Kuliner Anti Korupsi

0
287

Nusantara.news, Surabaya – Andi dan Reza heran. Hanya nasi ditumpangi telur dadar dan tempe, sudah itu diguyur sambal, tapi puluhan orang rela antri.

Itulah sekelumit pemandangan kuliner malam di sebuah jalanan becek, dekat Dharmo Trade Center (DTC) , Wonokromo, Surabaya.   Orang menyebutnya Warung Mak Yeye yang sejak tahun 1982 buka pukul 21.00 dan tutup jam 04.00 pagi.

“Kalau agak sorean sedikit, sekitar jam 10 malam, kita masih kebagian menu serupa dengan lauk ikan Pe,” tutur Agus yang mengantar rombongan kecil kami dari Jakarta. Kami pun menebak-nebak arti ikan Pe, ternyata ikan Pari yang diasapkan.

Gambar terkait

“antrinya yang nggak nahan,”

“Tapi antrinya rek yang nggak nahan. Bisa setengah jam lebih,” timpal Tuji yang sebelum menjadi wartawan nusantara.news adalah kontributor media online asal Jakarta.

Memang, warung yang menempati pelataran sebuah toko elektronik itu hanya mengenal menu sambal dengan lauk wajib telur dadar ditambah tempe. Bila masih kebagian, apalagi anda hobii ikan pari asap menunya bisa dtambah kan Pe.

Pilihan sambel ada dua jenis. Yang hobi pedes, bilang saja pedes. Kalau yang gampang kepedesan minta sambal manis. Makannya pun di tenda-tenda terpal emperan toko.

Tukang minuman dan rokok tentunya ikut kecipratan rejeki dari Mak Yeye, sebab Mak Yeye tidak jual minuman dan rokok. Begitu juga dengan tukang parkir yang omsetnya bisa mencapai Rp400-500 ribu semalam.

Bahan sambelnya sama: cabe rawit merah, tomat, bawang merah, bawang putih dan terasi. Bagi yang gampang kepedesan ditambah gula pasir. Kalau dulu diuleg, kini sambalnya diblender. Tapi dijamin tidak mengurangi cita-rasa.

Untuk nasi dengan lauk telur goreng dan tempe, tentu dengan guyuran sambal, seporsi hanya Rp.10 ribu. Bila tambah menu kan Pe hrganya Rp15 rbu. “Jadi tak ada alasan korupsi supaya bisa makan di warung ini,” tandas Tuji.

Uniknya lagi. Pelayan warung Mak Yeye selalu gadis umur belasan tahun. “Yang generasi pertama mungkin sudah emak-emak,” canda Iman yang tugasnya di nusantara.news kantor Surabaya sebagai tukang riset.

Mahasiswa UIN Surabaya semester akhir yang tidak tamat-tamat itu mengaku kalau kelaparan datang ke sini. Begitu juga dengan Agus selaku desain grafis dan Tuji, serta Catur, Gembos, dan Tikno, wartawan nusantara.news Surabaya yang tidak ikut jalan-jalan malam.

Gambar terkait

Makannya di emperan

“Tapi coba deh. Tanya nama dan alamatnya ke gadis-gadis itu, pasti dicuekin,” timpal Agus yang tampak lahap tanpa kepedesan. Sedangkan Reza, web desain dan Andi, desain grafis, tampak bingung, makanan seperti ini saja kok laris.

Rupanya, setiap pelayan di warung Mak Yeye dibekali standar operasional prosedur (SOP) yang ketat seperti pegawai KPK. Mereka hanya ngobrol seperlunya tentang menu yang dipilih pembeli. Selebihnya mereka akan cuek.

Supaya tidak ada korupsi waktu, keasikan ngobrol atau chatingan seperti yang terlihat di sejumlah warung Tegal di Jakarta yang pelayannya gadis-gasdis bau kencur.

Maka, warung makan Mak Yeye itu kami nobatkan sebagai kuliner anti korupsi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here