Kualitas TNI Terdepan, Alutsista Terbelakang

0
144

Nusantara.news, Jakarta- Dalam debat capres keempat (30 Maret 2019) lalu, Prabowo dan Jokowi menggambarkan dua situasi ekstrem dan ideal tentang TNI: Prabowo menganggap TNI itu lemah; Jokowi yakin bahwa TNI itu kuat. Pernyataan Prabowo tak sepenuhnya benar dan tak semuanya salah, tergantung konteks yang ingin kita pandang. Begitu pun dengan Jokowi.

Evan Laksmana dari CSIS menilai hal itu adalah retorika politik dari para paslon, bukan analis mendalam soal kesiapan militer yang realistis. "Realitasnya, kekuatan militer kita ada di tengah-tengah, enggak terlalu 'kuat' jika mesti dihadapkan dengan Cina, Jepang, India atau Australia, tapi juga enggak terlalu 'lemah' seolah-olah kita tak punya kekuatan apa-apa," ucapnya.

Jika merujuk hasil survei Global Firepower (GFP), Indonesia memang berada di peringkat 15 sebagai negara dengan kekuatan militer terbaik di dunia, atau terbaik nomor satu di Asia Tenggara. Angka itu didapatkan dari menghitung jumlah personel dan alutsista yang dimiliki Indonesia. Data GFP dipakai kubu Jokowi untuk menyerang balik kubu Prabowo, hendak membuktikan bahwa klaim Prabowo keliru.

Masalahnya, survei GFP yang dipakai kubu Jokowi sering dianggap bermasalah oleh para analis militer. GFP hanya menghitung angka secara kasat mata, tanpa melihat konteks apa yang dihitung. GFP sering menempatkan satu negara yang memiliki 100-an tank usang peninggalan Soviet akan mendapatkan posisi lebih tinggi ketimbang negara yang mempunyai 90 tank modern. Metode statistik yang serba pukul rata itu membuat posisi Indonesia, menurut GFP, bisa lebih tinggi ketimbang Israel.

Apakah adil jika membandingkan tank AMX-13 milik TNI AD, yang pernah dipakai pada Operasi Trikora pada 1960-an, disamakan dengan Tank Merkava milik Israel yang diproduksi tahun 2000-an? Atau, Jet F-35 milik Singapura bikinan tahun 2015 dan F-5 milik Indonesia buatan 1965 yang tetap dihitung sebagai satu jenis jet yang sama?

Evan Laksmana, peneltiti CSIS Indonesia, menyebut kelemahan GFP bukan hanya kualitas data tapi jumlah 55 indikatornya dianggap terlalu banyak. Menurut Evan, secara statistik dan metodologi, survei GFP itu sangat bermasalah. "GFP menurut peneliti-peneliti militer, termasuk saya, memang indeks tidak berguna," katanya dilansir dari Tirto.id.

Secara kapasitas, personal TNI memang diakui terdepan. Mantan Panglima TNI Moeldoko mengklaim TNI memiliki ketahanan, ideologi, dan doktrin mumpuni. TNI sanggup hadapi ancaman itu dengan mudah asalkan tetap bersama rakyat. Jawaban lebih heroik diucapkan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu: "Kita punya 100 juta rakyat. Ada yang berani menyerang 100 juta? Pasti tidak berani."

Bukti keunggulan militer Indonesia juga diakui dunia. Dalam sebuah pertemuan pasukan khusus negara-negara dunia di Vienna, Austria, pasukan elite TNI yaitu Kopassus menduduki peringkat kedua dalam operasi militer strategis yang meliputi intelijen, pergerakan, penyusupan, dan aksi. Sementara tahun lalu, menurut majalah Forbes yang merilis daftar kekuatan militer negara-negara Asia menempatkan Indonesia berada di urutan keempat.

Status bergengsi militer Indonesia di mata dunia lainnya terbukti melalui kepercayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap TNI. Sejak tanggal 8 Januari 1957, TNI terlibat secara aktif dalam pasukan penjaga perdamaian PBB. TNI sudah puluhan kali mengirim Kontingen Garuda (Konga) ke berbagai negara.

Contoh teranyar, kemampuan menembak prajurit TNI bahkan tak terbantahkan lagi. Seperti di ajang Australia Army Skill at Arms Meeting (AASAM), TNI berhasil memborong gelar juara. Kemenangan itu adalah yang ke-12 kalinya secara berturut-turut hingga 2019 ini.

Namun, selain dari sisi kualifikasi personel militer, kekuatan militer juga terlihat dari alat utama sistem persenjataan (alutsista). Sayangnya, kekuatan alutsista militer kita bisa dibilang terbelakang. Sebab itu, sebagaimana kata Panglima TNI Hadi Tjahjanto beberapa waktu lalu, alutsista TNI harus terus diperbarui. “Teknologi senjata Indonesia masih tertinggal 15 tahunan dari negara-negara lain,” ujarnya.

Panglima TNI saat Buka Pameran Alutsista TNI 2018 lalu di Monas

Di ranah darat, misalnya jumlah alutsista Indonesia dilewati dengan selisih yang begitu besar oleh negara tetanggra seperti Vietnam. Vietnam menduduki posisi utama dalam soal alutsista matra angkatan darat dengan memiliki 1.545 tank tempur, 3.150 kendaraan lapis baja, 524 artileri swa-gerak, 2.200 artileri dan 1.100 peluncur roket. Sementara Indonesia, wilayah yang luasnya jauh lebih besar daripada Vietnam, berada di posisi keempat dengan 418 tank tempur, 1.089 kendaraan lapis baja, 37 artileri swa-gerak, 80 artileri dan 86 peluncur roket.

Alutsista di laut dan udara pun kondisinya terbelakang. Menurut data 2018, jumlah kapal perang TNI AL berjumlah 151 unit yang dibuat pada 1960. Begitu pula sebanyak 82 Pesawat Hercules yang sudah ada sejak tahun 1960 dan masih dioperasikan hingga saat ini.

Kepemilikan alutsista TNI lebih tertinggal lagi jika dibandingkan dengan Cina, India, dan AS. Untuk armada udara saja—ancaman nyata dalam dekade ke depan—India memiliki 2.102 pesawat, Cina punya 2.955 pesawat, dan AS 13.762 pesawat. Indonesia? Hanya 441 pesawat. Ini pun didominasi oleh 111 pesawat latih. Sementara jet tempur hanya 39 pesawat.

Untuk kekuatan tempur laut, India memiliki 295 kapal perang, Cina 714 kapal, dan AS punya 415 kapal, yang didominasi oleh kapal induk dan kapal selam. Indonesia? Hanya 221 kapal. Postur alutsista ini berbanding jauh lagi jika membandingkan personel aktif pasukan antara tiga negara tersebut dengan Indonesia. TNI hanya punya 435 ribu tentara aktif, sedangkan India 1,3 juta serdadu, Cina 2,2 juta prajurit, dan AS 1,3 juta personel. 

Ada dua kendala utama yang membuat proses modernisasi TNI dan pertahanan Indonesia dalam kurun waktu 20 tahun ini berjalan lambat. Pertama, Indonesia mengalami krisis ekonomi yang cukup berat (1998). Karena krisis inilah ujungnya berpengaruh pada keuangan negara yang sangat terbatas. Kedua, anggaran di APBN lebih memprioritaskan keperluan lain sehingga TNI mengalah. Keberpihakan anggaran ini sebenarnya sangat terkait dengan polical will pemerintah.

Saat ini, berdasarkan cek data databos.co.id, benar kata Prabowo bahwa anggaran militer kita hanya 0,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB) sementara Singapura sebesar 3,3%. Tentu saja anggaran tersebut amat kecil. Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), anggaran pertahanan Indonesia kita bahkan di bawah Timor Leste, bekas provinsi Indonesia. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019, anggaran Kementerian Pertahanan sebesar Rp 108,4 triliun lebih besar dari APBN 2018, yakni 107,8 triliun.

Anggaran Pertahanan Negara-Negara ASEAN Terhadap PDB

sumber: cek data databoks.co.id

Melihat postur alutsista Indoesia yang tertinggal bahkan dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Singapura, sebaiknya pemerintah dan DPR segera meningkatkan dana untuk alutsista. Terlebih saat ini ada kelonggaran APBN pasca krisis 1998 dan Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) yang mengalami kenaikan.

Di saat bersamaan, komunikasi dengan negara penghasil utama senjata juga harus dilakukan dengan pengawasan yang ketat. Pengawasan dilakukan terutama dalam penunjukkan rekanan yang baik agar tidak membuat kebocoran dan tak sekadar menjadi pasar “besi rongsokan”.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here