Krisis Global dan Kebijakan Ekonomi Nasional (2 habis)

0
339

Pengantar redaksi: Tulisan Prof. Iwan Jaya Azis ini telah dipresentasikan di forum Seminar yang bertema Krisis Global dan Kebijakan Ekonomi Nasional, pada tanggal  20 Oktober, 2015 yang diselenggarakan oleh Yayasan Nawa Cita Institute. Redaksi menilai tema dan pokok-pokok pemikiran yang disampaikan Prof Iwan Jaya Aziz masih relevan dengan kondisi saat ini, dan karena  itu, Nusantara.News menerbitkan makalahnya.

Kondisi Nasional: Kegagalan Diversifikasi dan Implikasinya

Fluktuasi ekonomi Indonesia mengikuti harga komoditas: boom 2003‐2008, lalu menukik ke bawah setelah 2011  bersamaan dengan perlambatan ekonomi Tiongkok. Akibatnya, terjadi “ketidak wajaran” pola pembangunan dimana kontribusi sektor primer dalam ekspor membesar dan manufaktur mengecil, termasuk kontribusinya dalam PDB. Ini menandai kegagalan diversifikasi sehingga ketergantungan pada impor tetap tinggi.

Meskipun sempat ber “pesta” dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, neraca berjalan menjadi defisit,  penggunaan sumber alam berlebihan, unsustainable dan tidak efisien. Di sisi lain, daya saing juga cenderung turun.

Dengan demikian, “Pesta” sebelum 2011 yang bergantung pada pertumbuan Tiongkok menimbulkan “premature de‐industrialization, ”unsustainable dan memperkuat ketergantungan pada impor.

Hal Yang Kurang Diwaspadai

Pergerakan arus modal yang lebih karena kebijakan super‐ longgar dan QE di negara maju (push factor), bukan karena kebijakan domestik (pull factor), masuk melalui perbankan,  pasar modal, dan pinjaman perusahaan. Akibatnya, pasar modal membesar, demikian juga utang swasta.

Karena pelaku di pasar modal sedikit, distribusi pendapatan memburuk dan daya cipta lapangan pekerjaan turun. Di samping itu, pertambahan likuiditas terjadi ditengah kondisi tabungan melebihi investasi (excess savings sejak krisis Asia 1997).

Kondisi likuiditas yang berlimpah membuat peri‐laku agen ekonomi makin risk taking: kredit melonjak, bank, lembaga keuangan dan perusahaan aktif berinvestasi di sektor keuangan dan berutang, modal asing banyak ke pasar modal. Kecenderungan ini rentan terhadap “pro‐cyclicality” dan “flow reversal.”

Pertumbuhan kredit dan pasar modal yang memfasilitasi “pesta” kita, menimbulkan kerentanan dan memperburuk distribusi pendapatan. Karena “push factor” lebih berperan,  kebijakan domestik seperti tingkat bunga tidak efektif.

Keadaan Sekarang Mudah Diprediksi Melalui Kombinasi “Mematikan”

Kombinasi 2 hal terjadi pada perekonomian kita, yaitu:  (1) kegagalan diversifikasi dan (2) arus modal masuk yang tidak diwaspadai. Akibatnya: “pesta” berakhir, sementara kerentanan (vulnerability) yang sebenarnya sudah terbangun sejak tahun 2000an terus berlanjut, di samping perlambatan ekonomi dan sektor keuangan yang makin berfluktuasi.  Karena hal ini terjadi meskipun sudah banyak “peringatan,”  maka hanya satu konklusinya: kita lengah dan tidak terkejut dengan kondisi sekarang!

Tidak masuk akal berasumsi bahwa pertumbuhan tinggi ekonomi Tiongkok dan kebijakan super longgar AS akan berlangsung selamanya.  Jadi, kegagalan diversifikasi dan kekurang‐waspadaan terhadap arus masuk modal yang  akhirnya membuat keadaan ekonomi sulit seperti sekarang seharusnya sudah dapat diprediksi.

Apa Selanjutnya?

Untuk meghadapi dan mengantisipasi faktor eksternal diperlukan tindakan pro‐aktif untuk mempengaruhi aturan tentang hubungan dan kerjasama ekonomi global/regional.

Untuk faktor internal beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan adalah:

  1. Jangan terbuai dengan “fundamental  baik”, karena pengertiannya berubah. peri‐laku sektor keuangan bisa membalik keadaan secara mendadak di tengah keterkaitan antar‐negara yang makin besar dan kompleks;
  1. Faktor “non‐fundamental,” khususnya kepercayaan pasar dan masyarakat, sulit di kelola tapi mudah dibuat negatif karena informasi makin banyak dan cepat penyebarannya, dan masyarakat makin mengerti.

Di hampir semua episode krisis, pernyataan kondisi “fundamental baik” sering tidak sesuai dengan kenyataan karena indikator yang berubah. Untuk faktor “non-fundamental,” hindari penyampaian informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan, tidak jelas, kontradiktif, dan bertentangan antar pembuat kebijakan.

Prioritas, Prioritas, Prioritas

Penguatan daya beli masyarakat terutama yang  berpendapatan menengah ke bawah, merupakan strategi yang bisa menjadi pertahanan. Dia juga berdampak pada pemerataan dan kemiskinan (sesuai jiwa Nawa Cita).

Dalam keadaan seperti sekarang, hindari semua kebijakan termasuk di bidang makro yang mempunyai dampak negatif pada daya beli!

Upaya menstabilkan sektor keuangan termasuk nilai tukar dan kebijakan menstimulasi pertumbuhan perlu dikaitkan dengan prioritas tersebut, bukan untuk pencapaian target kestabilan dan pertumbuhan per‐se.

Diperlukan pengertian mendalam tentang mekanisme dan keterkaitan antara kebijakan makro dan indikator daya beli,  pemerataan, dan kemiskinan. Pilihan kebijakan apapun sebaiknya didasarkan pada keterkaitan ini. []

Prof. Iwan Jaya Azis SE, M.SC, Ph.D

Guru Besar di Cornell University, Ithaca, New York dan Universitas Indonesia. Menulis dan menerbitkan sejumlah topik tentang ekonomi keuangan, economic modeling, dan hubungan antara kebijakan keuangan makro dan isu-isu sosial. Iwan J Azis banyak melakukan penelitian dan bekerja untuk berbagai organisasi dan universitas internasional seperti ADB, Bank Dunia, PBB, Food Policy Research Institute International, US Agency for International Development, Kementerian Perdagangan dan Industri Jepang, Bank Indonesia, Harvard University, Universitas Columbia, dll.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here