Ktut Tantri, Teman Bule Bung Tomo dalam Pertempuran 10 November

0
474
Tampak Bung Sjahrir sedang berbicara dengan Ktut Tantri.

Nusantara.news, Surabaya – Berawal dari menonton bioskop, wanita ini kemudian menjelajah hingga ke negeri orang. Tetapi di negeri itulah, dia lantas berjuang mati-matian. Bersama Bung Tomo, dia meneriakkan kata ‘merdeka’. Dia juga terlibat dalam pertempuran termashur 10 November 1945. Pers menyebutnya “Surabaya Sue”.

Ini adalah kisah seorang perempuan kulit putih yang lima belas tahun lamanya menetap di Indonesia. Dia bukan sekedar berkunjung, tetapi mengenal negeri ini, mengenal rakyatnya, merasakan susah senang bersama mereka.

Ia seorang perempuan berdarah Skotlandia yang hijrah ke Amerika. Namanya Murial Pearson, kelahiran Skotlandia di Isle of Man tahun 1899. Ceritanya, Murial sedang gundah gulana dengan dirinya. Ia pun berjalan-jalan di Hollywood Boulevard. Di depan sebuah bioskop, perempuan ini memutuskan untuk membeli karcis dan menyaksikan sebuah film berjudul, Bali: The Last Paradise.

Sekeluarnya dari bioskop, perempuan itu seperti menemukan hidup. Hanya beberapa menit seusai film itu kelar ditonton, ia sudah punya keputusan bulat: pergi dan menetap di Bali.

Beberapa bulan berselang, dengan mengendarai mobil yang dibelinya di Batavia, ia tiba di Surga Terakhir yang diimpikannya pada awal 1940-an. Ia bersumpah baru akan turun dari mobil hanya ketika mobilnya kehabisan bensin. Dan di sanalah ia berjanji akan tinggal. Mobilnya berhenti persis di depan sebuah istana raja yang ia sangka sebuah pura.

Hati-hati ia masuki istana itu. Perempuan itu akhirnya disambut oleh sang raja. Dan seperti sebuah dongeng, ia diangkat menjadi anaknya yang keempat. Dia kemudian diberi nama Bali, yakni Ktut Tantri.

Perkenalannya dengan dunia politik dimulai dari diskusi-diskusinya yang intens dengan Anak Agung Nura, putra tertua Raja yang mengangkatnya anak. Nura adalah pangeran Bali yang pernah mengecap pendidikan di Leiden dan Universitas Heidelberg di Jerman.

Ketika Jepang mendarat di Bali, Ktut menjadi perhatian para petinggi militer Jepang karena dia warga Amerika. Bali ketika itu dikuasai oleh Kaigun atau Angkatan Laut Jepang, lalu Ktut berpindah ke Surabaya menghindari pimpinan Kaigun Bali. Di sana, ia mulai menjalin kontak dengan sejumlah orang yang bersimpati pada gerakan anti-Jepang.

Di Surabaya yang dikuasai oleh Dai Nippon Teikoku Rikugun (Imperial Japanese Army, IJA) atau Angkatan Darat Kekaisaran Jepang, akhirnya nasib membuat dia ditawan dan dijeboskan dalam tahanan militer Jepang.

Tidak tanggung tanggung, Ktut Tantri disiksa oleh pasukan Kempetai. Berbagai macam siksaan pernah dia alami, dicabut kuku, disetrum, diarak telanjang. Mulai siksaan fisik hingga siksaan mental dia terima. Bahkan teman selnya, seorang wanita Jerman bunuh diri dalam sel, karena tak tahan disiksa.

Berbulan-bulan ia diinterogasi. Ia ditanyai soal aktivitas bawah tanahnya. Bahkan ia nyaris dieksekusi. Sekali waktu ia terkapar nyaris mati. Tetapi ia tetap bungkam. Karena kesehatannya yang anjlok ke titik ternadir, ia pun dikirim ke rumah sakit. Di sanalah ia mendengar kabar diproklamasikannya kemerdekaan.

Aktivitas bawah tanah dan keteguhan sikap untuk tak mangap selama interogasi membuat tentara Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo membebaskannya. Ia diberi pilihan: kembali ke negerinya dengan jaminan pengamanan tentara Indonesia atau bergabung dengan pejuang Indonesia.

Dan Ktut Tantri memilih pilihan kedua. Ia dipercaya untuk mengelola siaran radio perjuangan. Dalam siaran tersebut, Ktut Tantri menyeru berbahasa Inggris untuk menyeru kepada negera-negara lain akan kemerdekaan Indonesia. Suaranya mengudara tiap malam. Ketenarannya membikin sebuah faksi tentara Indonesia menculiknya dan memintanya untuk siaran di radio gelap yang mereka kelola sebelum kemudian anak buah Bung Tomo berhasil membebaskannya.

Sewaktu pemerintahan Indonesia pindah ke Jogja, Ktut Tantri pun pindah ke Jogja. Di sana ia bekerja pada kantor Menteri Pertahanan yang ketika itu dijabat oleh Amir Syarifuddin. Ia pernah menuliskan pidato Soekarno. Sekali waktu ia menjadi seorang agen spionasi yang berhasil menjebak sekomplotan pengkhianat.

Pergerakan Surabaya Sue

Marabahaya tentu saja merajalela di mana-mana. Dialah satu-satunya perempuan yang berkeliaran di jantung Jogja yang pekat oleh bau mesiu. Ketenaran dan pengorbanannya juga menjadi rebutan faksi-faksi politik.

Sekali waktu ia pernah dibawa diam-diam oleh salah satu kelompok politik yang hendak melakukan rapat rahasia di Solo. Ktut bahkan tak sadar kalau dalam perjalannya menuju Solo ia berada satu mobil dengan Scarlet Pimpernal-nya Indonesia yang legendaris itu, Tan Malaka.

Dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri wartawan dan koresponden dari berbagai kantor berita dan media massa luar negeri, ia dipilih oleh pemerintah untuk mengisahkan bagaimana rakyat begitu bersemangat mendukung perjuangan dan betapa dustanya propaganda Belanda yang menyebutkan bahwa pemerintahan Soekarno-Hatta sama sekali tak didukung rakyatnya. Dari sanalah julukan Surabaya Sue lahir.

Yah, Surabaya Sue, begitulah pers di Singapura, Australia dan di belahan bumi lain mengenal menyebutnya.

Bung Tomo berdiri bersama putri bungsunya, Ratna Sulistami. Sementara Sulistina Sutomo, istri Bung Tomo, tampak duduk bersama K’tut Tantri. Foto ini diambil ketika Tantri berkunjung ke rumah

K’tut Tantri sebenarnya memiliki banyak nama. Selain dikenal Surabaya Sue, dia juga dikenal Modjokerto Molly, Solo Sally, Jogja Jossy, hingga Merdeka Moll.

Julukan itu tersampir di pundaknya karena pilihan sadarnya untuk lebih memilih berjuang membantu rakyat Indonesia yang menginginkan kemerdekaan total.

Selepas proklamasi kemerdekaan Indonesia, Tantri memang bergabung dengan laskar rakyat pimpinan Bung Tomo. Tantri tidak mengangkat senjata namun berjuang lewat siaran radio berbahasa Inggris di Radio Pemberontakan. Dalam siaran-siarannya, Tantri sering mengkritik Inggris karena memakai kedok sekutu untuk membantu Belanda berkuasa kembali di Indonesia.

Nah, di saat K’tut Tantri diperingatkan untuk meninggalkan Surabaya, dia justru memilih bertahan. Dia minta waktu sehari lagi di Surabaya. Dokter pun mengamininya.

Tantri bisa dibilang adalah salah satu perintis hubungan persahabatan Australia dan India. Buklet yang dia terbitkan Sourabaya Sue’s Inside Story of Indonesia yang diterbitkan di Sidney pada tahun 1947 berhasil memunculkan simpati masyarakat Australia terhadap perjuangan bangsa Indonesia.

Lewat Radio Pemberontakan, siaran yang dilakukan Bung Tomo dan Tantri berhasil mencapai Australia. Dalam salah satu kabar disebutkan bahwa berkat siaran tersebut, sempat terjadi pemogokan buruh pelabuhan Australia yang menolak untuk memuat pasokan ke kapal-kapal militer Belanda yang akan menuju Indonesia.

Diceritakan, perempuan bule anak angkat Raja Bali itu lantas bergegas menemui konsul diplomatik asing yang berada di Surabaya; Denmark, Swiss, Rusia dan Swedia.

“Kuminta mereka agar bersedia membantu mengisi siaran malam itu sebagai protes terhadap pemboman,” tulis Ktut Tantri dalam Revolt In Paradise, cetakan pertama bahasa Indonesia, April 1964.

Ketika di Surabaya pecah pertempuran November yang gila-gilaan dan tak seimbang itu, ia berada di tengah para pejuang Indonesia yang sedang kerasukan semangat kemerdekaan.

Bung Tomo mengenang Tantri di buku Revolusi di Nusa Damai, “Saya tidak akan melupakan detik-detik dikala Tantri dengan tenang mengucapkan pidatonya di muka mikropon, sedangkan bom-bom dan peluru-peluru mortar berjatuhan dengan dahsyatnya di keliling pemancar radio pemberontakan. Dan kemudian dengan tersenyum (dia) menyambut uluran tangan saya sebagai tanda terima kasih kita semua,” sebutnya.

Kesetiaannya yang tanpa karat membuat Ktut dipilih pergi ke Singapura dan Australia untuk melakukan kampanye menggalang solidaritas internasional. Tanpa visa dan paspor, dengan hanya bermodal kapal tua yang dinakhodai seorang Inggris yang frustasi, Ktut berhasil lolos dari blokade kapal laut Belanda.

Sejarah mencatat bahwa pengakuan awal terhadap Negara Indonesia datang dari Pemerintah Mesir dan 7 negara Arab. Tapi sejarah juga mencatat bahwa Ktut Tanri lah yang berjasa ‘menyelundupkan” Abdul Monem utusan Raja Farouk dari Singapura ke Yokya menembus blokade Belanda untuk menyerahkan surat pernyataan tersebut kepada Presiden Soekarno.

Dari Singapura ia pergi ke Australia untuk menggalang dana, melakukan propaganda agar (rakyat) Australia memboikot Belanda. Selama di sana ia berhasil menggalang sebuah demonstrasi mahasiswa di perwakilan pemerintahan Belanda di Australia.

Di Australia Ktut berdemontrasi habis-habisan. Ketika rakyat Indonesia disebut melakukan pemberontakan, Ktut langsung marah. “Minta diterangkan bagaimana pemberontakan Indonesia itu. Saya bisa menceritakan kepada kalian bagaimana mereka hidup?”

Bagi Ktut, pemberontakan adalah kata makian untuk rakyat jelata. Indonesia tidak punya pemberontak. Indonesia hanya mempunyai harapan dan idaman yang sama. “Ada satu perbedaan: orang Australia bebas dan orang Indonesia tidak. Mereka ingin merdeka penuh. Dan mereka mengharapkan bantuan dari Australia. Dengan itu suara mereka bisa didengar dunia,” kata Ktut.

Berkali-kali Ktut ditanya mahasiswa Australia. “Bagaimana caranya kami membantu? Kami mengakui bahwa kemerdekaan adalah semua manusia. Kami akan member bantuan jika ditunjukkan jalan,” tanya mereka kepada Ktut.

“Saya dapat menunjukkan jalan untuk membantu tetanggamu, bangsa Indonesa,” jawab Ktut saat itu.

“Engkau mahasiswa Sydney dapat menyusun suatu demontrasi ke konsulat Belanda. Saudara dapat mengirim kawat kepada Perdana Menteri Australia supaya dapat mengajukan sengeka Indonesia ke PBB.”

Itulah pergerakan yang dilakukan Ktut Tantri. Dia pun menyusun rencana panjang dan pada akhirnya membuahkan hasil. Gerakan protes Ktut dan mahasiswa membawa akibat semakin meluas. Dari India, Perdana Menter Nehru mengajukan tuntutan yang sama. Tidak lama setelah itu PBB memerintahkan Belanda meletakkan senjata di Indonesia, dan persoalan Indonesia dihadapkan di muka PBB.

Pihak Belanda merasa kebakaran jenggot. Seorang pejabat Belanda lantas mendatangi Ktut dan berkata: “Anda harus sadar bahwa Anda hanya diperalat saja oleh orang–orang Indonesia itu. Begitu mereka sudah merdeka, Anda pasti akan mereka lupakan. …..”

Kata-kata ini diucapkan oleh salah satu pengusaha Belanda yang mencoba membujuk supaya Ktut Tanri menghentikan kampanye Indonesia-nya di Australia sembari menawarkan 100.000 gulden.

“Kami bersedia membayar asal nona mau meninggalkan Australia, pergi ke Amerika atau Inggris dan melupakan segalanya mengenai Indonesia. Indonesia bukan persoalanmu. Nona orang asing. Dengan 100.000 gulden, nona bisa hidup mewah atau bisa dipakai untuk membeli hotel di negeri lain.”

Ktut Tantri bersama Soekarno.

Ktut pun menjawab: “Ada 70 juta rakyat Indonesia. Walaupun tua dan yang lain-lain bersedia menyerahkan sejuta gulden kepada setiap orang Indonesia, lelaki-perempuan, aku tidak berniat menjual negeriku yang kedua ini atau mengkhianati perjuangannya dalam mematahkan belenggu penjajahan. Orang Indonesia boleh saja melupakan segala sesuatu mengenai diriku kalau mereka sudah merdeka, mengapa tidak. Aku hanya setetes laut yang menguras semakin besar menuju kebebasan. Bertahun-tahun aku hidup di sana. Aku mengetahui yang baik dan yang buruk.”

“Mengapa seorang wanita kulit putih mau berjuang untuk bangsa yang rendah. Apa yang salah dengan kulit putih sehingga kau lebih menyukai kulit hitam?” tanya orang Belanda  itu.

“Sekarang coba katakan pada saya, apa warna kulit dari Pencipta-Mu?” dan orang Belanda itu pun terdiam.

Tak hanya orang Belanda, Ktut bahkan pernah menyindir presidennya sendiri. Ktut bilang bahwa surat Presiden AS Harry Truman kepada Soekarno adalah sebuah kekonyolan. Mengapa? Kalau Indonesia merdeka tahun 1949, berarti perjuangan yang dilakukannya selama 1945-49 oleh bangsa Indonesia dan juga olehnya buat apa? Ya sia-sia!

Apalagi, Ktut mengenal Soekarno sudah lama. Dia menyebut Soekarno sebagai sosok yang impresif. “Dia pria sangat impresif yang pernah saya temui”, katanya kepada wartawan Indonesia di kediamannya di Sydney awal 1993.

Sebaliknya, Soekarno pun sayang dan kagum kepadanya. “Saudara Ktut ini, adalah orang Amerika kelahiran Inggris. Tetapi dia lebih berjiwa Indonesia dibandingkan berjiwa Inggris atau Amerika. Dia pejuang kemerdekaan Indonesia, dia membela kita, dia melakukan segala-galanya untuk kemerdekaan Indonesia”, teriak Presiden Soekarno di depan ribuan orang dalam sebuah rapat akbar di Malang, Jawa Timur.

Revolt in Paradise

Selepas dari pejuangan, Ktut kemudian menulis sebuah buku. Judulnya Revolt in Paradise (Revolusi di Nusa Damai). Ketika terjemahan Indonesia, buku ini terbit pertama kali pada 1965. Padahal buku ini sudah terbit di tiga belas negara, dari Amerika, Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Norwegia, Swedia, Finlandia, Jepang, Spanyol, Denmark, hingga Cina. Dalam penulisannya buku ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu: Melanglang Buana, Firdaus Yang Hilang, Berjuang Demi Kemerdekaan.

Dalam bukunya itu yang pernah diterjemahkan oleh Gunung Agung, kemudian Gramedia, Ktut secara gamblang menceritakan keadaan romantika perjuangan orang Indonesia, dan dia berada di dalamnya dan dia juga merasa begitu pedih ikut membelanya dan merasakannya. Ktut menuliskan ketakutannya ketika harus melakukan beberapa aksi intelejen, ataupun ketika menerobos blokade Belanda dengan berlayar dari Tegal ke Singapura sampai gerakan yang dia lakukan di Australia.

Buku Revolt in Paradise atau Revolusi Di Nusa Damai yang ditulis oleh Ktut Tantri.

Kisah Ktut Tantri ini menunjukkan bahwa kemerdekaan bangsa ini dahulu diperjuangkan dan didukung oleh banyak orang, yang melihat kemanusiaan melebihi dari yang lain, kemanusiaan yang bisa melampaui dinding etnis, keyakinan ataupun budaya bahkan kebangsaan.

Ktut Tantri hadir untuk mengingatkan orang asing atas penderitaan perjuangan rakyat Indonesia, dan kemudian jasanya itu dilupakan. Di tengah situasi polarisasi dan pengkotakan pada saat ini, kisah KTut Tantri bisa membuat semua orang kembali merenung tentang bagaimana bangsa ini dulu dibangun dan dipertahankan.

Ktut Tantri meninggal pada 27 Juli 1997 di Sidney, Australia dengan perasaan cinta kepada Indonesia tidak pernah luntur. Peti matinya dihiasi bendera Indonesia dengan aksen Bali kuning dan putih. Seperti permintaannya, jasadnya diperabukan. Abu jenazahnya disebarkan di Pantai Bali. Sementara harta peninggalannya disumbangkan ke anak-anak Bali yang kurang mampu.

Masa tua Ktut Tantri dihabiskan di Syney hingga akhir hayatnya.

Kini, Ktut Tantri mungkin sudah tak dikenal. Namanya bahkan tak tercetak dalam satu pun buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah. Kata Ktut, “Aku hanya setetes dari laut yang mengarus semakin besar menuju kebebasan. Orang Indonesia boleh saja melupakan segala sesuatu mengenai diriku. Mengapa tidak?”

Ktut Tantri sudah meramalkan nasibnya yang kelak dilupakan. Sebuah ramalan yang presisi. Dan Ktut Tantri sama sekali tak menyesalinya. Ia hanya menuruti panggilan kata hatinya. Dan hatinya memang ada di Bali, tepatnya di Indonesia. “Sepotong Surga Terakhir” seperti yang dikatakan sebuah film Hollywood yang ia saksikan di sebuah sore yang dingin diguyuri hujan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here