkok, memperbesar “Global Imbalances” (GI).

Sejak awal 2000an, tingkat bunga di negara maju berfluktuasi sebelum turun tajam mendekati 0% sejak 2006  sampai sekarang. Tahun 2007, ekonomi terbesar dunia (AS) “runtuh” melalui kehancuran pasar sub‐prime, yang kemudian diikuti oleh “Great Recession” (GR) dan krisis global tahun 2008‐9.

Pengertian “fundamental” menyesatkan, karena sektor keuangan mempunyai perilaku berbeda dengan sektor ril,  bisa memberikan sinyal salah dan beresiko tinggi.  Fenomena GI berperan membalik GM menjadi GR.

Reaksi Kebijakan Yang Berdampak Global

Ketergantungan pada pasar modal menyebabkan AS dan Eropa “terpaksa” melakukan quantitative easing (QE). Akibatnya:

  1. Kondisi moneter menjadi super longgar;
  2. Neraca bank sentral membesar dan menurun kualitasnya,  sesuatu yang tidak mungkin bisa berlangsung selamanya;
  3. Banyak modal keluar dari negara maju masuk ke emerging markets (EM) dan Asia termasuk Indonesia

Untuk mengantisipasi, dan mengingat keterkaitan ekonomi dunia yang makin tinggi, diperlukan kewaspadaan melalui kebijakan khusus dan kerjasama global/regional. Ketika QE tapering dan normalisasi kebijakan di AS mulai,  arus modal berbalik, berpotensi megguncang ekonomi EM

Kebijakan moneter super longgar di negara maju berdampak besar pada likuiditas dan kestabilan ekonomi dunia dan nasional. Tanpa kebijakan antisipatif dan aktif membuat aturan global/regional  yang menguntungkan bagi kita, EM dan Asia rentan terhadap pembalikan modal.

Kondisi Regional: Kebangkitan Tiongkok dan Arus Modal

Kondisi ekonomi dunia yang baik sebelum 2007  membantu perekonomian Asia dan ASEAN. Pertumbuhan kawasan dan perubahan yang cepat sejak 2000 terjadi bersamaan dengan kebangkitan ekonomi Tiongkok. Kestabilan ekonomi & politik dan rencana MEA  memperkuat reputasi Asia dan ASEAN untuk menarik investor asing

Di bidang perdagangan: production network dan global value  chain menaikkan perdagangan antar negara kawasan. Sementara di sektor keuangan: likuiditas berlimpah karena excess saving ditambah dengan arus masuk modal dan pinjaman asing. Perdagangan antar‐negara di Asia naik meskipun perdagangan dunia turun. Indonesia “diuntungkan” melalui permintaan eksternal, arus masuk modal dan pinjaman murah

Ambisi Dan Perlambatan Ekonomi Tiongkok

Kebangkitan ekonomi dan ambisi geopolitik Tiongkok mendorong agresifitas mereka melalui institusi dan dana  (AIIB, BRIC, RCEP, serta rencana “One Belt One Road” atau OBOR).

Ketika efek investasi Tiongkok besar‐besaran selama ini berhadapan dengan kelesuan ekonomi dunia sejak 2008,  ekonomi mereka mengalami kelebihan kapasitas sehingga tekanan deflasi membesar, menurunkan keuntungan perusahaan dan daya beli masyarakat, dan menaikkan risiko kebangkrutan perusahaan terutama yang berutang banyak.

Bersamaan dengan kenaikan upah buruh yang tak terhindar, ini semua memaksa mereka (termasuk SME nya)  menjangkau pasar luar negeri termasuk Indonesia. Bila proses transisi di Tiongkok tidak terkelola baik, perlambatan ekonomi mereka bukan hanya akan berlanjut,  tapi bisa lebih dalam, dengan segala konsekuensinya.

Oleh karena itu, sangat penting memperhitungkan perkembangan regional  dan membaca peluang serta risikonya bagi Indonesia. []

Prof. Iwan Jaya Azis SE, M.SC, Ph.D

Guru Besar di Cornell University, Ithaca, New York dan Universitas Indonesia. Menulis dan menerbitkan sejumlah topik tentang ekonomi keuangan, economic modeling, dan hubungan antara kebijakan keuangan makro dan isu-isu sosial. Iwan J Azis banyak melakukan penelitian dan bekerja untuk berbagai organisasi dan universitas internasional seperti ADB, Bank Dunia, PBB, Food Policy Research Institute International, US Agency for International Development, Kementerian Perdagangan dan Industri Jepang, Bank Indonesia, Harvard University, Universitas Columbia, dll.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here